Program Riset Nuklir Iran
12 Januari 2006
Sebuah langkah yang oleh sebagian pihak dipandang sebagai sikap menantang. Dan negara-negara barat, demikian komentar harian liberal kiri Spanyol El Pais, tak punya jawaban atas tantangan Iran itu.
"Solusi militer bagi konflik mengenai program nuklir Iran, jelas bukan jawaban. Instalasi nuklir di negara itu tersebar letaknya dan sebagian ada di bawah tanah. Iran tahu, sanksi ekonomi tak akan berdampak banyak. Penyelesaian bagi konflik tersebut juga bukan terletak pada besarnya hukuman melainkan pada peraturan internasional yang membendung perluasan senjata nuklir dan lebih ketat dari yang berlaku selama ini. Tetapi itu untuk jangka panjang. Sementara dalam jangka pendek, negara-negara barat tak punya jawaban terhadap tantangan dari Iran."
Harian konservatif Norwegia Aftenposten memandang, Iran sebetulnya bukan hanya menantang barat.
"Tindakan Iran membuka segel di instalasi nuklirnya adalah tantangan dramatis terhadap masyarakat dunia. Kita bisa menghadapi konflik berbahaya di kawasan yang mudah meledak. Sanksi dari PBB bisa saja menjadi jalan keluar. Namun itu juga bisa menggiring pada penggunaan sarana militer. Yang paling diminta sekarang adalah jalur diplomasi aktif, yang memerlukan kesepakatan penuh para pemegang hak veto di Dewan Keamanan. Dan itu tidak mudah."
Harian Swiss Tagesanzeiger yang terbit di Zurich menandaskan, inilah saatnya bagi PBB untuk bertindak.
"Jika Eropa tidak mau kehilangan muka sepenuhnya, maka mereka harus melakuakan apa yang dituntut AS sejak berbulan-bulan lalu. Yaitu membawa masalah program atom Iran ke DK PBB. Tentu saja, tiga besar Eropa -Jerman, Prancis, Inggris- sudah menunjukkan bahwa mereka sangat ingin memberi diplomasi sebuah kesempatan. Kini, banyak negara-negara yang bersimpati pada Iran di dewan gubernur IAEA menjadi lebih siap untuk menyetujui agar masalah Iran diteruskan ke DK. Lembaga tertinggi PBB itulah yang kiranya memutuskan. Apa yang terjadi kemudian? Sanksi kah? Di Iran, kekuasaan dipegang fraksi politik yang mendambakan pengucilan dunia internasional karena mereka berharap, dengan demikian rakyat akan berdiri di belakang mereka."
Sementara itu, harian konservatif Inggris Daily Telegraph mengkritik Badan Energi Atom Internasional IAEA:
"Keputusan sepihak Iran untuk melanjutkan kembali pengayaan uranium ditanggapi lamban oleh IAEA. Mohammad El Baradei, ketua IAEA yang dianugerahi hadiah Nobel, hanya menanggapi tantangan terbuka Teheran dengan kalimat bahwa masyarakat internasional akan kehilangan kesabaran. Semestinya El Baradei mengatakan, tindakan Iran tidak bisa ditolerir lagi dan menduduki prioritas tertinggi untuk segera dibawa ke DK."
Harian Austria Die Presse berkomentar tajam.
"Iran telah merahasiakan, menipu dan berdusta. Tapi, seperti sebelumnya, ada saja orang-orang naif yang mempercayai pernyataan rezim Islam tersebut bahwa mereka hanya ingin memproduksi listrik dan bukan senjata nuklir. Lebih parah lagi, para simpatisan Mullah, yang menganggap tidak ada masalah jika Iran memiliki bom atom. Toh Israel juga punya, demikian kata mereka, dengan perasaan keadilan yang keliru. Dan mereka lupa, bahwa pemegang kekuasaan di Teheran terbukti mendukung teroris dan dalam setiap kesempatan mengharapkan Israel musnah."