1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Putin Akui Menganeksasi Krimea

17 November 2014

Presiden Rusia Putin akui tentaranya terlibat dalam aneksasi Krimea. Tapi ia menegaskan hal itu tidak melanggar hukum internasional karena mencegah terjadinya pembersihan etnis di timur Ukraina.

Putin Luftfahrtschau MAKS Mänover ARCHIVBILD 2005
Foto: picture-alliance/dpa/epa Tass

"Militer kami memblokir angkatan bersenjata Ukraina di Krimea," ujar Presiden Rusia Vladimir Putin dalam wawancara televisi kanal 1 Jerman-ARD. Tapi Putin menegaskan hal itu tidak melanggar hukum internasional karena dalam referendum kontroversial, rakyat di kawasan itu memilih menyempal dari Ukraina. Ditegaskannya, pengerahan tentara ke Krimea bertujuan mencegah terjadinya banjir darah dan pembersihan etnis di timur Ukraina, yang akan berujung pada pembentukan sebuah negara Neo-Nazi.

Dalam wawancara ARD presiden Rusia itu juga menolak tuduhan bahwa pihaknya menyuplai senjata dan perlengkapan tempur kepada kelompok separatis. "Dewasa ini para pejuang bisa saja memperoleh senjata dari manapun," tegas Putin. Ia bahkan balas bertanya, apakah dunia juga mempertanyakan pengerahan militer dan senjata berat Ukraina di Krimea?

Uni Eropa bahas sanksi baru

Menanggapi gagalnya pendekatan bagi solusi krisis di Ukraina yang diupayakan tokoh puncak Eropa dalam KTT G20 di Brisbane, Australia, Uni Eropa hari Senin (17/11/14) menggelar sidang di Brussel, Belgia, membahas sanksi baru terhadap Rusia.

Pimpinan urusan luar negeri Uni Eropa, Frederica Mogherini, mengatakan bahwa sanksi baru pasti didiskusikan. "Tapi sanksi bukan tujuan utamanya. Sanksi bisa menjadi satu instrumen bersama dengan tindakan lainnya," ujar dia. Uni Eropa, menurut Mogherini, hendak mencari strategi menyeluruh, termasuk mendesak Ukraina untuk melakukan reformasi.

Sanksi yang dibahas Brussel terutama difokuskan pada perorangan, bukannya sanksi luas terhadap Rusia. Mereka yang dimasukkan daftar hitam, akan dilarang memasuki Uni Eropa dan dibekukan assetnya yang disimpan di Uni Eropa.

Menanggapi rencana sanksi ekonomi terbaru, Putin dalam wawancara dengan ARD sudah menegaskan, sanksi ibarat bumerang yang dampaknya akan kembali ke Uni Eropa. Disebutkannya, sanksi juga akan memiliki efek buruk bagi Ukraina yang memiliki utang 20 milyar Euro kepada Rusia.

Saat ini ekonomi Rusia mengalami tekanan berat gara-gara krisis Ukraina dan sebagai dampak sanksi internasional. Nilai tukar mata uang Rubel merosot drastis. Bank Sentral di Moskow juga memperhitungkan pelarian modal ratusan milyar Euro sepanjang 2014.

as/yf(afp,ap,rtr,dpa)