1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Protes Terhadap Penindasan Cina di Tibet

14 Maret 2008

Protes para biksu sehubungan dengan situasi di Tibet dan kondisi umum hak asasi manusia di Cina jadi sorotan media internasional. Cina tahun ini memang jadi perhatian sehubungan dengan penyelenggaraan Olimpiade 2008.

Warga Tibet di India melancarkan protes terhadap penindasan CinaFoto: AP

Harian Amerika Serikat Washington Post menulis:

Polisi mengepung sedikitnya dua biara udha di Lhasa dalam upaya meredam aksi protes para biksu. Konfrontasi antara para biksu dan aparat keamanan berawal hari Senin. Sembilan biksu dan dua warga biasa berkumpul untuk mengenang aksi protes massal tahun 1959, yang kemudian menewaskan ribuan orang dan menyebabkan pimpinan spiritual Tibet, Dalai Lama, harus mengungsi ke India. Hari Senin lalu, para demonstran ditangkap, lalu polisi menghentikan sekitar 400 biksu yang mulai berpawai. Hari Rabu, para biksu terus melancarkan aksi protes dan polisi mulai menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa. Akhirnya markas para biksu dikepung, hubungan tilpun diputus dan banyak biksu yang ditahan, demikian laporan media. Juru bicara pemerintahan regional Cina di Lhasa, Fu Jun, membantah laporan-laporan media dan menyebut berita-berita itu "absurd dan terlalu sensasional".

Harian Prancis Liberation berkomentar:

Tindakan brutal polisi terhadap para biksu Tibet yang dengan berani menyuarakan protesnya menunjukkan bagaimana sikap sebenarnya pimpinan Cina menjelang penyelenggaraan Olimpiade di Beijing. Kekerasan yang ditunjukkan aparat keamanan Cina untuk menertibkan kembali ibukota Tibet, Lhasa, adalah indikasi besarnya kekhawatiran di Beijing, bahwa protes warga Tibet ini bisa mengganggu pesta Olimpiade. Tentu orang bisa mengatakan, sistem sosial di Tibet masih feodalis dan kawasan itu masih sangat tradisional dan tertinggal, seperti yang dinyatakan para pimpinan komunis Cina. Namun ini tidak mengubah kenyataan, bahwa pimpinan spiritual Tibet, Dalai Lama, sejak dulu telah menunjukkan komitmen perjuangan tanpa kekerasan. Ia juga menyatakan siap menerima otonomi Tibet dan tidak bersikeras menuntut kemerdekaan.

Harian Inggris Daily Telegraph menilai:

Banyak pemerintahan, diantaranya pemerintah Inggris, yang takut mengecam dan menekan Cina sehubungan dengan situasi hak asasi manusianya yang buruk. Antara lain penerapan hukuman mati secara massal, penerapan hukuman kerja paksa, penyiksaan, intimidasi terhadap pengacara, jurnalis dan aktivis buruh, atau sensor di internet dan pengejaran para pengikut sekte Falun Gong. Pesta Olimpiade tahun ini bisa dikatakan berhasil mengimbangi kegagalan negara-negara Barat menyoroti Cina. Karena Olimpiade akhirnya mengarahkan perhatian publik kepada Cina, kepada politiknya membantu rejim-rejim penindas di kawasan lain dan kepada hal-hal buruk yang berlangsung di Cina sendiri. Beijing berargumentasi, olahraga tidak ada hubungannya dengan politik. Tapi setiap orang yang sedikit belajar sejarah tentu tahu, bahwa seorang diktator, misalnya rejim Hitler atau rejim Jerman Timur dulu, sering menggunakan olahraga sebagai alat propraganda demi memperbaiki citra mereka. (hp)