Politik Konfrontasi Terhadap Iran
21 September 2007
Presiden Nicolas Sarkozy didukung menteri luar negerinya Bernard Kouchner menilai, sanksi terhadap Iran yang dijatuhan Dewan Keamanan PBB kurang keras. Respons dukungan terhadap politik baru Perancis langsung muncul di Washington. Harian Perancis Le Figaro yang terbit di Paris dalam tajuknya menulis komentar bernada membela kebijakan Sarkozy : Jika diserang, Iran pasti tidak akan tinggal diam. Teheran akan memulai perang asimetris, dan mengerahkan berbagai kekuatan di kawasan tsb, seperti milisi Syiah di Irak serta Hisbullah di Libanon. Selain itu, pemerintah di Teheran pasti akan menghantam kelompok oposisi di dalam negeri. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana caranya menundukan Iran? Saat ini dampak sanksi PBB amat terbatas. Hanya jika Rusia dan China melakukan langkah bersama, barulah rezim di Teheran akan merasa terancam.
Sementara harian liberal Austria Der Standard yang terbit di Wina menulis komentar cukup kritis terhadap politik baru Perancis terhadap Iran tsb. Dalam tajukan ditulis : Ketidakberdayaan Sarkozy serta kebiasaannya melontarkan pernyataan tanpa dipikir mendalam, justru merugikan citra diplomasi Perancis. Jika tidak segera melakukan koreksi, dalam jangka panjang kepercayaan terhadap pemerintahan Sarkozy akan merosot drastis. Politik pendekatan kepada pemerintahan Bush, sangat sulit dijual kepada rakyat Perancis. Karena itu, untuk mendongkrak citranya Sarkozy tetap menunjuk kesalahan AS dalam perang Irak, keluarnya AS dari protokol Kyoto serta penolakan Washington terhadap mahkamah kejahatan internasional.
Harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma juga mngomentari dengan kritis tema tsb : Menteri luar negeri Perancis, Bernard Kouchner hendak memainkan peranan sebagai juruselamat. Terutama untuk menabuh lonceng tanda bahaya di Eropa, sekaligus mengancam presiden Mahmud Ahmadinejad. Dipertanyakan, apakah ancaman dari AS terhadap Iran tidak cukup? Apakah bagi presiden George W.Bush benar-benar penting, bahwa Eropa harus meningkatkan dosis ancamannya? Masalahnya sebetulnya sudah jelas, bahwa arus untuk memperkeras sanski terhadap Teheran, datangnya dari kalangan yang juga menyarankan invasi ke Irak. Sekarang dimunculkan kembali argumentasi perang preventif, jangan sampai kehilangan waktu dan memberikan banyak kesempatan bagi lawan, serta untuk mencegah kekacauan.
Terakhir harian Italia lainnya Corriere della Sera yang terbit di Milan dalam tajuknya mengomentari politik keras AS terhadap Iran: Kelompok ultrakonservatif di AS masih tetap berharap, presiden Bush menyepakati opsi serangan militer terhadap Iran. Kini dilancarkan perang strategi, baik di kalangan pemerintahan maupun di tatanan publik. Bulan Oktober mendatang, kubu ultrakonservatif akan menggelar rangkaian simposium nasional, untuk membahas tema Irak dan Iran. Sasarannya amat kentara, yakni untuk melontarkan argumentasi baru bagi invasi militer ke Iran.