1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Populisme Erdogan vs Fethullah Gulen

18 Juli 2016

Pengaruh dua tokoh populis memperuncing polarisasi dalam masyarakat Turki. Pemerintahan Erdogan berhasil memukul gerakan makar kalangan militer, tapi perpecahan malah bisa makin dalam. Oleh Budy Sugandi.

Bildkombo Fethullah Gülen / Tayyip Erdogan
Foto: picture-alliance/Zaman/AA/B. Ozkan

Tahun pertama kuliah di Turki Saya tinggal di rumah bersama jamaah Hizmet Gulen. Setelah itu saya tinggal di Ogrenci Yurdu/asrama pemerintah. Komunikasi saya tetap baik dengan jamaah Gulen, terutama dengan abi-abi (orang asli Turki) penghuni rumah. Saya berusaha menyediakan waktu khusus untuk bertemu sambil “ngecay” (minum teh Turki -red) bersama.

Namun beberapa orang memang ada yang tidak suka dengan apa yang saya lakukan. Tidak apa. Pada dasarnya saya sudah membaca situasi dan memprediksikan “pergerakan jamaah” di Turki yang menurut saya kurang sehat. Antara jamaah satu dengan yang lain terlihat ada gap besar. Ketika A tahu dia dari kelompok jamaah ini, maka B seakan-akan menghindar.

Padahal jika ditelisik lebih dalam, pimpinan jamaah Hizmet, Ulama Fethullah Gulen, juga berguru kepada Said Nursi meski secara tidak langsung. Bisa dilihat dari referensi buku-buku jamaah Hizmet yang biasanya mencantumkan karya-karya Said Nursi. Namun makin ke kalangan bawah, interaksi antar pengikutnya seakan-akan membuat jarak.

Selama berada di Turki, saya mencoba netral. Kadang hadir di acara jamaah Hizmet, kadang hadir di acara jamaah Nurcu, Sulaymaniye, dst. Yang terpenting waktunya pas. Pas senggang dan pas acaranya menarik, lebih-lebih pas ada makanan. Hehe…

Karena saya tahu, saya di Turki hanya sebentar, untuk kuliah. Tidak akan lama. Tujuan saya adalah mendalami satu bidang ilmu di kampus, dan berbaur dengan masyarakat sekitar, baik di rumah, jamaah, pertemanan dan sekitar. Mengambil segala hal yang positif.

Budy Sugandi di Marmara University, Istanbul, TurkiFoto: privat

Tidak perlu kita bela mati-matian untuk menjadi pengikut jamaah tertentu, kecuali memang ingin menyebarkan jamaah itu ketika kembali ke Indonesia. Namun menurut saya, pilihan untuk mengabdikan diri ke NU atau Muhammadiyah atau organisasi keislaman lainnya di Indonesia, itu yang lebih tepat. Tentu selain ormas keislaman yang bersifat radikal. Tentu Anda sudah paham.

Melihat situasi dan kondisi yang terjadi di Turki, khususnya perselisihan antara Presiden Turki Erdogan dan Ulama Gulen, yang dalam beberapa tahun ini berada di Amerika, sebaiknya para mahasiswa/i Indonesia yang selama ini tinggal di jamaah Hizmet bisa pindah “sementara” sampai situasi aman terkendali.

Tentu bukan berarti jamaah Gulen salah –saya sangat tidak setuju dengan ini. Namun fakta di lapangan jelas, Erdogan sudah mengangggap Gulen adalah musuh besar, terutama pasca kejadian kudeta militer kecil yang terjadi kemarin. Padahal di periode pertama dan kedua masa-masa awal pemerintahan, Erdogan dan Gulen adalah “kardes” alias seperti saudara. Namun angin segar telah terlalu, Erdogan membabat habis akses bisnis dan politik jamaah Gulen.

Tidak ada salahnya mengambil posisi aman. Sekali lagi, bukan berarti kita berkhianat. Kita hanya ingin meluruskan niat awal untuk belajar di negeri dua benua yang indah, menjaga keselamatan, dan yang terpenting lagi adalah agar keluarga di rumah bisa tenang. Tanpa harus was-was, bahkan sampai menangis, ketika melihat pemberitaan di TV yang memang sering berlebihan. Masalah beasiswa dan lokasi tinggal, saya rasa peran KBRI Ankara dan KJRI Istanbul harus mampu dioptimalkan.

Saya rasa ini bukan pekerjaan berat buat Kedutaan dan Konsulat yang notabenenya adalah rumah tinggal bagi WNI yang sedang berada di luar negeri. Tentu kita tidak ingin menunggu kabar ada anak Indonesia yang ditangkap terlebih dulu kemudian ribut, sibuk dan baru bekerja.

Mengikuti Konferensi Pendidikan Indonesia-Turki, November 2015Foto: privat

Sekembali ke Indonesia, saya menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Dubes Turki untuk Indonesia Mr. Zekeriya Akcam yang tentu pro pemerintahan Erdogan. Juga sempat silaturahmi ke salah satu sekolah jamaah Turki di Jakarta. Beberapa keluhan mereka sampaikan, namun saya hanya berepransebagai pendengar dan sesekali berpendapat jika diminta. Karena sekali lagi, bagi saya semua jamaah di Turki itu pada hakikatnya baik. Hanya saja, situasi politik, sosial dan ekonomi yang membuat mereka kisruh.

Begitu pula dengan pemerintahanan Erdogan, ada plus dan minusnya. Sungguhlah beruntung yang berkesempatan kuliah langsung di Turki yang sangat dinamis itu.

Terakhir, mari terus tanam dalam diri kita untuk tetap menjadi orang Indonesia yang sedang berada di Turki, orang Indonesia yang sedang menuntut ilmu. Yakinlah suatu hari akan kembali ke tanah air untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, bukan malah pulang lalu menambah masalah baru.

Saya melihat banyak energi positif di negeri kita. Ayo kembali, bawa kreativitas, ciptakan peluang, buka lapangan pekerjaan! Ayo kembali ke Indonesia! Tabik..

Budy Sugandi, Alumni Marmara University, Istanbul, Turki dan Technische Universität Braunschweig, Jerman. Pembicara di berbagai konferensi nasional dan internasional. Aktivis dan pengamat dunia pendidikan.