1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Cek Fakta: Purbaya Sebut Dana Desa Disalahgunakan?

Felicia Salvina
20 Februari 2026

Beredar video viral diduga Menteri Keuangan Purbaya membahas penyalahgunaan dana desa. Penelusuran DW menunjukkan video tersebut palsu dan merupakan manipulasi AI.

Cek Fakta DW Indonesia tentang video diduga Menteri Keuangan Purbaya
Pakar menilai topik yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat memang menjadi sasaran empuk disinformasiFoto: Facebook

Beredar video viral di Facebook yang diduga adalah keterangan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa soal penyalahgunaan dana desa. Video tersebut diunggah pada 5 Januari 2026 dan kini telah ditonton lebih dari lima juta kali, dengan 122 ribu likes, serta lebih dari 12 ribu komentar.

Tim Cek Fakta DW Indonesia menelusuri kebenaran video tersebut.

Di dalam video, Menkeu Purbaya diduga mengatakan: "Sejak ada dana desa, kadesnya jadi kaya-kaya. Sawah, tanah di mana-mana. Lebih baik dana desa dialokasikan buat infrastruktur di pedalaman. Karena selama ini dana desa banyak yang disalahgunakan."

Cek Fakta DW: Video itu palsu dan manipulasi AI.

Dalam pengamatan detail terhadap video palsu ini, gerakan mulut Purbaya tampak tidak sinkron dengan perkataannya. Begitu pula dengan ekspresi dan intonasi suara yang kaku. Tidak hanya itu, gerakan tangannya pun tidak natural pada detik-detik tertentu.

Dari penelusuran Google reverse image, berbagai video terkait konferensi pers Menteri Purbaya dengan latar yang serupa diunggah oleh berbagai akun. Namun, tidak ada di antaranya yang berbicara soal kepala desa kaya dan dana desa yang disalahgunakan.

Saat dicek menggunakan HIVE Moderation, probabilitas video dimanipulasi AI adalah 88,8%. Audionya pun terdeteksi deepfake 66,5%.

Fakta anggaran dana desa

Dari segi konteks dana desa, menurut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 7 Tahun 2026 yang berlaku mulai 12 Februari 2026, sebesar 58,03% anggaran dana desa 2026 dialokasikan untuk dukungan terhadap Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Artinya, dari total Rp60,57 triliun, sebesar Rp34,57 triliun digunakan untuk program tersebut. Menurut pakar kebijakan publik UGM, Wahyudi Kumorotomo, meski muncul sentimen positif terhadap alokasi dana desa, hal itu tidak otomatis menjadi opsi yang lebih efektif untuk menanggulangi dugaan korupsi di level desa.

"Kalau penurunan proporsinya (dana desa) iya, mereka (pemerintah desa) kemudian tidak leluasa untuk mengalokasikan (anggarannya) karena kemudian dananya mengecil. Namun, apakah itu menjamin tidak ada korupsi?” ujar Wahyudi.

Kenapa banyak hoaks tentang Purbaya dan dana desa?

Faktanya, ini bukan kali pertama disinformasi soal Purbaya dan dana desa beredar. Tersebar juga hoaks mengenai Purbaya yang mau menghapus dana desa dan menggantinya dengan subsidi listrik hingga sembako. Ada juga disinformasi soal penghapusan dana desa yang diganti program untuk rakyat. Hoaks tersebut telah diluruskan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital via unggahan di laman webnya.

Pakar Komunikasi Digital, Firman Kurniawan, melihat bahwa topik yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat memang menjadi sasaran empuk disinformasi.

"Ketika masyarakat ini resah, tapi tidak mempunyai saluran untuk menyatakan, nanti akan muncul (berbagai) deepfake yang mewadahi itu. Kemudian karena publik merasa terwakili, itu akan menjadi ramai,” tutur Firman.

Tidak hanya soal isu, Firman pun mengatakan bahwa figur Menteri Purbaya yang sejak pengangkatannya hangat dibicarakan, kerap mengundang interaksi.

"Ketika para pendukung yang menyenangi Pak Purbaya mendukung lewat suaranya di media sosial, kemudian yang membencinya juga bersuara di media sosial, kontennya akan ramai. Ini juga akan menguntungkan para pengunggah konten yang kontennya ternyata artificial intelligence (AI),” tutupnya.

Pakar menekankan, konten yang menarik banyak interaksi pada akhirnya menguntungkan pembuatnya karena dapat meningkatkan engagement dan pendapatan dari iklan. Namun, penting untuk melakukan cek fakta sebelum percaya ya, Sahabat DW. 

Editor: Melisa Ester Lolindu

Felicia Salvina Jurnalis untuk Deutsche Welle Indonesia di Jakarta.
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya