1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Prancis Pertimbangkan Aksi Militer di Chad

6 Februari 2008

Menhan Prancis Herve Morin mendadak berangkat ke Chad, Rabu (06/02). Prancis menempatkan sekitar 1. 100 tentara di bekas negara jajahannya di Afrika itu serta mendukung pemerintah Chad dengan pesawat pengintainya.

Patroli Pasukan Prancis di N'DjamenaFoto: AP

Sehubungan dengan konflik di Chad, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mempertimbangkan untuk melancarkan aksi militer setelah Perserikatan Bangsa- Bangsa memberikan lampu hijau kepada negaranya:

"Berdasarkan pernyataan Dewan Keamanan PBB, Chad dan pemerintahannya yang sah harus diberikan peluang menyelesaikan tugasnya. Aksi pemberontak telah dikutuk Uni Afrika dan Dewan Keamanan. Jadi, jika Prancis melaksanakan tugasnya, keabsahan pemerintah Chad tidak boleh lagi diragukan.“

Presiden Sarkozy kini mempertimbangkan untuk campur tangan langsung dalam konflik di Chad. Di ibu kota N’Djamena, Menteri Pertahanan Prancis, Herve Morin berjumpa dengan Presiden Chad, Idriss Deby untuk menyampaikan dukungan Prancis. Menyangkut masalah itu, Menteri Luar Negeri Chad Ahmat Allami mengutarakan:

“Untuk saat ini masih tidak diperlukan bantuan dari Prancis. Jika perlu, pada saat yang menentukan, kami akan meminta bantuan dari semua negara sahabat, termasuk Prancis. Dan ini sesuai kesepakatan kemitraan dengan Prancis. Dalam hal ini, itu juga tergantung pada Prancis sendiri.“

Presiden Idriss Deby, walau korup didukung dunia internasionalFoto: AP

Dunia Internasional Dukung Deby

Kini posisi pihak yang terlibat sudah mulai kelihatan. Chad didukung komunitas internasional. Dengan demikian, ke depan Presiden Idriss Deby bisa bertahan. Namun, meskipun Presiden Prancis menyatakan pemerintah Chad sah, ini bukan berarti bahwa Idriss Deby bersih dari noda-noda. Karena, dia tidak hanya memerintahkan penangkapan semua tokoh oposisi, tetapi juga mengkhianati sahabat dan mitra kerjanya.

Selain itu Idriss Deby memanipulasi konstitusi Chad sesuai keinginannya dan sama sekali tidak bersikap demokratis. Walaupun demikian Deby tetap didukung dunia barat. Pasalnya, dia adalah satu-satunya jaminan untuk memungkinkan bantuan di Darfur. Pengungsi di Darfur, Sudan Barat memang lebih penting bagi Uni Eropa ketimbang seorang presiden yang korup.

Jika Idriss Deby digulingkan, Sudan akan merajalela di wilayah pertempuran di sebelah timur negara itu dan keadaan pengungsi akan menjadi lebih sengsara. Jumlahnya kini meningkat karena ditambah oleh sekitar 20.000 hingga 30.000 pengungsi Chad yang bergerak menuju Kamerun.

Di jalan-jalan di ibu kota Chad, N’Djamena terlihat mayat-mayat berserakan. Ribuan korban cedera masih belum tertolong. Uni Eropa menyediakan dua juta Euro bagi pengungsi di negara itu. Dan bantuan itu dapat diberikan hanya jika pemerintah Chad dari Idriss Deby masih berkuasa. (cf)