Putin janji dukung Iran saat bertemu Menlu Araghchi
28 April 2026
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg pada Senin (27/04). Dalam pertemuan itu, Putin menyampaikan harapannya agar perdamaian segera tercapai.
Sebagai sekutu Iran, Rusia sejauh ini masih menahan diri untuk tidak terlibat langsung dalam konflik di Timur Tengah. Terutama di tengah fokus invasi besar-besaran ke Ukraina.
Meski begitu, Putin tetap menyatakan dukungan kepada Iran. Ia menyebut Iran akan mampu melewati "masa sulit” akibat perang. Putin juga berharap agar situasi segera membaik.
"Dari pihak kami, kami akan melakukan segala upaya untuk mendukung kepentingan Anda dan masyarakat di kawasan, supaya perdamaian bisa segera terwujud,” kata Putin, seperti dikutip kantor berita negara Rusia, RIA.
Araghchi tiba di Rusia pada Senin (27/04) setelah sebelumnya mengunjungi Pakistan dan Oman sebagai mediator untuk membahas konflik di Timur Tengah. Hingga kini, upaya perdamaian antara Iran dan Amerika Setikat masih tertunda.
Upaya negosiasi masih buntu
Sejumlah laporan menyebut Iran sempat menawarkan kesepakatan kepada AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, menurut laporan Axios, Iran ingin pembahasan soal nuklir ditunda ke tahap berikutnya.
Presiden AS Donald Trump tampak menanggapi proposal tersebut. Seorang juru bicara Gedung Putih mengatakan kepada Bloomberg bahwa posisi AS dalam negosiasi tetap kuat.
Media Iran, Fars melaporkan bahwa upaya perundingan putaran kedua masih berlangsung. Iran disebut telah mengirimkan "pesan tertulis" kepada AS. Ini dilakukannya melalui Pakistan sebagai mediator.
Gedung Putih juga menyebut tim keamanan nasional Trump telah membahas proposal dari Iran pada Senin.
"Saya tidak ingin mendahului pernyataan presiden atau tim keamanan nasionalnya,” kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt.
"Apa yang bisa saya katakan adalah bahwa batas-batas yang ditetapkan presiden terkait Iran sudah disampaikan dengan sangat jelas. Bukan hanya kepada publik Amerika, tetapi juga kepada pihak Iran.”
Iran: AS penyebab kegagalan negosiasi
Setibanya di Moskow, Araghchi menyalahkan AS atas kegagalan negosiasi putaran pertama di Pakistan, pada pertengahan April lalu.
"Meski sempat ada kemajuan, pendekatan AS dalam negosiasi sebelumnya gagal karena tuntutan yang berlebihan,” ujar Araghchi, seperti dikutip media pemerintah Iran.
Ia juga menegaskan bahwa "keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz merupakan isu penting bagi dunia.”
Di tengah konflik, penutupan Selat Hormuz disebut telah mengganggu pasokan minyak dan gas global secara signifikan.
Iran terus dorong diplomasi kawasan
Kunjungan Araghchi ke sejumlah negara dilakukan di tengah mandeknya negosiasi dengan AS. Kedua pihak masih menolak sejumlah tuntutan masing-masing.
Pada Sabtu, Presiden Trump membatalkan rencana kunjungan utusannya ke Islamabad. Ia menyebut perundingan di sana "sia-sia".
Di Pakistan, Araghchi bertemu dengan kepala militer Asim Munir, Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dan Menteri Luar Negeri Ishaq Dar. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Oman sebelum kembali ke Islamabad. Setelahnya, ia bertolak ke Rusia untuk bertemu Putin.
Melalui akun X, Araghchi menyebut pembicaraannya di Oman berfokus pada upaya membuka kembali Selat Hormuz. Sebab, hal tersebut merupakan jalur strategis yang menghubungkan Oman dan Iran.
Tekanan AS terhadap Iran berlanjut
Di sisi lain, AS terus meningkatkan tekanan terhadap Iran. Termasuk melalui pembatasan ekspor bahan bakar fosil. AS juga mendesak Iran untuk menghentikan program pengayaan uranium yang berpotensi mengarah pada pengembangan senjata nuklir.
Namun, Iran menegaskan bahwa program nuklirnya hanyalah untuk tujuan damai.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Yuniman Farid