1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Presiden RI dan Kanselir Jerman Imbau Dukungan untuk Konvensi ILO

15 Juni 2011

Selama dua pekan di Jenewa, para wakil 183 negara bersama pengusaha dan serikat buruh membahas kondisi pasar kerja global dan keadilan sosial.

Foto: AP GraphicsBank

Tokoh Birma, pemenang hadiah Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi mengirimkan video ke Konferensi ke-100 Organisasi Buruh Dunia, ILO. Pesannya, saat ini perdamaian universal yang berkelanjutan belum terjamin bagi rakyat dunia dan waktu mendesak agar ditemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk mencapai tujuan itu.

Foto: AP

Dalam konferensi Organisasi Buruh Dunia, ILO di Jenewa yang kali ini menyoroti dampak krisis ekonomi dan keuangan terhadap ketenagakerjaan secara global, hadir sekitar 8.000 delegasi berbagai negara.Kehadiran para kepala negara, mulai dari Presiden Rusia Vladimir Putin, Kanselir Jerman Angela Merkel juga Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono menunjukkan keinginan bertukar pengalaman soal kewajiban pemerintah untuk membuka lapangan kerja dan menjamin keamanan pekerjaan.

Menunjuk pada keberhasilan model tripartit yang dikembangkan ILO, Presiden RI menuturkan, "Di Indonesia, ketika krisis melanda pada tahun 2008, yang pertama kami lakukan adalah menyelaraskan kebijakan dengan tindakan. Pemerintah pusat, lokal, sektor swasta dan pihak-pihak lainnya duduk bersama untuk menentukan prioritas. Kamipun berusaha menjaga keberlangsungan sektor riil yang menyediakan pekerjaan, dan bekerjasama dengan serikat buruh dan buruh untuk menggolkan target utama, yakni menghindari pemutusan hubungan kerja besar-besaran.“

Menurut SBY tripartit kerjasama antara pemerintah, pengusaha dan buruh merupakan salah satu alasan, mengapa Indonesia terselamatkan dari krisis global. Di tingkat kerjasama internasional, SBY menekankan upayanya agar buruh migran Indonesia tetap dipertahankan dan mengimbau perlindungan bagi mereka.

Buruh PerkebunanFoto: AP

Terkait dengan pasar kerja global saat ini, SBY juga mengangkat tema generasi baru tenaga kerja. Dikatakannya, "Buruh seharusnya menjadi salah satu pihak pertama yang meraih keuntungan dari proses pembangunan. Harus dikembangkan kebijakan dan strategi untuk menjamin agar mereka mendapatkan bagian yang adil dari kue ekonomi. Perhatian lebih besar harus diberikan kepada buruh dan pekerja muda karena merekalah yang menjadi inti tenaga kerja masa depan.“

Perhatian terhadap generasi penerus dunia juga disampaikan oleh Kanselir Jerman Angela Merkel, yang mengangkat keberhasilannya menurunkan angka pengangguran secara drastis. Ia melihat kemungkinan untuk belajar dari Jerman. Menunjuk pada kenyataan bahwa mayoritas penduduk Afrika Utara dan Arab justru orang muda, dikatakannya.

"Dalam proses ini Jerman ingin memasukkan apa yang disebut pakta untuk pekerjaan, dimana sebanyak mungkin orang muda mendapatkan pendidikan, kualifikasi serta kemungkinan lahan kerja di negara mereka, untuk mendukung negara-negara ini dalam upaya memberikan perspektif untuk masa depan“, demikian Angela Merkel.

Kanselir Jerman, Angela MerkelFoto: picture-alliance/dpa

Ketua Konfenrensi, Dirjen ILO, Juan Somavia menilai bahwa sampai kini, seringkali justru pelajaran yang salah diambil dari krisis ekonomi global yang lalu. Yakni perusahaan dimenangkan dan justru buruh yang ditelantarkan. Ia mengingatkan ini perlu berubah segera.

Indonesia telah meratifikasi 8 konvensi ILO, dan baru-baru ini meratifikasi Undang-Undang Buruh Migran. Di Jenewa, baik Presiden RI maupun Kanselir Jerman mengimbau agar dunia internasional mendukung konvensi-konvensi ILO, juga konvensi baru mengenai pekerja rumah tangga.

Edith Koesoemawiria
Editor: Marjory Linardy