1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Konflik Iran Memanas, Produksi Minyak Teluk di Ujung Tanduk

10 Maret 2026

Harga minyak melonjak mendekati $120 setelah serangan ke fasilitas energi Iran dan penutupan Selat Hormuz. Tanker tertahan, sementara produsen Teluk kehabisan kapasitas penyimpanan untuk menjaga produksi.

Seseorang tengah mengamati satu anjungan pengeboran di ladang minyak.
Timur Tengah memasok sekitar sepertiga ekspor minyak mentah dunia yang dikirim melalui jalur lautFoto: John Moore/picture alliance/AP Photo

Harga minyak melonjak hingga hampir $120 (sekitar Rp1,9 juta) per barel pada Senin (9/3) setelah Israel menyerang infrastruktur energi Iran pada akhir pekan dan Teheran mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut.

Serangan itu, yang menandai eskalasi besar dalam konflik yang telah berlangsung selama 10 hari, memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, dengan harga minyak mentah Brent mencapai $119,50 (sekitar Rp1,85 juta) per barel.

Harga kemudian turun kembali ke sekitar $100 (sekitar Rp1,57 juta), dan pada Selasa minyak diperdagangkan di bawah $90 per barel (sekitar Rp1,41 juta), tetapi masih lebih dari 20% lebih tinggi dibandingkan saat perang dimulai pada 28 Februari.

Memburuknya konflik meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi di Timur Tengah, di mana para produsen sudah menghadapi kerusakan fasilitas akibat serangan Iran serta penutupan jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Dengan kapasitas penyimpanan ekspor yang semakin menipis, DW menanyakan apakah produksi minyak di negara-negara Teluk dapat berhenti dalam hitungan hari.

Iran Punya Pemimpin Tertinggi Baru

00:44

This browser does not support the video element.

Mengapa Selat Hormuz menjadi kunci pasokan minyak dunia?

Negara-negara produsen minyak di Teluk, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain, kini langsung terdampak konflik Amerika Serikat (AS)–Israel melawan Iran.

Iran menyeret negara-negara Teluk ke dalam konflik dengan meluncurkan serangan terhadap fasilitas energi, bandara, hotel, kawasan perumahan, serta pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Serangan ini memicu tuduhan perilaku “pengkhianatan” serta ancaman pembalasan militer.

Situasi semakin memburuk karena penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran, jalur laut sempit antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, yang menurut perusahaan analitik pelayaran Kpler telah menghentikan hampir seluruh lalu lintas komersial.

Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, sehingga penutupannya dianggap sebagai skenario terburuk bagi pasar energi global.

Sekitar 20% pasokan minyak dunia, atau sekitar 20–21 juta barel per hari, melewati Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur perdagangan energi paling penting di duniaFoto: NASA/The Visible Earth/dpa/picture alliance

Apa yang terjadi dengan stok minyak di kawasan Teluk?

Dengan kapal tanker minyak dan LNG terjebak, para produsen Teluk berharap selat tersebut segera dibuka kembali.

Walaupun Arab Saudi dan UEA memiliki jalur alternatif untuk mengekspor sebagian energi melalui Laut Merah dan Teluk Oman, negara Teluk lainnya hanya dapat mengandalkan kapasitas penyimpanan yang terus menipis.

Secara kolektif, negara-negara Teluk dapat menyimpan sekitar 343 juta barel minyak untuk menunda penghentian produksi yang tak terhindarkan, menurut bank investasi AS JP Morgan.

Namun biasanya sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari, ditambah lebih dari 4 juta barel produk olahan per hari seperti bensin, diesel, dan bahan bakar jet, melewati Selat Hormuz.

JP Morgan menghitung bahwa negara-negara Teluk secara kolektif hanya memiliki buffer penyimpanan sekitar 22 hari ketika perang dimulai.

Meski pada Selasa (10/3) masih ada laporan beberapa kapal tanker yang berhasil melintasi Selat Hormuz di tengah konflik yang berlangsung, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan keras.

IRGC menyatakan bahwa Teheran akan “menentukan akhir perang” dan berjanji tidak akan membiarkan “satu liter pun minyak” diekspor dari kawasan tersebut jika serangan AS dan Israel terus berlanjut.

Apakah negara-negara Teluk mulai memangkas produksi minyak?

Irak, yang hanya memiliki enam hari kapasitas penyimpanan, kemungkinan telah mencapai batasnya dan mulai memangkas produksi sekitar 1,5 juta barel per hari minggu lalu.

Perusahaan riset energi Norwegia, Rystad Energy memperingatkan bahwa ladang minyak Irak yang masih beroperasi “menghadapi penghentian yang hampir pasti dalam waktu dekat.”

Sementara itu, Arab Saudi memiliki sekitar 66 hari kapasitas penyimpanan pada 28 Februari, menurut JP Morgan. Angka ini mengasumsikan bahwa kerajaan tersebut dapat mengalihkan sebagian ekspor melalui jalur alternatif.

Namun Rystad Energy menilai Saudi mungkin hanya memiliki “masa efektif sebelum pemangkasan produksi paksa” sekitar tujuh hingga sembilan hari.

Saudi Aramco, eksportir minyak terbesar di dunia, kini mengalihkan sebanyak mungkin minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sementara UEA mengalihkan sebagian ekspor melalui Fujairah, yang juga sempat diserang Iran.

Namun jalur alternatif tersebut hanya dapat menampung sekitar sepertiga dari minyak yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Bloomberg melaporkan pada Selasa (10/3) bahwa Saudi telah menurunkan produksi hingga 2,5 juta barel per hari, sementara UEA mengurangi produksinya sekitar 500.000 hingga 800.000 barel per hari. Kuwait juga memangkas produksi sekitar 500.000 barel per hari, dan Irak sekitar 2,9 juta barel per hari, menurut laporan tersebut yang mengutip sumber yang mengetahui situasi tersebut.

Apa yang terjadi pada harga minyak jika produksi Teluk berhenti?

Penghentian besar produksi dan ekspor minyak dari Teluk hampir pasti akan mendorong harga jauh lebih tinggi, karena kawasan tersebut menyumbang sekitar sepertiga ekspor minyak mentah laut dunia.

Menteri Energi Qatar mengatakan kepada Financial Times bahwa harga minyak dapat mencapai $150 per barel (sekitar Rp2,36 juta) jika konflik tidak segera berakhir dan produksi harus dihentikan.

Saudi Aramco juga memperingatkan adanya “dampak yang sangat serius” jika gangguan pelayaran di Selat Hormuz terus berlanjut.

Negara-negara Teluk bisa mematikan keran minyak jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembaliFoto: Maksym Yemelyanov/Zoonar/picture alliance

Bank Belanda ING mengatakan dalam catatan riset bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin banyak pasokan minyak yang akan dihentikan sementara karena tidak ada jalur ekspor.

Sementara itu International Energy Agency (IEA) mengatakan bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan dapat mengubah pasar dari kondisi surplus besar sejak awal tahun lalu menjadi defisit.

Memulai kembali produksi setelah penghentian sementara juga dapat menjadi sulit, membutuhkan beberapa hari hingga beberapa minggu untuk kembali ke tingkat normal. Jika penghentian berlangsung lama, risiko kerusakan peralatan atau masalah geologis juga dapat meningkat.

Fasilitas energi mana yang rusak akibat serangan Iran?

Pada 2 Maret, drone Iran menargetkan kilang minyak terbesar Saudi Aramco di Ras Tanura, sehingga otoritas Saudi menutup fasilitas tersebut untuk menilai kerusakan.

Ras Tanura memiliki kapasitas pengolahan sekitar 550.000 barel per hari dan juga merupakan terminal ekspor minyak mentah utama.

Pada hari yang sama, Iran juga menyerang Ras Laffan di Qatar, fasilitas ekspor LNG terbesar di dunia.

Perusahaan QatarEnergy kemudian menghentikan operasi dan mengumumkan force majeure pada ekspor, sebuah klausul dalam kontrak yang memungkinkan perusahaan membatalkan kewajiban pengiriman karena perang atau bencana alam.

Meskipun Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara Teluk pada Sabtu dan berjanji menghentikan serangan, serangan sporadis masih terus terjadi.

Pada Senin (9/3) malam, serangan drone menghantam Pulau Sitra di Bahrain, termasuk kompleks kilang minyak besar Al Ma’ameer, yang memicu penghentian pengiriman karena kerusakan.

Kementerian Pertahanan Saudi juga mengatakan pada Senin bahwa sistem pertahanan udara mereka mencegat dan menghancurkan empat drone yang menuju ladang minyak Shaybah di tenggara negara itu.

Sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Senin (9/3) malam bahwa perang akan berakhir “sangat segera,” Iran kembali melancarkan serangan terhadap Kuwait, Bahrain, dan UEA pada Selasa pagi, sementara Arab Saudi mengatakan telah menghancurkan dua drone di wilayah timurnya yang kaya minyak.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait