1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Posisi Jerman dalam Konflik Atom Iran

6 Mei 2006

Dalam pertemuan membahas konflik atom Iran antara Kanselir Jerman Angela Merkel dengan Presiden Amerika Serikat George W. Bush, kentara sekali Berlin hendak mendemonstrasikan posisinya terhadap Washington.

Merkel bertemu Bush di Gedung Putih, Washington
Merkel bertemu Bush di Gedung Putih, WashingtonFoto: AP

Akan tetapi, juga terlihat dengan jelas, masih terlihat perbedaan pendapat mengenai masalah peka tersebut. Merkel dan Bush berusaha keras agar perbedaan taktik dalam menghadapi Iran tidak terlihat oleh publik, demikian komentar harian Swiss Neue Zürcher Zeitung.

"Merkel memang menyatakan, Jerman dan AS menyepakati, bahwa Iran tidak boleh memiliki bom atom. Tapi pernyataan itu dipastikan hanyalah retorika, untuk menyenangkan tuan rumah di Washington. Bush juga menyatakan, dia bersama Merkel membahas kemungkinan sanksi terhadap Iran, tapi tidak menjelaskan rinciannya. Yang jelas dan bukan rahasia, adalah keinginan Berlin, agar Washington menggelar perundingan langsung dengan Teheran."

Sementara harian Italia Corrierre della Sera mempertanyakan, apa dampak dari sanksi terhadap Iran.

"Apakah sanksi benar-benar akan dapat menggoyahkan rezim di Teheran? Apakah kemudian akan muncul krisis ekonomi di Iran? Atau sebaliknya, malahan membangkitkan nasionalisme dan Islamisme lebih ekstrim di negara itu? Sejauh ini sanksi pertama yang akan dijatuhkan kelihatannya hanya terbatas pada pembekuan asset Iran di luar negeri. Ini merupakan sebuah eksperimen hati-hati untuk memberikan peringatan. Akan tetapi, sementara ini semakin terasa adanya ancaman, bahwa sanksi itu justru akan mendorong gejolak di pasar minyak dunia."

Harian konservatif Spanyol ABC menulis:

"Angela Merkel dengan cerdik hendak menggagas proyek baru Eropa. Kunjungannya ke Washington, menunjukan dengan jelas, bahwa Merkel hendak memanfaatkan situasi setelah serangan 11 September, sebagai sebuah proses bagi orientasi strategis baru. Setelah kegagalan poros Paris-Berlin yang digagas Chirac dan Schröder, Merkel hendak menciptakan skenario baru hubungan trans-Atlantik. Dimana Jerman memainkan peranan sebagai juru penengah yang memiliki hak istimewa, antara Eropa dan Amerika Serikat."

Menanggapi pertemuan Merkel dengan Bush dalam membahas konflik atom Iran, harian-harian Jerman cenderung menulis pujian kepada kanselirnya.

Harian Saarbrücker Zeitung menulis:

"Jerman kini tidak lagi memainkan peranan juru penengah, melainkan sebagai kubu penentang Iran. Jerman kini tidak netral, bukan hanya karena membela Israel, tapi karena juga merasa ikut terancam. Pokoknya hendak ditunjukan, dalam konflik ini Jerman sudah menentukan posisi, yang tidak terikat emosi maupun kepentingan ekonomi. Sejauh ini, Merkel menggariskan haluannya dengan cerdik."

Sementara harian Lübecker Zeitung menulis:

"Angela Merkel tahu persis, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengurai benang kusut konflik Irak. Yakni dengan mendorong perundingan langsung antara Washington dan Teheran. Sanksi tidak akan membuahkan hasil apapun. Juga serangan udara hanya akan membakar seluruh kawasan Timur Tengah, yang sekaligus akan membubarkan aliansi Barat. Jadi amat tepat, terus menjalin hubungan baik dengan Washington, untuk membujuknya melakukan kontak langsung dengan para Mullah di Teheran."