Puluhan Tewas dalam Serangan Kelompok Bersenjata di Nigeria
Rana Taha | Sorta Caroline AFP, AP, Reuters
9 April 2026
Serangan kelompok bersenjata di 10 desa di Nigeria pada pekan ini telah menewaskan puluhan orang. Kelompok kriminal lokal dan militan Islam diduga menjadi dalangnya.
Negara Bagian Niger di Nigeria termasuk di antara negara-negara bagian di wilayah utara yang dilanda pemberontakan yang telah berlangsung bertahun-tahun.Foto: Ifeanyi Immanuel Bakwenye/AFP
Iklan
Kelompok bersenjata menyerang setidaknya 10 desa di Negara Bagian Niger dan Kebbi, Nigeria tengah dan barat laut, menurut laporan warga setempat, tokoh agama, dan laporan lembaga kemanusiaan yang diterima kantor berita AFP.
Sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas dalam serangan pada Selasa (07/04) di Desa Bagna dan Erena, Distrik Shiroro, Negara Bagian Niger, Nigeria tengah.
"Mereka datang dengan sepeda motor dan mulai menembak. Itu adalah serangan mendadak karena terjadi pada dini hari," kata Jibrin Isah, warga Erena, seperti dikutip oleh kantor berita Associated Press.
Seorang warga Erena lainnya, Tijjani Ibrahim, memperkirakan puluhan pria bersenjata menyerbu desanya. "Menembak secara sporadis, membunuh orang, dan membakar rumah-rumah." Ia sendiri berhasil selamat setelah melarikan diri ke semak-semak.
"Setidaknya 20 orang tewas dan para penyerang juga menculik banyak orang," kata Ibrahim kepada AFP. Polisi mengonfirmasi serangan di Distrik Shiroro, menambahkan bahwa "dua anggota kelompok penjaga keamanan" dan seorang sopir dari tim keamanan juga tewas.
7 Organisasi Teror Paling Ditakuti Pimpinan Dunia
Pemimpin dunia mengidentifikasi terorisme internasional sebagai ancaman paling serius bagi stabilitas global. Walau kriteria terorisme terus berubah, namun kebrutalan 7 kelompok teror ini membuat ngeri pemimpin dunia.
Foto: Reuters/K. Ashawi
Islamic State di Irak dan Suriah (ISIS)
Didirikan 2004 tapi baru terkenal secara global 2014 setelah mengumumkan sepihak berdirinya kekalifahan di kawasan luas Irak dan Suriah. Di bawah pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi, ISIS terkenal lewat teror brutalnya, antara lain pemenggalan kepala para sandera, perbudakan seks perempuan dan penghancuran situs bersejarah.
Foto: picture-alliance/dpa
Abu Sayyaf Group
Organisasi teror di Flipina ini berbasis di kepulauan Jolo dan Basilan. Didirikan 1991 dimasukan daftar grup teroris AS 1997. Abu Sayyaf bertanggung jawab atas serangan teror sebuah ferry di Filipina (2004) yang menewaskan 116 orang. Grup ini mendapat dana dari tebusan sandera dan perompakan kapal barang. Tujuan utama Abu Sayyaf adalah mendirikan negara Islam merdeka di selatan Filipina.
Foto: Getty Images/AFP/R.Gacad
Harakat al-Shabaab al-Mijahideen
Terkenal sebagai al-Shabaab, organisasi teror ini beroperasi di kawasan Timur Afrika terutama di Somalia dan Kenya. Tahun 2006 Al Shabaab merebut kawasan luas di Somalia termasuk ibukota Mogadishu, tapi 2007 berhasil digempur mundur pasukan Somalia dan Ethiopia. Sejak itu grup beroperasi dari kawasan pedesaan dan melancarkan serangan ke kota. Anggota Al Shabaab ditaksir sekitar 9.000 orang.
Foto: Stringer/AFP/Getty Images
Tehrik-e Taliban Pakistan
Taliban di Pakistan sejak 2007 menjalin aliansi dengan sejumlah kelompok radikal lainnya di kawasan perbatasan ke Afghanistan. Kelompok ini tidak memiliki kaitan langsung dengan Taliban di Afghanistan. Grup afliasi Al Qaeda ini terutama menentang pemerintahan Pakistan serta militernya. Grup ini juga terkenal anti ideologi barat dan sering melancarkan serangan pembunuhan.
Foto: picture-alliance/dpa/TTP
Jamā’at Ahl as-Sunnah lid-Da’wah wa’l-Jihād
Kelompok teroris yang didirikan 2002 ini lebih terkenal dengan nama Boko Haram. Terutama beroperasi di Nigeria namun meluaskan aksinya di negara tetangga Chad, Niger dan Kamerun. Boko Haram membunuh sedikitnya 15.000 warga sipil dan menculik 276 gadis Chibok yang memicu kecaman internasional. Grup teroris ini berafiliasi dengan ISIS dan bertujuan menumbangkan pemerintahan Nigeria.
Foto: picture-alliance/AP Photo/G. Osodi
Tahrir al-Sham
Dulu kelompok teror yang berafiliasi dengan Al Qaeda ini bernama Front Al-Nusra. Pertengahan tahun 2016 kelompok ini menyempal dari Al Qaida dan membentuk aliansi dengan kelompok jihadis militan Sunni lainnya di Suriah dan memakai nama baru Tahrir al-Sham. Grup ini memainkan peranan utama dalam perang saudara di Suriah dan berada di pihak pemberontak yang ingin menumbangkan rezim Bashar al-Assad.
Foto: picture-alliance/Al-Nusra Front via AP
Hizbullah Libanon
Organisasi ini adalah partai politik sekaligus kelompok militan bersenjata Syiah. Didirikan 1982 dengan bantuan keuangan dan latihan militer Iran, sebagai reaksi atas invasi Israel ke selatan Libanon. Hizbullah terutama melancarkan serangan atas target Israel, Amerika dan barat. Dalam konflik Suriah, Hizbullah mendukung presiden Bashar al-Assad. Penulis: Cristina Burack (as/yf)
Foto: J. Eid/AFP/Getty Images
7 foto1 | 7
Distrik Shiroro terus-menerus menghadapi serangan dari kelompok kriminal lokal dan kelompok jihadis. Kedua kelompok tersebut semakin sering menjalin aliansi dan melakukan penyerangan, membuat penduduk setempat terpaksa mengungsi.
Pada hari Rabu (08/04) Amerika Serikat mengeluarkan perluasan peringatan perjalanan ke Nigeria serta memberikan izin bagi staf kedutaan non-darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Ibu Kota Abuja, seiring memburuknya situasi keamanan di negara itu.
Iklan
Puluhan tewas di Nigeria
Di Negara Bagian Kebbi, Nigeria barat laut, seorang tokoh agama mengatakan kepada AFP bahwa ia dapat memastikan 24 orang telah tewas. Namun ia menambahkan, "berdasarkan laporan yang kami terima (08/04), jumlah korban tewas tercatat lebih dari 40 orang."
10 Negara Paling Berbahaya di Dunia
Tiap tahun Institut Ekonomi dan Perdamaian (IEP) publikasi Global Peace Index. Peringkat dibuat berdasarkan 22 indikator, antara lain konflik ekstern dan intern serta korban tewas. Semakin tinggi skor, semakin berbahaya.
Foto: Zac Baillie/AFP/Getty Images
10. Korea Utara (skor GPI: 2.977)
Setelah merdeka dari Jepang, Korea terbagi dua. Korea Utara dipimpin keluarga Kim. Merekalah pemimpin struktur pemerintahan. Militerisasi besar-besaran menjadikan ekonomi negara lemah. Warga tidak punya properti, sehingga menyulut korupsi. Warga tidak punya hak bicara. Pemerintah bisa tangkap dan tahan orang tanpa alasan. Eksekusi dan kelaparan jadi penyebab peringkat rendah negara dalam GPI.
Foto: picture-alliance/AP Photo/J. Chol Jin
9. Pakistan (skor GPI: 3.049)
Sejak kemerdekaan tahun 1947, Pakistan sudah berperang tiga kali dengan India. Ini melemahkan ekonominya. Situasi politik yang tidak stabil dan kekuasaan militer membuat situasi tambah buruk. Pakistan kerap digunakan teroris sebagai basis.
Foto: Reuters
8. Republik Demokrasi Kongo (skor GPI: 3.085)
Setelah digulingkannya rezim otoriter di negara itu, tepatnya sejak 1997 negara selalu dilanda perang saudara. Lebih dari 5,5 juta orang tewas akibat perang atau situasi yang diakibatkan perang. Pengungsian besar-besaran sebabkan penyebaran penyakit berbahaya seperti malaria. Di samping itu kurang gizi menyebar luas.
Foto: Reuters/N'Kengo
7. Sudan (skor GPI: 3.295)
Sudan terpuruk karena kekerasan antar etnis yang tak kunjung henti. Dua perang saudara dan konflik antar suku memecah-belah negara, yang akhirnya menyebabkan pemisahan diri bagian selatan Sudan menjadi negara Sudan Selatan. Tingginya kemiskinan dan praktek perbudakan memperburuk kondisi negara. Foto: serangan terhadap Kedutaan Besar Jerman di Khartum, 2012.
Foto: AFP/Getty Images
6. Somalia (skor GPI: 3.307)
Somalia tidak punya pemerintahan definitif, dan jadi tempat ideal bagi tumbuhnya kelompok radikal. Somalia dilanda perang saudara sejak 1991. Perang menyebabkan negara dilanda kemiskinan dan intervensi internasional memicu situasi tambah buruk. Foto: seorang tentara berpatroli di pantai Lido setelah serangan terhadap restoran Beach View Cafe, di Mogadishu, 22 Jan 2016.
Foto: Reuters/F. Omar
5. Republik Afrika Tengah (skor GPI: 3.332)
Negara ini merdeka dari Perancis 1960, setelahnya dikuasai rezim militer. Pemilu pertama diadakan 1993, tapi gagal menciptakan stabililitas. Pemerintah, kelompok Kristen dan Islam adu kuat memperebutkan kekuasaan. Foto: seorang tentara PBB berpatroli dekat mesjid Koudoukou di Bangui sebelum kedatangan Paus Fransiskus, 30 November 2015.
Foto: picture-alliance/AP Photo/A. Medichini
4. Sudan Selatan (skor GPI. 3.383)
Negara terbentuk 2011 setelah memisahkan diri dari Sudan. Sejak itu negara baru ini terus dilanda perang saudara dan perang antar suku yang berebut kekuasaan. Konflik sebabkan tewasnya ratusan ribu orang, mungkin jutaan. Selain kekerasan etnis, kondisi kesehatan sangat buruk. Foto: seorang pengungsi Sudan Selatan membawa harta miliknya di Joda, setelah lari dari daerah perang Januaryi2014.
Foto: Reuters
3. Afghanistan (skor GPI: 3.427)
Negara ini selama beberapa dekade diduduki kekuatan asing . Setelah serangan teror 11 September di New York, AS menggulingkan kekuasaan Taliban di negara itu. Sejak 2001 tentara AS bercokol di negara itu. Akibat perang yang tak kunjung henti, infrastruktur negara rusak berat. Foto: polisi Afghanistan menjaga lokasi tempat terjadinya serangan bom di Kabul, 19 Mei 2015.
Foto: Reuters/M. Ismail
2. Irak (skor GPI: 3.444)
Setelah penggulingan Saddam Hussein 2003, Irak tidak pernah tenang. Sekarang Irak harus hadapi kelompok teroris ISIS (Islamic State) yang memperluas kekuasaan di wilayahnya dan di Suriah. ISIS sekarang berhasil bercokol di Mosul, Tikrit, Falluja dan menguasai sejumlah ladang minyak. Foto: aparat keamanan Irak memeriksa lokasi terjadinya ledakan bom mobil di New Baghdad 11 Januari 2016.
Foto: Reuters/Stringer
1. Suriah (skor GPI: 3.645)
Suriah jadi negara paling tidak aman sedunia. Perang saudara berkecamuk antara kelompok pemberontak lawan rezim Bashar al Assad. Untuk atasi konflik, pemerintah gunakan cara brutal dan senjata kimia. Situasi politik ini disalahgunakan, antara lain oleh ISIS. Ratusan ribu orang tewas sejauh ini. Foto: warga beri pertolongan setelah serangan bom oleh tentara pemerintah di Aleppo, 20 November 2015.
Foto: picture-alliance/NurPhoto/A. Alhabi
10 foto1 | 10
Seorang pemimpin Kristiani lainnya juga menyebutkan korban jiwa mencapai 40 orang.
"Mereka membunuh siapa saja yang terlihat, mereka membunuh orang Kristen, muslim, dan penganut agama tradisional," kata tokoh agama itu, yang meminta namanya tidak disebutkan demi alasan keamanan.
Dia mengatakan para penyerang telah merajalela di wilayah tersebut selama tiga hari terakhir, menyisir semak-semak tempat warga desa biasa bersembunyi dan menembaki mereka. Setidaknya 500 orang mengungsi dan ditampung di gereja-gereja dan sekolah-sekolah di Kota Yauri.
Belum ada kelompok yang mengonfirmasi telah melakukan serangan tersebut. Namun, polisi setempat menduga kelompok jihadis lokal yang dikenal sebagai Mahmuda berada di balik serangan di Kebbi.
AFP melaporkan bahwa kelompok Mahmuda, yang aktif di wilayah Nigeria barat laut , berafiliasi dengan Mahmud al-Nigeri, seorang pejabat senior dalam kelompok jihadis Ansaru. Ansaru memisahkan diri dari kelompok militan Boko Haram dan sejak itu bersekutu dengan Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM).
Negara Bagian Kebbi terletak di perbatasan Nigeria dengan Benin dan Niger, dan sejak 2025 serangan jihadis dilaporkan meningkat.