1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAmerika Serikat

AS Pertimbangkan Putaran Kedua Pembicaraan dengan Iran

Jon Shelton | Wesley Dockery | Kate Hairsine sumber: AFP, AP, dpa dan Reuters
16 April 2026

Pemerintahan Trump mempertimbangkan putaran kedua pembicaraan dengan Iran di Pakistan, menurut Gedung Putih. Sementara itu, IMF memperingatkan potensi tekanan ekonomi jika konflik berlanjut.

Dua orang berjalan di area media center lokasi perundingan perdamaian AS-Iran di Islamabad
Pakistan kembali bersiap untuk putaran kedua pembicaraan damai AS-IranFoto: Wang Shen/Xinhua/dpa/picture alliance

Amerika Serikat (AS) tengah membahas putaran kedua pembicaraan damai dengan Iran di Pakistan, kata Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt kepada wartawan (15/04).

"Pembicaraan terus berjalan, dan kami optimistis kesepakatan bisa tercapai,” ujar Leavitt. Ia menambahkan, pembicaraan lanjutan sangat mungkin kembali digelar di Islamabad.

Sebelumnya, Pakistan telah menjadi tuan rumah putaran pertama pembicaraan antara delegasi AS dan Iran akhir pekan lalu, kontak diplomatik langsung tingkat tinggi pertama antara kedua pihak dalam puluhan tahun.

Pakistan bersiap untuk putaran kedua pembicaraan damai AS-Iran

Para pemimpin politik dan militer Pakistan bekerja keras untuk mendorong kelanjutan pembicaraan damai AS-Iran, di tengah gencatan senjata yang masih rapuh.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bertolak ke Arab Saudi untuk membahas situasi Timur Tengah dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Setelah itu, ia dijadwalkan mengunjungi Qatar dan Turki bersama sejumlah delegasi tingkat tinggi Pakistan, termasuk Menteri Luar Negeri Ishaq Dar dan Menteri Informasi Attaullah Tarar.

PM Pakistan mengunjungi sejumlah negara di kawasan Timur Tengah bersama sejumlah delegasi tingkat tinggi PakistanFoto: Pakistan's Prime Minister Office/Handout/REUTERS

Di saat yang bersamaan, Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, mengunjungi Teheran untuk meredam konflik. Ia disebut sebagai mediator kunci antara AS dan Iran. 

Media pemerintah Iran, IRIB, melaporkan Munir akan membawa pesan dari Washington yang kemungkinan akan berkaitan dengan perpanjangan gencatan senjata dan rencana putaran kedua perundingan AS-Iran.

Sebelumnya, pembicaraan di Islamabad akhir pekan lalu hanya berlangsung satu hari. Negara-negara di kawasan kini berupaya mendorong AS-Iran kembali ke meja perundingan secepatnya, mengingat konflik ini dinilai membebani perekonomian global.

Iran: Kami akan tenggelamkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz

Mohsen Rezaei, penasihat militer utama Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, melontarkan ancaman kepada AS dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran (15/04).

Rezaei, seorang mantan panglima Pasukan Garda Revolusi Iran tahun 1981 hingga 1997 itu menolak wacana gencatan senjata dan mengkritik dan mempertanyakan peran AS di Selat Hormuz. Ia bahkan mengancam kapal AS bisa diserang rudal Iran.

Ia juga mempertanyakan sikap AS dengan mengatakan, "Tuan Trump ingin menjadi polisi Selat Hormuz, apakah ini benar-benar tugasnya?"

Pernyataan ini muncul setelah Donald Trump merespons penutupan Selat Hormuz oleh Iran dengan langkah blokade. Situasi ini meningkatkan risiko konfrontasi langsung, terutama karena kapal perang AS berpotensi menjadi target di jalur laut sempit tersebut.

Dikenal sebagai tokoh garis keras, Rezaei juga mengatakan ia akan menyambut invasi darat AS, dengan klaim "kami akan menahan ribuan sandera dan untuk setiap sandera kami akan mendapat satu miliar dolar.” 

Peringatan bos IMF jika konflik terus berlanjut

Direktur Eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan dampak negatif harga minyak yang tinggi terhadap ekonomi global di tengah konflik AS-Israel dan Iran.

"Kita harus bersiap menghadapi masa-masa sulit di depan (jika konflik berlanjut)”, ujarnya dalam pertemuan IMF dan Bank Dunia di Washington.

IMF memperingatkan potensi tekanan ekonomi global atas lonjakan harga minyak jika perang terus berlanjutFoto: Fadel Senna/AFP/Getty Images

Georgieva menambahkan, lonjakan harga energi bisa mendorong inflasi yang lebih luas, termasuk ke harga pangan, terutama jika pasokan pupuk tidak segera kembali stabil seiring berlanjutnya konflik.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Ayu Purwaningsih

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait