1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Politisasi dan Polarisasi Covid-19 di Brasil

Beatrice Christofaro
31 Maret 2020

Presiden Brasil Jair Bolsonaro selama ini aktif melakukan polarisasi dan penyangkalan terhadap ancaman Covid-19. Strategi itu diyakini mampu menguntungkan posisi politiknya.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro saat konferensi pers perihal wabah Corona di Brasilia, Brasil. 20 Maret 2020
Presiden Brasil Jair Bolsonaro saat konferensi pers perihal wabah Corona di Brasilia, Brasil. 20 Maret 2020Foto: Getty Images/A. Anholete

Kondisi penyebaran Covid-19 di Brasil masih belum jelas, karena selama ini Presiden Jair Bolsonaro membantah ancaman virus corona. Bahkan dia memobilisasi pendukungnya untuk ramai-ramai menggelar pawai dengan mobil di pusat kota untuk menentang tuntutan pembatasan jarak sosial. 

Padahal banyak kepala daerah dan pakar kesehatan memperingatkan ancaman serius bagi penduduk Brasil, jika tidak segera dilakukan penanganan serius denfgan membatasi mobilitas warga dan kegiatan publik. Bahkan Menteri Kesehatan Brasil Luiz Henrique Mandetta menuntut kebijakan isolasi untuk meredam pandemi Covid-19. 

"Bolsonaro dulu berhasil karena menggunakan isu menentang kemapanan," kata Oliver Stuenkel, pakar hubungan internasional di Getulio Vargas Foundation. "Sekarang dia mengarahkan retorika anti kemapanan untuk melawan para gubernur dan ahli kesehatan." 

Minta pendukung ramai-ramai gelar pawai melawan Covid-19 

Pendukung Jair Bolsonaro turun ke jalan menyambut ajakan sang presiden buat menentang kebijakan isolasi sosial di negara bagian Amazonas, 27 Maret 2020.Foto: Reuters/B. Kelly

Sebagian besar gubernur negara bagian mengikuti tren global untuk menutup bisnis yang tidak penting dan memberlakukan isolasi sosial demi memperlambat penyebaran virus corona. Tetapi Bolsonaro justru mendesak pendukungnya untuk turun ke jalan dan menuntut agar kegiatan ekonomi tetap dipertahankan. 

Sejauh ini Kementerian Kesehatan mengonfirmasikan lebih dari 4.000 kasus Covid-19 di Brazil dengan sedikitnya 136 kasus kematian. Tetapi tiada hari, di mana Presiden Jair Bolsonaro tidak membakar semangat pendukungnya untuk menentang dan menyangkal ancaman virus corona

"Kita semua akan mati suatu hari," katanya kepada wartawan pada akhir minggu. Beberapa jam kemudian dia mengunggah video yang menunjukkan dirinya di tengah kerumunan para pekerja. Twitter kemudian menghapus video itu karena dianggap melanggar aturan platform. 

Instagram dan Facebook juga hapus konten Bolsonaro 

Pekan lalu, Bolsonaro juga menerbitkan iklan menentang isolasi sosial dengan slogan "Brasil tidak bisa berhenti." Pengadilan federal kemduian melarang penyebaran kampanye itu di media. 

Facebook dan Instagram hari Senin (30/3) juga menghapus video Presiden Brasil Jair Bolsonaro dengan alasan, video itu menyebarkan informasi yang salah tentang virus corona, 

Warga di Sao Paulo menggelar demonstrasi sunyi pada 26 Maret 2020 buat menentang kebijakan Presiden Jair Bolsonaro terkait wabah Corona dengan memproyeksikan kata-kata bernada protes ke fasad gedung. Sang presiden antara lain disebut "pengecut" dalam aksi tersebut.Foto: Reuters/A. Perobelli

"Kami menghapus konten di Facebook dan Instagram yang melanggar ketentuan penggunaan, yang tidak mengizinkan informasi palsu yang dapat menyebabkan kerugian fisik bagi individu," kata Facebook dalam sebuah pernyataan.

Polarisasi untungkan posisi politik untuk pemilu 2022 

Jair Bolsoinaro saat ini memang sedang berusaha mengamankan posisi politiknya untuk pemilu presiden tahun 2022. Polarisasi yang dilancarkan dimaksudkan untuk memobilisasi kelompok pendukung dan kelompok bisnis. 

"Di atas segalanya, pemilihan adalah tentang isu ekonomi. Dan dia ingin memastikan bahwa pemilih tidak menganggapnya bertanggung jawab atas krisis ekonomi," kata pengamat politik Oliver Stuenkel. 

Tetapi strategi ini juga bisa jadi bumerang, jika kemudian sebagian besar warga membuat Bolsonaro bertanggung jawab atas kematian terkait virus corona. Namun untuk saat ini, bagi Presiden Brasil yang penting adalah tetap memobilisasi kubu pendukungnya. 

"Sangat penting baginya untuk membuat orang terus bergerak sepanjang waktu. Dia butuh polarisasi." Kata Stuenkel. (hp/rzn )
 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya