Prabowo Beri 1.000 Burung Hantu ke Petani Majalengka
21 April 2025
Presiden Prabowo Subianto mengirimkan 1.000 ekor burung hantu ke petani di Majalengka, Jawa Barat. Burung hantu itu nantinya akan membantu membasi hama tikus yang selama ini dikeluhkan petani.
Bantuan burung hantu Prabowo ini dinilai relevan dalam mendukung keberhasilan penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA).Foto: R. Bala/blickwinkel/picture alliance
Iklan
Presiden Prabowo Subianto memberikan bantuan sebanyak 1.000 ekor burung hantu untuk mengusir hama tikus. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo.
Dody mengatakan pemberian burung hantu ini untuk mengatasi serangan hama tikus di kawasan pertanian, khususnya di Majalengka, Jawa Barat. Bantuan ini diumumkan dalam acara panen serempak di Desa Randegan Wetan, Kabupaten Majalengka, pada Senin (7/4/2025) lalu.
Menurut Dody, bantuan tersebut sangat relevan dan mendukung keberhasilan penerapan teknologi Irigasi Padi Hemat Air (IPHA), yang telah terbukti mampu meningkatkan produksi padi secara signifikan.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada Presiden atas dukungan nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mendukung peningkatan produksi pertanian nasional melalui pemberian burung hantu ini," ujar Dody dalam keterangannya, Minggu (20/4/2025).
Menjamin Ketahanan Pangan tanpa Merusak Lingkungan
03:49
IPHA merupakan inovasi dalam budidaya padi yang mengatur siklus pengairan sawah secara berselang (intermittent irrigation). Teknologi ini mampu menghemat air hingga 30% serta meningkatkan produktivitas padi hingga 169% dibanding metode konvensional.
Namun demikian, penerapan IPHA juga menghadapi tantangan, salah satunya meningkatnya ancaman hama tikus. Kondisi sawah yang lebih dangkal dalam sistem IPHA memungkinkan tikus lebih mudah mencapai batang padi, sehingga meningkatkan risiko kerusakan panen.
"Solusi alami berupa penggunaan burung hantu sebagai predator tikus terbukti efektif menekan populasi hama. Langkah ini juga lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pestisida kimia," jelas Dody.
Dody menyebut sebelumnya para petani di Indramayu dan Cirebon telah menerapkan metode pengendalian hama ini dengan memasang rumah burung hantu di sekitar area persawahan. Keberhasilan metode tersebut mendorong petani di Majalengka untuk mengadopsinya.
Dody berharap bantuan burung hantu ini dapat menjaga stabilitas hasil panen pada area IPHA serta mendorong percepatan pencapaian target swasembada pangan nasional secara berkelanjutan.
Sebelumnya, Prabowo menjanjikan membantu petani Majalengka dengan memberikan ribuan burung hantu. Hal ini disampaikan pada saat menghadiri acara panen raya bersama petani di 14 provinsi di Majalengka, Jawa Barat.
Pada kesempatan itu, Prabowo berharap adanya metode untuk melawan hama yang berbeda-beda di setiap daerah. Dia mengambil contoh di daerah Majalengka yang menghadapi hama tikus yang pelik.
"Kita juga harus cari obat antihama yang kita buat sendiri. Di daerah sini saya dapat laporan hama tikus yang sangat pelik masalahnya. Yang paling bagus katanya adalah burung hantu," ujar dia di lokasi acara, seperti disiarkan di YouTube Septres, dikutip dari detikNews.
Prabowo lantas bertanya terkait harga burung hantu per ekor. Dia pun berjanji membantu petani Majalengka dengan memberikan ribuan burung hantu.
"Waduh harga burung hantu naik dong kalau sekarang kira-kira? Sekarang berapa harganya 1? Rp 150 ribu? Nggak, nanti saya bantu di sini ya, berapa burung hantu yang saudara perlu? Saya bantu. Benar ya? Perlu tambahan berapa burung hantu? 1.000 ekor? 1.000 ekor kali Rp 150 ribu, berarti Rp 150 juta, baik saya bantu hari ini juga," tutur Prabowo.
Happy Seeding: Sebuah Solusi Pertanian untuk Masalah Polusi India
Para petani India masih terbiasa membakar sisa-sisa pertanian, yang menyebabkan kota-kota sekitar diselimuti kabut asap tebal. Namun petani yang menggunakan “happy seeders”, diharapkan bisa membersihkan udara disana.
Foto: DW/Catherine Davison
Masalah pembakaran
Salah satu pencemaran udara terburuk di Delhi, India, terjadi di November ini. Administrasi kota menyerukan status kesehatan darurat ketika beberapa bagian dari kota ini diselimuti kabut asap tebal beracun. Dari sejumlah penyebab, seperti masalah lalu lintas sampai konstruksi bangunan, banyak yang menganggap pembakaran sisa pertanian di wilayah sekitar sebagai penyebab utamanya.
Foto: picture-alliance/Photoshot/P. Sarkar
Protes anti polusi
Murid-murid sekolah dengan masker anti kabut asap turut berkumpul di sekitar Gerbang India yang terkenal di Delhi, pada Selasa (5/11), untuk memprotes polusi kota terparah yang telah menembus rekor. Seorang menteri membandingkan kotanya dengan sebuah “kamar gas”. Masalah ini terus memburuk kendati bertambahnya protes, deklarasi darurat kesehatan, dan larangan memakai mobil setiap dua hari sekali.
Foto: DW/Catherine Davison
Penyebab dari bidang pertanian
Di negara bagian Haryana, di utara Delhi, 80% dari hampir 5 juta hektar lahan dibudidayakan sejak revolusi pertanian pada tahun 1960an yang mengubah negara bagian ini dan Punjab yang bersebelahan, menjadi daerah pertanian utama India. Disini perempuan menumpuk beras yang dipanen di pertanian dekat kota Karnal, di Delhi utara.
Foto: DW/Catherine Davison
Cara ketinggalan zaman
Pekerja pendatang musiman memisahkan beras basmati dengan tangan dari tanaman padi yang dipanen di lahan dekat Karnal. Tetapi tidak seperti pada proses manual ini, untuk menyingkirkan jerami atau batang yang tersisa di lahan, tidak tersedia cukup waktu bagi para pekerja untuk menyiapkan lahan untuk masa tanam berikut.
Foto: DW/Catherine Davison
Pembumihangusan
Pembakaran jerami di sawah dekat Karnal di Haryana. Terlepas dari perintah pengadilan tertinggi di India untuk segera menghentikan praktek ini, banyak petani merasa tidak punya pilihan selain membakar sisa-sisa pertanian untuk menyiapkan lahannya tepat waktu untuk musim semai. Dengan api yang terbakar di seluruh wilayah ini secara bersamaan di awal November terjadi polusi asap yang sangat buruk.
Foto: DW/Catherine Davison
Happy seeder
Traktor ini digandengkan dengan alat yang disebut 'happy seeder', sebuah alat pertanian yang bisa menyemai gandum di sebuah lahan tanpa harus menyingkirkannya, dan akhirnya membakar, sisa-sisa tanaman padi. Alat ini penting bagi apa yang disebut revolusi “hijau abadi” yang bisa terjadi dan akan meningkatkan hasil panen, kesuburan tanah dan mengakhiri pembakaran sisa-sisa pertanian.
Foto: DW/Catherine Davison
Bagian dari solusi
Aatpal Ram menggunakan sebuah mesin 'happy seeder' yang dipakai untuk menyemai gandum di sebuah lahan dekat Karnal. Mesin ini idealnya digunakan dengan sebuah sistem manajemen jerami, yaitu alat yang menempel di bagian belakang dari sebuah mesin panen untuk memotong dan menyebarkan residu lepas di seluruh lahan dan meninggalkan nitrogen, fosfor dan kalium di tanah yang sering kali hilang terbakar.
Foto: DW/Catherine Davison
Tanaman sehat
Pusat Penelitian Internasional untuk Perbaikan Jagung dan Gandum bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk melatih para petani menggunakan teknologi dan teknik pertanian baru yang akan meningkatkan produktivitas biji-bijian dan mengurangi investasi ekonomi dan tenaga kerja, dan pada akhirnya juga menghilangkan kebutuhan untuk membakar sisa-sisa pertanian.