1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Program Atom Iran

11 Agustus 2005

Sorotan berbagai media cetak Eropa mengarah ke perundingan program nuklir Iran, dimana kedua pihak yang bersengketa bersikeras mempertahankan posisi masing-masing.

Perundingan prgoram atom Uni Eropa - Iran
Perundingan prgoram atom Uni Eropa - IranFoto: AP

Uni Eropa menuntut penghentian semua aktivitas nuklir Iran. Sementara Iran bersikukuh akan menjalankan instalasi nuklir Isfahan. Harian Inggris The Times menilai, Iran melakukan permainan ganda dalam perundingan program nuklirnya dengan Uni Eropa.

"Dua kesimpulan dapat ditarik dari pembukaan kembali instalasi nuklir Isfahan. Yang pertama, rejim Iran memang tak pernah berniat menutup industri nuklir nasionalnya, sebuah industri dengan instalasi rahasia, yang tersembunyi dari mata Badan Energi Atom Internasional dan secara jelas tidak bertujuan untuk memenuhi keperluan sipil. Kesimpulan kedua, Iran dari awal berencana menipu Uni Eropa, bahkan sebelum negara itu memasuki perundingan dengan Inggris, Perancis dan Jerman dua tahun lalu. Iran berharap dapat menyisihkan Amerika Serikat tanpa harus mengorbankan proses pengayaan uraniumnya. Tetapi ternyata para petinggi Iran salah perhitungan."

Harian Perancis Le Monde mengecam sikap Uni Eropa, yang tampaknya kurang tegas dalam menghadapi Iran:

"Dalam perundingan program nuklir, Iran menunjukkan ketegasan, diplomat mereka dapat bersikap ramah dan sekaligus keras. Sebaliknya, Eropa tampak salah tingkah. Mereka tidak memperhitungkan perubahan haluan yang terjadi dengan terpilihnya Presiden Ahmadinejad yang ultra-konservatif. Ibarat orang yang buta dan tuli, Eropüa tidak dapat menafsirkan sinyal yang datang dari Teheran. Tiga negara Uni Eropa, Jerman, Perancis dan Inggris didukung oleh Amerika Serikat masih mengharpakan adanya penyelesaian diplomatis. Dan memang tidak ada alternatif lain, bila tidak ingin terjadi eskalasi situasi yang akhirnya harus diselesaikan dengan aksi militer."

Komentar senada disampaikan Harian Austria Die Presse, yang mengkritik strategi perundingan Uni Eropa dalam menghadapi Iran:

"Iran sudah merayakan kemenangannya, sebelum sidang khusus Badan Energi Atom Internasional dimulai. Politik Internasional yang menjadi dasar perembukan dengan tiga negara Uni Eropa, memang mendukung posisi Iran. Pakta non-profilerasi nuklir mengizinkan Iran melakukan proses konversi dan pengayaan uranium, selama hasilnya digunakan untuk tujuan sipil. Dengan konversi uranium menjadi uranhexafluorid, Iran hanya akan melanggar Perjanjian Paris yang disepakatinya bersama Uni Eropa. Para mullah memang belum memulai proses pengayaan uranium. Mereka sedang mencoba dan mencari titik lemah Uni Eropa. Tentu saja Uni Eropa bisa menggantungkan sanksi terhadap iran, tanpa menunggu campur tangan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tetapi tampaknya Uni Eropa belum menyadari, bahaw opsi tersebut terbuka untuk mereka. Satu bukti kelemahan lawan perundingan Iran."

Harian Norwegia berhaulan konservatifAftenposten menyoroti andil pihak ketiga, seperti Rusia dan Israel, dalam penyelesaian sengketa nuklir Iran:

"Akhir dari sengketa nuklir Iran memang tidak dapat diprediksi. Salah satu alasannya adalah ketidakjelasan sikap Rusia dalam sengketa ini. Moskow munya kepentingan yang bertentangan. Sebagai pemasok piranti untuk instalasi nuklir Isfahan, Rusia diuntungkan oleh program nuklir Iran. Tetapi sebagai negara kuasa atom dan negara yang juga dapat menjadi sasaran teroris bersenjata nuklir, Rusia pun tidak ingin teknologi nuklir tersebar luas. Haluan keras yang dianut Iran hanya merugikan diri sendiri dan menambah ketegangan di daerah yang biasa dicekam pergolakan. Selain itu, selalu ada kemungkinan Israel tiba-tiba membom instalasi nuklir Irak. Oleh sebab itu, penyelesaian diplomatik sudah seharusnya menjadi prioritas utama pihak yang bersengketa."