PM Perempuan Pertama Jepang, tapi Diragukan Anak Muda
29 November 2025
Sebulan setelah Sanae Takaichi menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang, perempuan muda memberikan pandangan beragam. Ada yang menyambut dengan harapan, tapi sebagian masih meragukan akan adanya perubahan nyata.
Sanae Takaichi menjadi PM perempuan pertama JepangFoto: Kim Kyung-Hoon/Getty Images
Iklan
Generasi muda dari kalangan perempuan menyambut terpilihnya Sanae Takaichi sebagai perdana menteri (PM) perempuan pertama Jepang dengan rasa bangga dan harapan akan perubahan. Namun, sebagian lainnya tetap skeptis apakah langkah ini menjadi tonggak awal kemajuan perempuan dalam politik Jepang.
Ren Ichihara, 24 tahun, pekerja bagian penjualan di Tokyo sekaligus anggota Partai Demokrat Liberal, mengaku terinspirasi oleh Takaichi.
"Saya percaya dia terpilih sebagai perdana menteri karena kemampuannya, setelah menapaki jalan melalui usaha tanpa henti sejak masa saat perempuan masih sulit maju dalam masyarakat," ujarnya.
"Meski kini saya melihat kehadiran perempuan sebagai pengambil keputusan di politik Jepang semakin meningkat, Takaichi telah menjadi sosok panutan yang mendorong saya sebagai seseorang yang bercita-cita menjadi politisi," ujarnya kepada DW.
"Saya senang Jepang akhirnya memiliki perdana menteri perempuan," kata Ayano Suzuki, 27 tahun, pekerja di Prefektur Shizuoka. Ia menambahkan, langkah ini menarik perhatian orang tanpa ketertarikan politik bisa "memberi dampak positif.”
Selain itu, Fumi Nakamura, 27 tahun, karyawan sebuah penerbit berbahasa Inggris, mengatakan bahwa ia memiliki kesan yang baik tentang Takaichi. Menurutnya generasi muda merasa dekat Takaichi secara psikologis.
Sanae Takaichi adalah PM perempuan pertama di lanskap politik Jepang yang secara historis didominasi laki-lakiFoto: Kim Kyung-Hoon/REUTERS
Isu gender mendominasi perdebatan politik
Sementara itu, seorang mahasiswi pascasarjana Jepang berusia 26 tahun di Cina, yang enggan disebutkan namanya, mengaku kecewa atas terpilihnya Sanae Takaichi sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang.
Iklan
"Kaum feminis, termasuk saya, tidak mendukung politisi hanya karena ia perempuan," katanya kepada DW. "Ia mungkin produk dari politik Jepang yang didominasi laki-laki selama puluhan tahun."
Selain itu, Suzuki menilai sebagian besar diskusi tentang pemerintahan baru berfokus pada aspek gender, bukan substansi kebijakan. Misalnya, Takaichi pernah berkata ia tidur "hanya sekitar dua hingga empat jam" dan juga bilang bahwa "tidur itu buruk untuk kulit saya."
Menurut Suzuki, narasi semacam ini "terasa jauh dari esensi politik dan terlalu terikat pada identitasnya sebagai perempuan."
Pariwisata global telah kembali 'pulih' pasca pandemi corona. Orang-orang kembali bepergian, tetapi ke mana? Berikut destinasi wisata terbaik yang bisa jadi pilihanmu.
Foto: Evgeny Karandaev/Zoonar/IMAGO
Belum masuk sepuluh besar
Meski Taj Mahal menarik jutaan wisatawan setiap tahun, India masih berada di posisi ke-20 dengan total 20,6 juta wisatawan internasional, menurut data terbaru dari organisasi pariwisata dunia, UN Tourism di tahun 2024. Belanda dan Hong Kong menyusul di depan India.
Foto: Prakash Singh/AFP/Getty Images
Naik Rangking
Malaysia menempati peringkat ke-17 disusul Portugal pada peringkat ke-16. Posisi ke-15 ada Arab Saudi (gambar: situs arkeologi Al-Hijr). Pada peringkat ke-14 ada Uni Emirat Arab, peringkat ke-13 Austria, peringkat ke-12 Thailand, dan peringkat ke-11 Yunani dengan 36 juta kedatangan internasional.
Foto: Thomas Samson/AFP/Getty Images
Peringkat ke-10: Jepang
Posisi 10 besar dimulai dari Negeri Matahari Terbit. Jepang dengan 25 juta pengunjung pada tahun 2023 dan hampir 37 juta pada tahun 2024. Ini peningkatan hampir 50 persen. Menurut UN Tourism, salah satu alasannya adalah lemahnya mata uang Jepang, yen, yang membuat biaya perjalanan ke Jepang menjadi lebih terjangkau. Tidak heran jika persimpangan jalan di Tokyo selalu ramai.
Foto: Moritz Wolf/imageBROKER/IMAGO
Peringkat ke-9: Jerman
Jerman 'menyalip' Jepang dengan 37,5 juta pengunjung. Ini menunjukkan peningkatan hampir delapan persen dibandingkan tahun sebelumnya. Wisatawan senang berkunjung ke kota-kota indah seperti Heidelberg atau Weimar, acara-acara terkenal seperti Oktoberfest, dan bangunan-bangunan bersejarah seperti Istana Neuschwanstein yang baru saja diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.
Foto: Dirk v. Mallinckrodt/imagebroker/IMAGO
Peringkat ke-8: Britania Raya
Britania Raya berada di posisi ke-8 dalam peringkat tersebut - meskipun angka pastinya untuk tahun 2024 belum tersedia. Menurut perkiraan UN Tourism, Inggris memiliki sekitar 39 juta pengunjung tahun lalu. Kota-kota bersejarah seperti Edinburgh, Oxford dan Cambridge sangat populer di kalangan turis - seperti halnya London dengan Jembatan Westminster, Westminster Abbey dan Big Ben.
Foto: Nadia Isakova/robertharding/IMAGO
Peringkat ke-7: Cina
Cina tidak memiliki statistik pengunjung internasional. Peringkat ke-7 Cina didasarkan pada perkiraan Organisasi Pariwisata Dunia, tetapi tidak didasarkan pada tempat-tempat populer yang kerap dikunjungi wisatawan. Tempat-tempat tujuan wisata populer adalah Kota Terlarang di Beijing, Tentara Terakota di Xi'an dan tentunya Tembok Besar Cina.
Foto: View Stock/IMAGO
Peringkat ke-6: Meksiko
Meksiko mencatat sekitar 45 juta pengunjung di tahun 2024. Angka tersebut 7,4 persen lebih banyak dari tahun sebelumnya. Para turis tertarik ke Mexico City - begitu juga penduduk setempat. Mexico City berpenduduk lebih dari 21 juta orang. Tempat favorit lainnya: pantai dan Chichén Itzá, situs bersejarah dari Peradaban Maya.
Foto: Cavan Images/IMAGO
Peringkat ke-5: Italia
Italia mengungguli Meksiko dengan hampir 58 juta pengunjung di tahun 2024. Meski sebenarnya angkanya menurun. Lima tahun sebelumnya, pengunjungnya mencapai 65 juta orang. Dan kota mana yang ingin kamu kunjungi di Italia? Roma, Milan, Florence, Venesia (foto), Rimini, Bologna, Pisa, Napoli, Genoa, Palermo, atau Verona?
Foto: Straubmeier/picture alliance/nordphoto
Peringkat ke-4: Turki
Dengan lebih dari 60 juta pengunjung, Turki belum berhasil masuk ke posisi 3 besar. Namun, trennya melonjak. Pengunjungnya sepuluh persen lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak heran, karena Istanbul sangat populer. Lebih 15 juta orang tinggal di wilayah metropolitan itu. Wisatawan suka mengunjungi masjid seperti Hagia Sophia, terkadang mencapai hingga 50.000 pengunjung dalam sehari.
Foto: Roman Milert/Zoonar/IMAGO
Peringkat ke-3: Amerika Serikat
Peringkat 3 teratas dimulai dengan AS - dengan 72,4 juta pengunjung internasional. Terdengar banyak, tapi sebenarnya pernah lebih dari itu. Lima tahun sebelumnya, jumlahnya tujuh juta lebih banyak. Apakah penurunan tren ini karena Presiden AS, Donald Trump, yang tidak ramah? Kota besar seperti New York masih populer.
Foto: Evgeny Karandaev/Zoonar/IMAGO
Peringkat ke-2: Spanyol
Spanyol begitu populer. Hampir 94 juta pengunjung dari luar negeri datang ke Spanyol di tahun 2024 - sekitar sepuluh juta lebih banyak dibanding tahun 2019. Tidak heran jika pulau-pulau populer seperti Mallorca, Ibiza, Tenerife, Gran Canaria, semakin ramai - begitu pula pantai-pantai di sekitar Barcelona (foto). Banyak penduduk lokal yang mulai menolak peningkatan pariwisata massal ini.
Foto: Jordi Boixareu/ZUMA Wire/IMAGO
Peringkat pertama: Prancis
Satu-satunya negara yang mencatat tiga digit jumlah kedatangan wisatawan adalah Prancis. Jumlahnya mencapai 102 juta tahun lalu, yang berarti ada sedikit peningkatan sebesar dua persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tidak mengherankan jika Paris menjadi sangat populer di samping Marseille, Lyon, dan Cote d'Azur, terutama karena Olimpiade 2024 diselenggarakan di sana.
Foto: Shotshop/IMAGO
12 foto1 | 12
Penerus Shinzo Abe
Dalam pidato kebijakan pertama Sanae Takaichi menegaskan niat untuk melanjutkan strategi mendiang Shinzo Abe, mantan perdana menteri yang memenangkan enam pemilu beruntun lewat agenda nasionalis dan kebijakan ekonomi pro-pertumbuhan.
Takaichi mengulang frasa khas Abe seperti "ekonomi yang kuat” dan "diplomasi Jepang berkembang di pusat dunia.”
Hal itu ditanggapi Sawako Shirahase, profesor di Universitas Tokyo. Ia menilai Takaichi "memanfaatkan sepenuhnya infrastruktur politik era Abe untuk mencapai posisinya.”
Pada 7 November, Takaichi juga menyebut serangan militer Cina ke Taiwan bisa menjadi "situasi yang mengancam kelangsungan hidup” bagi Jepang, yang memungkinkan Tokyo menggunakan hak pembelaan diri kolektif. Pernyataan ini pun memicu reaksi keras dari Beijing.
Membelai, memandikan, membantu bergerak. Di rumah lansia di Jepang, robot semakin mendukung pekerjaan para perawat. Teknik ini mahal, tetapi diterima kaum lansia.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Latihan dengan Pepper
Masyarakat di banyak negara tambah tua. Terutama di Jepang. Menurut perkiraan, tahun 2035 sepertiga warga Jepang sudah berusia 65 tahun atau lebih. Untuk merawat warga senior, sekarang robot-robot digunakan di rumah lansia.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Olah raga menurut contoh dari robot
Di rumah lansia di Tokyo, robot bernama Pepper memimpin latihan fisik. Dengan suara elektronisnya, robot secara sopan memberikan petunjuk, "Kanan, kiri, bagus!" Pepper sudah digunakan di sekitar 500 rumah lansia. Ia bisa memimpin kelompok olah raga dan melakukan perbincangan sederhana.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Bermain dengan Aibo
Di rumah lansia Shin Tomi, robot menggantikan binatang peliharaan, dan bisa diajak bermain oleh para penghuninya. Di sini, seorang perempuan bermain dengan anjing robot Aibo. Di rumah lansia ini, perawat mengunakan 20 model robot. Pemerintah berharap, rumah lansia ini jadi panutan bagi rumah lansia lain, juga di luar negeri.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Mengelus-elus Paro
Ini robot anjing laut. Namanya Paro, dan ia tidak hanya punya bulu-bulu halus. Ia juga mengeluarkan suara senang jika dielus-elus. Pengembangan robot ini perlu 10 tahun, sekarang di seluruh dunia sudah ada 5.000 robot anjing laut, dan 3.000 di antaranya Jepang. Tapi Paro mahal. Di Jepang satu buah harganya 3.800 Dolar.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Kawan yang mahal
Banyak institusi Jepang membiayai ‘teman bermain yang mahal‘ dengan subsidi dari pemerintah. Para senior senang tentang perubahan itu. Paro tidak hanya bereaksi terhadap sentuhan, tetapi juga pada ucapan dan cahaya. Dia kemudian menggerakkan kepalanya, mengedipkan matanya atau melolong seperti anjing laut betulan.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Lebih kuat dengan baju robot
Robot tidak hanya jadi hiburan bagi para manula. Mereka juga harus membantu tugas-tugas pengasuh lansia, termasuk membantu mereka dalam membopong orang-orang tua - seperti yang dilakukan dengan baju robot yang juga disebut "baju otot" ini. Berkat benda ini, lebih mudah bagi pengasuh untuk menggendong orang tua.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Bantuan dalam perawatan sehari-hari
Baju robot membantu pengasuh manula jadi lebih kuiat dalam bekerja. Ini bagus untuk orang tua, karena merasa lebih aman dan tentunya juga lebih baik untuk pengasuh. Mesin-mesin pelapis baju ini mencegah sakit punggung yang disebabkan oleh aktivitas mengangkat atau menggendong pasien.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
Berjalan dengan bantuan robot
Mesin juga membantu manula untuk berjalan lagi, dengan menyediakan keseimbangan dan menunjukkan di mana manula harus meletakkan kaki mereka. Meskipun banyak keuntungannya, pemerintah yakin bahwa biar bagaimana pun mesin tidak dapat menggantikan manusia. Tetapi dengan kekuatan, mobilitas dan pengawasan, para robot ini juga memberikan pengasuh lebih banyak waktu untuk mengerjakan tugas lainnya.
Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
8 foto1 | 8
Takaichi raih suara dari generasi muda
Meski begitu, tingkat pemilih dari generasi muda tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam sejarah Jepang.
Survei yang dilakukan oleh The Mainichi pada 22–23 November menunjukkan bahwa 65% responden yang puas dengan pemerintahan Takaichi, sementara 23% tidak puas.
Dukungan dari generasi muda sangat menonjol, di mana 74% di kalangan usia 18–29 tahun dan 76% di usia 30-an. Ini menegaskan popularitas Takaichi di kelompok muda.
Sebaliknya, pemerintahan Shigeru Ishiba sebelumnya hanya meraih 11% dukungan dari usia 18–29 tahun dan 15% dari usia 30-an.
Shirahase, seorang profesor riset, menilai bahwa perempuan dalam politik harus memiliki strategi.
"Dalam politik Jepang yang didominasi basis konservatif tradisional, perempuan sebagai minoritas perlu bekerja keras tanpa menyinggung laki-laki di atas mereka agar bisa naik jabatan,” kata Shirahase. "Takaichi adalah sosok yang telah menginternalisasi nilai-nilai konservatif.”
Sementara itu, Keiko Kaizuma, Wakil Presiden Bidang Keberagaman di Universitas Iwate, menyebut Takaichi sebagai "perpaduan antara konservatisme dan feminisme.”
"Kelompok konservatif membawa perempuan ke dunia politik untuk memperbarui citra mereka, dan langkah ini melahirkan seorang perdana menteri perempuan,” tambahnya.
Meteor Jatuh di Langit Jepang
00:25
This browser does not support the video element.
Sejauh mana kemajuan perempuan dalam politik Jepang?
Dalam pemilihan majelis tinggi Jepang pada Juli, jumlah perempuan mencakup 29,1% dari 522 kandidat dalam pemilihan majelis tinggi Jepang. Angka ini tertinggi kedua dalam sejarah, meski masih di bawah target 35% yang ditetapkan pemerintah pada 2020.
"Ini penting karena kubu liberal belum mampu mewujudkan cita-cita menghadirkan perdana menteri perempuan,” kata Kaizuma, seraya menekankan bahwa "feminisme dan liberalisme belum berhasil memobilisasi perempuan muda.”
Ia juga menyoroti bahwa, berbeda dengan Eropa dan Amerika, Jepang belum memiliki iklim yang mendorong perempuan muda untuk aktif di politik atau kegiatan sosial.
Kaizuma menambahkan, simbol terobosan terhadap glass ceiling ini sangat kuat karena memberi keberanian kepada perempuan muda untuk percaya bahwa mereka pun bisa mengatasi hambatan tersebut.
Ichihara, yang bercita-cita menjadi politisi, menyatakan ingin "membawa suara perempuan, kaum muda, dan kelompok yang secara historis terpinggirkan ke dalam pengambilan keputusan politik.”
"Saya ingin menjadikan Jepang negara yang memaksimalkan potensi individu, bahkan di tengah penurunan populasi, tanpa membatasi pilihan mereka oleh atribut bawaan yang berada di luar kendali mereka,” katanya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Levie Wardana
Editor: Tezar Aditya