Politik Perlindungan Iklim Prancis dan Jerman
7 Desember 2007
Harian Prancis DNA yang terbit di Straßburg membandingkan kebijakan perlindungan ilklim di Prancis dan Jerman:
"Bahwa Prancis dan Jerman pada hari yang sama memutuskan kebijakannya menghadapi pencemaran udara yang disebabkan oleh mobil bisa dilihat sebagai simbol yang kuat. Sayangnya, di balik pengumuman kedua negara di tepi Rungai Rhein ini tidak terdapat substansi yang sama. Paris menerapkan aturan yang merugikan mobil-mobil impor silinder besar, aturan yang bisa juga diambil karena masalah pasar domestik. Sedangkan Berlin mau mengaitkan pajak mobil dengan emisi gas CO2 dan tidak lagi berdasarkan kekuatan motor. Perbedaan seperti ini memperlihatkan keburukan Eropa: atas nama politik nasional semua upaya harmonisasi akan di tolak.“
Harian Spanyol El País mengomentari konferensi iklim dunia di Bali sebagai berikut:
"Amerika Serikat pun, yang tidak meratifikasi Perjanjian Kyoto, lambat laun memahami bahwa sekarang saatnya semua harus bertindak. Amerika Serikat adalah pencemar lingkungan nomor satu dunia, dilihat dari nilai absolut maupun relatif. Tapi, agar konferensi iklim di Bali menjadi sukses, tidak hanya Amerika Serikat yang harus dilibatkan. Penatapan target harus lebih ambisius daripada yang di Kyoto. Target itu juga bisa berorientasi pada usul-usul dari Eropa, yang merencanakan reduksi 20 persen emisi gas rumah kaca sampai 2020. Sebaiknya kriteria-kriteria yang di gunakan di Kyoto juga didiskusikan lagi. Sebab menurut aturan saat ini, negara-negara yang dihukum justru adalah negara-negara yang mempunyai taraf emisi rendah.“
Hal lain yang jadi sorotan media di Eropa adalah hubungan Uni Eropa dan Afrika, sehubungan dengan pertemuan tingkat tinggi yang akan berlangsung akhir minggu ini.
Harian Inggris Times menulis:
"Sebelum pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi antara Uni Eropa dan Afrika di Lissabon, para pemimpin Afrika mengeritik Gordon Brown atas keputusannya memboikot KTT itu karena kehadiran Robert Mugabe. Tuan rumah Portugal juga agak kesal, fokus KTT ini adalah soal perdagangan, emigrasi, energi dan pemerintahan yang baik, dan bukan Robert Mugabe. Protes-protes dari Afrika ini absurd. Kehadiran seorang diktator, yang sudah menjerumuskan sebuah negara makmur terpuruk dalam kondisi darurat, kelaparan dan terisolasi, membuat semua pembicaraan untuk sebuah awal baru jadi tidak mungkin. Apa yang dilakukan Mugabe terhadap negerinya, sekarang mengancam pembangungan Afrika. Dan tekad untuk mengakhiri korupsi dan kolusi, menanggulangi inkompetensi ekonomi dan kelicikan politik seperti yang dicanangkan hanya membangkitkan sinisme.“
Harian Swedia Aftonbladet yang terbit di Stockholm berkomentar:
"KTT antara Uni Eropa dan Afrika pada akhir minggu dibayangi konflik tentang kehadiran Presiden Zimbabwe Robert Mugabe. Sedangkan masalah lain yang penting tentang hubungan Uni Eropa - Afrika jadi tergeser ke latar belakang.“