1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Politik Jerman bagi Afghanistan

26 Juni 2008

Sejauh apa pembangunan dan kemajuan yang terjadi di Afghanistan ynag dulu porak poranda?

Steinmeier und Merkel vor Regierungserklärung zu Afghanistan Konferenz
Foto: Ap

Setiap sumur, setiap sekolah dan setiap jalan merupakan sebuah kemenangan. Demikian puji Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier kemajuan pembangunan di Afghanistan. Meskipun tujuh tahun terakhir sejumlah kemajuan telah dicapai oleh Afghanistan, negara itu masih tergantung pada bantuan luar negeri: “Siapa yang kenal Afghanistan, maka ia tahu bahwa pembangunan negara itu memerlukan waktu lama dan untuk jangka panjang akan membutuhkan keamanan militer. Jika keadaan tidak aman, pembangunan sipil tidak akan maju. Dengan kata lain: dimana keamanan tidak dapat dijamin, maka ketakutan akan tumbuh, dan dimana ketakutan tumbuh, harapan akan musnah."


Berbeda dengan persepsi ketua Fraksi Kiri, Oskar Lafontaine. Ia menuduh Steinmeier hanya mengindah-indahkan keadaan: "Jika berbicara tentang sebuah negara, dimana perang masih berlanjut, dimana ribuan warga tewas, bahwa ketakutan bisa mucul kembali - ini menunjukkan, bahwa Anda menolak untuk melihat kenyataan yang sebenarnya. Ini tidak bisa diterima."


Kubu oposisi menuduh Steinmeier menutup-nutupi sebagian masalah dan tidak menjelaskan target pembangunan di Afghanistan. Pendidikan polisi dan tentara Afghanistan berlangsung terlalu lamban. Sejumlah pembicara dari kubu oposisi melihat adanya ketidakselarasan. Di satu pihak pemerintah Jerman menekankan pentingnya pembangunan sipil, namun di pihak lain militer Jerman hendak meningkatkan jumlah tentaranya di Afghanistan hingga 4.500 orang. Sementara jumlah petugas keamanan sipil hanya sebanyak 250 orang, demikian ujar Jürgen Trittin dari Partei Hijau: "Jika Afghanistan masih saja tidak mampu untuk menjamin keamanan negaranya secara militer, perlu kita pertimbangkan, apabila membutuhkan bantuan militer - dan saya tidak mempertentangkan 1.000 tentara tambahan itu - kita langsung menyanggupi. Sedangkan pembangunan sipil dan pendidikan polisi masih membutuhkan waktu cukup lama."


Menurut Andreas Schockenhoff dari Partei Demokrasi Kirsten, Afghanistan masih memerlukan waktu untuk bisa mengambil-alih atas negaranya. Tantangan paling besar yang harus dihadapi pemerintah Afghanistan adalah korupsi, obat bius dan keamanan: “Apakah kita akan mampu untuk mengalihkan tanggung-jawab politik kepada pemerintah Afghanistan di tahun 2013 nanti, kita lihat saja. Pokoknya itu adalah target kita. Itu juga berarti, dalam lima tahun mendatang kita harus meraih sejumlah kemajuan."


Sementara kubu Liberal mencela pemerintah Jerman tidak memberi alasan yang jelas mengapa hendak menambah jumlah tentaranya di Afghanistan sebanyak 1.000 orang. Selain itu, anggota parlemen tidak dijelaskan strategi militer NATO di Afghanistan.