Prancis Kecewakan PBB
19 Agustus 2006
Harian Inggris The Times yang terbit di London menulis tajuk berjudu : Prancis amat mengecewakan.
"Sebelumnya semua menaruh kepercayaan besar terhadap Prancis, bahwa mereka siap memimpin 15.000 pasukan perdamaian PBB, yang memiliki mandat dan persenjataan untuk membantu pasukan Libanon untuk melucuti persenjataan Hisbullah. Akan tetapi, kelihatannya keputusan PBB membuat takut pemerintah Prancis. Sekarang, Prancis memang tetap bersedia menjadi komandan pasukan internasional, akan tetapi titik beratnya hanya menyangkut kepemimpinan, bukannya sasaran menciptakan perdamaian jangka panjang."
Sementara harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma berkomentar: Prancis merasa ketakutan.
"Prancis mundur, ragu-ragu dan meminta jaminan. Negara ini tidak menghendaki serdadunya menghadapi ancaman besar. Ditakutkan, tentara Prancis tewas terkena serangan milisi Hisbullah atau Suriah. Keputusan Presiden Prancis Jacques Chirac ini amat mengecewakan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan."
Sedangkan harian kiri Prancis Liberation yang terbit di Paris berkomentar:
"Prancis ibaratnya masuk ke dalam perangkap di Libanon. Keputusan tergesa-gesa dari presiden Prancis menunjukan, betapa berbahayanya situasi di Libanon. Memang benar, sejak beberapa hari terakhir terlihat pertanda menggembirakan dari kawasan krisis. Tentara Libanon mulai dikerahkan ke selatan, dan Israel terus menarik pasukannya. Akan tetapi, milisi Hisbullah tetap diizinkan memegang senjata. Memang Israel dan Amerika Serikat menutut perlucutan senjata Hisbullah, sebagai persyaratan bagi perdamaian. Pertanyaannya, siapa sekarang ini yang dapat melucuti senjata Hisbullah?"
Harian Belanda De Volkskrant yang terbit di Den Haag menulis komentar yang membela Prancis.
"Sikap Prancis semacam itu dapat dimengerti. Sebab, dalam penugasan sebelumnya, mereka telah memetik pengalaman yang menyakitkan. Jadi tidak mengherankan jika Prancis menuntut perlindungan optimal. Akan tetapi, dengan hanya mengirimkan 200 tentaranya, misi baru pasukan PBB itu ibaratnya berada di bawah bintang yang redup. Padahal pasukan perdamaian internasional di Libanon memerlukan pemimpin yang kuat."
Semenatara harian independen Prancis Le Monde yang terbit di Paris mengomentari kemungkinan Jerman mengambil alih peranan Prancis di Libanon.
"Jerman tidak dapat bertindak netral dalam politik Timur Tengah. Keinginan PM Israel Ehud Olmert agar Jerman ikut serta dalam penugasan di Libanon, ibaratnya pisau bermata dua. Di satu sisi dipuji, bahwa Jerman sekarang bukan Jerman di zaman NAZI. Akan tetapi, juga digarisbawahi, bahwa Jerman sebagai mitra aliansi yang mendapat hak istimewa, memiliki kewajiban untuk membela kepentingan Israel. Dengan kata lain, selama Jerman terikat tekanan tersebut, maka selama itu pula politik Timur Tengahnya tidak akan netral."