1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Populasi Jerman Menyusut, Banyak Lansia Sedikit Tenaga Kerja

12 Oktober 2026

Studi terbaru mengungkap Jerman akan memiliki lebih banyak lansia dan lebih sedikit tenaga kerja pada 2045. Namun, sejumlah wilayah diperkirakan akan menyimpang dari tren tersebut. Apa alasannya?

Pemandangan dari ketinggian di Berlin, sebuah alun-alun terbuka yang luas dan kosong serta sebuah air mancur, hanya dua orang yang terlihat
Beberapa wilayah di Jerman akan mengalami penurunan jumlah populasiFoto: Jens Kalaene/dpa/picture alliance

Populasi Jerman diperkirakan akan menurun dari 83,5 juta jiwa pada 2025 menjadi sekitar 81,8 juta jiwa pada 2045, menurut studi terbaru dari Berlin Institute for Population and Development (Berlin-Institut für Bevölkerung und Entwicklung) yang bekerja sama dengan Wüstenrot Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung penelitian tentang perumahan, pembangunan perkotaan, dan perubahan sosial.

Namun, penurunan jumlah penduduk bukanlah tantangan utama. Yang lebih mengkhawatirkan adalah terus meningkatnya jumlah pensiunan, sementara jumlah tenaga kerja terus menyusut. Di seluruh Jerman, populasi usia kerja diperkirakan akan berkurang 4,7% pada 2045.

"Generasi baby boomer sedang memasuki masa pensiun, sementara generasi setelahnya jumlahnya jauh lebih sedikit. Angka kelahiran menurun, dan imigrasi tidak cukup untuk menutupi selisih yang terus membesar antara jumlah kematian dan kelahiran," kata Presiden Berlin Institute for Population and Development, Catherina Hinz, saat mempresentasikan studi itu di Berlin.

Istilah baby boomer merujuk pada mereka yang lahir pada 1960-an, ketika jumlah kelahiran per tahun melebihi 1 juta. Setelah itu, angka kelahiran turun tajam hingga sekitar setengahnya.

Anak Muda Jerman Khawatir Tidak Dapat Pensiun

01:44

This browser does not support the video element.

Ekonomi menjadi faktor penting

Meski populasi Jerman menyusut, studi tersebut menunjukkan bahwa tren ini tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah negara. Dalam beberapa tahun ke depan, daya tarik ekonomi suatu daerah, serta kekuatan finansial yang menyertainya, akan menjadi lebih penting dibanding saat ini.

"Beberapa wilayah akan kehilangan banyak penduduk dan tenaga kerja dalam beberapa tahun mendatang, sementara wilayah lain terus tumbuh. Bahkan di Jerman bagian timur, Jerman bagian selatan, dan daerah pedesaan, kesenjangan demografis dan ekonomi makin melebar," kata Hinz.

"Perubahan demografis sedang terjadi di depan mata kita dan dampaknya sudah dirasakan di seluruh negeri," tambah Hinz. "Dampaknya masih bisa dikurangi, tetapi tidak lagi bisa dihindari, dan makin lama kita menunggu, makin sempit ruang gerak yang kita miliki."

Peringatan Hinz juga sejalan dengan pandangan Frederick Sixtus dari Berlin Institute. Ia mencatat bahwa hampir semua wilayah kini mencatat jumlah kematian yang lebih tinggi daripada kelahiran, akibat rendahnya angka kelahiran selama puluhan tahun. Artinya jelas bahwa migrasi, baik yang masuk maupun keluar, kini menentukan arah perkembangan demografis suatu wilayah.

Dalam beberapa dekade terakhir, imigrasi dari luar negeri berulang kali membantu menstabilkan tren populasi. Namun, migrasi saja tidak lagi cukup untuk menghentikan penuaan masyarakat.

Menurut studi tersebut, ada sejumlah faktor penting agar suatu wilayah tetap menarik bagi pendatang dari luar negeri maupun dari wilayah lain di Jerman, yakni pekerjaan berkualitas dengan gaji serta kondisi kerja yang baik, ketersediaan tenaga terampil bagi perusahaan lokal, kondisi keuangan pemerintah daerah yang kuat, layanan penitipan anak yang memadai, serta infrastruktur transportasi dan mobilitas yang andal.

Berlin jadi magnet bagi penduduk baru

Menurut Manuel Slupina dari Wüstenrot Foundation, banyak kota besar diperkirakan akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan. Studi tersebut memperkirakan Berlin akan menjadi yang terdepan, dengan jumlah penduduk ibu kota meningkat hampir 10% pada 2045. Kota lain yang diperkirakan akan menarik penduduk baru adalah Hamburg, Frankfurt am Main, München, dan Düsseldorf serta Leipzig, Dresden, dan Potsdam.

Para penulis studi menilai bahwa pembagian antara wilayah perkotaan dan pedesaan yang selama ini dikenal tidak berlaku di semua tempat. Kawasan penyangga di sekitar banyak kota besar juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan. Sementara kaum muda semakin tertarik tinggal di pusat-pusat metropolitan, keluarga yang memiliki anak cenderung menetap di daerah sekitarnya.

Adapun wilayah yang kemungkinan kehilangan penduduk mencakup beberapa kota besar di Jerman bagian barat, termasuk Bremen, Duisburg, Dortmund, dan Kaiserslautern, yang daya tarik ekonominya secara bertahap menurun. Pada posisi terbawah dalam peringkat terdapat banyak wilayah berpenduduk jarang, sebagian besar berada di Jerman bagian timur.

Persaingan memperebutkan tenaga kerja

Sebanyak 12 dari 20 distrik dan kota administratif independen dengan peringkat keseluruhan terendah kini berada di Jerman bagian timur, naik dari lima wilayah dalam penilaian sebelumnya pada 2019. Menurut studi tersebut, wilayah-wilayah ini juga diperkirakan mengalami penurunan terbesar pada populasi usia kerja, dengan penurunan hingga 18% pada 2045. Para penulis menyimpulkan bahwa persaingan memperebutkan tenaga kerja akan menjadi salah satu tantangan demografis utama dalam beberapa dekade mendatang.

Dalam persaingan ini, negara bagian Bayern dan Baden-Württemberg di Jerman bagian selatan dianggap memiliki prospek paling kuat.

Bayern mendapat peringkat sangat tinggi berkat ekonominya yang kuat dan berkembang di sebagian besar wilayah negara bagian tersebut, serta pasar tenaga kerja yang kokoh. Perempuan, lansia, dan warga non-Jerman juga lebih banyak bekerja di Bayern dibandingkan wilayah lain. Peringkat tersebut menunjukkan bahwa wilayah yang ekonominya sukses lebih berhasil mengintegrasikan berbagai kelompok masyarakat ke dalam pasar kerja dibandingkan wilayah yang lebih lemah secara ekonomi.

Mencari solusi lokal

Berdasarkan konstitusi Jerman, negara berkewajiban memastikan masyarakat memiliki kesempatan yang setara, serta peluang untuk hidup layak, terlepas dari di mana mereka tinggal.

Para peneliti memberikan rekomendasi yang jelas kepada para pembuat kebijakan. Mereka menilai fokus utama harus diarahkan pada penanganan tantangan struktural dan kesenjangan antarwilayah.

"Apa yang mungkin menjadi solusi tepat bagi kota besar yang terus tumbuh, belum tentu tepat untuk distrik pedesaan yang populasinya menyusut," kata Slupina. Solusi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah diperlukan, tetapi itu membutuhkan kerangka pendukung yang tepat.

"Perlu ada regulasi yang lebih fleksibel, ruang yang lebih besar untuk inisiatif lokal, dan sumber daya keuangan yang lebih besar, terutama bagi pemerintah daerah dan mereka yang aktif bekerja di tingkat lokal."

Pesan Slupina jelas, sejumlah wilayah harus diberi kepercayaan untuk menentukan masa depan mereka sendiri.

Pemerintah daerah tentu akan menyambut gagasan itu. Selama bertahun-tahun, wali kota dan kepala distrik telah meminta otonomi keuangan yang lebih besar. Saat ini mereka menginginkan porsi yang lebih besar dari total penerimaan pajak untuk pemerintah daerah. Namun, pemerintah federal dan pemerintah negara bagian berpendapat bahwa mereka juga menghadapi keterbatasan anggaran.

Meski demikian, kedua pihak sama-sama menyadari bahwa cepat atau lambat, Jerman tidak memiliki banyak pilihan selain mereformasi sistem pembagian keuangan antara pemerintah federal dan daerah.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Hani Anggraini

Editor: Prihardani Purba

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait