080709 Russland G8
8 Juli 2009
Hari-hari belakangan, media Rusia menyoroti satu topik - kunjungan Presiden AS Barack Obama ke Moskow. Obama melawat Rusia sebelum melanjutkan perjalanan ke Italia untuk menghadiri pertemuan G8. Pertemuan puncak di Italia, yang juga dihadiri Rusia, hanya disinggung sepintas oleh media. Meski ada beberapa pengecualian. Marina Larionowa adalah dosen di Sekolah Tinggi Ekonomi Moskow. Ia meneliti secara ilmiah pertemuan-pertemuan tingkat tinggi seperti KTT G8:
"Saya kira, semua negara, baik itu di G8 maupun di G20 memiliki tugas bersama, yaitu menjalankan keputusan KTT G20 di London April lalu mengenai reformasi dan penguatan lembaga keuangan internasional. Sayangnya, kesepakatan di London tidak mencerminkan usulan Rusia, yaitu mereformasi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia."
Rusia mengkritik, kedua lembaga ini tidak mampu mengatasi krisis ekonomi global. dan terlalu berorientasi pada AS. Selain itu, Rusia mempertanyakan, mengapa mata uang dollar masih mendominasi cadangan devisa internasional. Negara beruang ini mendukung upaya untuk memperluas penggunaan Rubel Rusia atau Yuan Cina sebagai cadangan devisa.
Topik lainnya yang menyibukkan Rusia adalah struktur keamanan baru di Eropa di luar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE). Rusia berencana untuk mengangkat topik ini dalam pertemuan G8 di Italia. Kembali Marina Larionowa:
"Dialog yang sedang berlangsung tidak memuaskan. Dalam pertemuan OSCE di Korfu Juni lalu, pejabat urusan luar negeri Uni Eropa Javier Solana merujuk pada topik ini dengan sangat diplomatis, tapi tidak konkret, sangat khas retorika Uni Eropa. Ia hanya mengatakan: kita akan terus membahasnya."
Pertemuan G8 di Italia antara lain membahas sejumlah krisis internasional, perlindungan iklim dan dana bantuan pembangunan. Pada prinsipnya, Moskow bersedia mengupayakan perlindungan iklim dan membantu negara miskin. Tapi, belum tentu Rusia juga mendukung kebijakan konkret yang diputuskan dalam pertemuan kali ini. Untuk topik Iran, sengketa atom dan konflik internalnya posisi Rusia sudah jelas: Moskow menolak pemberlakukan sanksi terhadap Iran. Dalam pertemuan menteri luar negeri G8 akhir Juni, menteri luar negeri Rusia Sergej Lavrov memperingatkan untuk tidak mengucilkan Iran. Atas desakan Lavrov, dalam pernyataan sikap bersama tercantum bahwa kedaulatan Iran dihargai sepenuhnya.
Cina juga berpendapat bahwa kerusuhan menyoal hasil pemilu presiden adalah masalah dalam negeri Iran. Beijing juga setuju dengan usulan Rusia untuk menambah mata uang yang bisa digunakan sebagai cadangan devisa. Rusia sudah lama mendukung perluasan kelompok G8 dengan dalih delapan negara industri besar dunia hanya mewakili sebagian kecil penduduk dan ekonomi dunia.
Tampaknya, Rusia sering merasa terpinggirkan dalam kelompok G8. Rusia baru bergabung dengan kelompok negara industri maju tahun 1998. Kecuali Jepang, negara lainnya dalam G8 adalah anggota NATO, dan Jepang sejak semua lebih dekat dengan keenam negara NATO itu. Karena itu, Rusia senang melihat perundingan G8 dari tahun ke tahun dihadiri lebih banak negara. Di Italia, hampir tidak ada perundingan yang hanya terbatas pada negara G8. Di hari kedua, negara G8 berunding dengan China, India dan Brasil, tiga negara yang bersama Rusia tergabung dalam kelompok BRIC. Dan dalam sejumlah topik, ketiga negara itu merupakan sekutu Rusia.
Katrin Schilling/Ziphora Eka Robina
Editor: Hendra Pasuhuk