Program Konjunktur AS Jadi Panutan
25 November 2008
Program konjunktur yang digagas presiden AS terpilih Barack Obama dan pengucuran dana talangan terhadap Citigroup oleh pemerintah saat ini serta silang sengketa program konjunktue Eropa disoroti dengan tajam sejumlah harian internasional.
Harian Italia La Stampa yang terbit di Turin dalam tajuknya berkomentar :
Dengan program konjunkturnya, Obama membantah tudingan lawan politiknya yang menyebut ia akan menjalankan politik perpajakan yang tidak bertanggung jawab. Gagasan mengatasi resesi tanpa menaikan pajak di masa depan, atau mencetak uang baru adalah omong kosong. Amatlah penting mencegah jangan sampai uang milik rakyat dihambur-hamburkan, untuk menyelamatkan perusahaan yang sudah ketinggalan zaman. Dalam kasus ini adalah industri otomotif di Detroit. Karena itu, Obama tahu persis bahwa ia memerlukan istilah “transaksi baru“ bagi program konjunkturnya.
Harian Italia lainnya Corriere della Sera yang terbit di Roma mengomentari reaksi bursa atas program konjuntur Obama itu serta paket dana talangan bagi Citigroup.
Di Wall Street mendominasi suasana, bahwa Obama telah memulai fase baru dari manajemen krisisnya. Di garis depan, efek Obama amat terasa berkaitan dengan penunjukan tim barunya untuk bidang ekonomi. Namun, lonjakan bursa di hari Senin lalu adalah dampak dari paket penyelamatan Citigroup. Setelah bulan sebelumnya kementrian keuangan AS memompakan dana segar sebesar 300 milyar ke sistem keuangan, lembaga pengendali itu kini mengubah haluannya. Yakni bersedia mengambil alih tanggung jawab dari investasi yang prospeknya buruk, dari masing-masing bank yang bermasalah.
Sementara harian liberal kiri Spanyol El Mundo dalam tajuknya menulis, dalam program konjunktur AS patut diteladani sementara Uni Eropa tidak mampu mencapai kesepakatan. Harian yang terbit di Madrid itu berkomentar :
Rencana penyelamatan Citigroup di AS memicu tumbuhnya kepercayaan baru di pasar keuangan. Dengan itu, ditafsirkan pemerintah AS sudah melancarkan haluan baru. Ketimbang membeli hypotek macet, bank sentral AS kini justru menanamkan modalnya. Operasi semacam ini, dapat menjadi panutan bagi aksi penyelamatan di masa depan. Tapi kebijakan penyelamatan yang dilancarkan Uni Eropa berbeda-beda. Inggris mengumumkan penurunan pajak pertambahan nilai. Sementara Jerman dan Spanyol menentang program penurunan pajak untuk memicu belanja konsumsi. Hal ini menunjukkan ketidak mampuan Uni Eropa, dalam situasi krisis menyepakati politik keuangan bersama.
Dan terakhir harian Perancis La Croix yang terbit di Paris juga mengomentari program konjunktur Eropa.
Perbedaan pendapat menyangkut paket konjunktur memecah belah Eropa. Dalam pertemuan puncak Jerman-Perancis hari Senin, Angela Merkel memperingatkan jangan tergesa-gesa melakukan tindakan. Sebaliknya Nicolas Sarkozy sekali lagi mendesak dilancarkannya program konjunktur Eropa yang lebih bersemangat dan bersatu padu. Tapi untuk mencapai kompromi luas diantara anggota Uni Eropa, tentu saja Perancis harus menurunkan kecepatannya. Dan Jerman justru harus meningkatkan kepeduliannya pada nasib negara mitranya. Pada dasarnya, resep utama bagi suksesnya program Uni Eropa, adalah melakukan banyak kompromi.