Korea Utara kembali meluncurkan rudal ke arah perairan timur, seolah menegaskan bahwa pihaknya tidak berniat berkompromi dengan Seoul. Di lain pihak, Korea Selatan masih berusaha melibatkan Uni Eropa di meja perundingan.
Pyongyang baru-baru ini menolak segala bentuk hubungan dengan Seoul dan menyebut Korea Selatan sebagai 'entitas paling berbahaya'Foto: Lee Yong-Ho/dpa/picture alliance
Iklan
Korea Utara meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah laut pada Rabu (08/04), setelah sebelumnya militer Korea Selatan mendeteksi peluncuran proyektil rudal balistik tidak dikenal pada hari Selasa (07/04). Menurut Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, rudal-rudal tersebut diluncurkan dari wilayah pesisir timur Korea Utara, Wonsan, menuju perairan timur.
Militer Korea Selatan telah meningkatkan kewaspadaannya dan melakukan pertukaran informasi dengan AS. Media Korea Selatan melaporkan bahwa proyektil yang diluncurkan pada hari Selasa menghilang dari radar militer setelah menunjukkan perkembangan yang tidak normal.
Pyongyang memupus harapan Seoul untuk jalin hubungan lebih hangat
Peluncuran rudal tersebut seolah menegaskan bahwa Korut tidak berniat meredakan ketegangan dengan Korsel, memupus harapan Seoul untuk melanjutkan dialog.
Pada hari Selasa (07/04) malam, Wakil Menteri Pertama di Kementerian Luar Negeri Korut, Jang Kum Chol bahkan mengatakan Korsel akan selalu menjadi "negara musuh paling agresif" bagi Korea Utara.
Ia mengejek Korea Selatan sebagai “si bodoh yang mengejutkan dunia” karena menaruh harapan, setelah saudara perempuan pemimpin Korea Utara, Kim Yo Jong, memuji Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, atas permintaan maaf terkait penyusupan drone ke Korea Utara. Ia juga melontarkan komentar merendahkan harapan Korea Selatan untuk memperbaiki hubungan dengan Utara.
Meski pejabat Korsel menafsirkan pernyataan saudara perempuan Kim sebagai tindakan rekonsiliasi yang langka, Jang menepis penafsiran tersebut dan mengatakan bahwa pernyataan itu dimaksudkan sebagai peringatan.
Saat Kongres ke-9 Partai Buruh Korea berlangsung selama seminggu pada Februari lalu, Kim Jong Un menolak segala bentuk hubungan dengan Seoul, dengan mengatakan kepada para delegasi bahwa "semua hubungan dengan Korea Selatan telah sepenuhnya diputus" dan menggambarkan Seoul sebagai "entitas paling agresif."
Meskipun Presiden Korsel telah berulang kali melakukan pendekatan untuk menormalisasi hubungan kedua negara, Korut menolak untuk kembali ke meja perundingan dengan Korsel dan AS, yang bersikeras melucuti senjata nuklir Pyongyang.
Iklan
Korsel harapkan Uni-Eropa jadi mediator
Dalam upaya mengatasi "ketidakpercayaan dan permusuhan" bilateral yang ada saat ini, pemerintah Korsel meminta Uni Eropa untuk bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan dengan Korut, meski Pyongyang tidak bersedia untuk berinteraksi.
"Saya akan sangat menghargai jika Uni Eropa bersedia mempertimbangkan untuk memfasilitasi dialog politik dua-plus-satu yang dimediasi Uni Eropa antara Korea Selatan dan Korea Utara,” jelas Menteri Unifikasi Korea Selatan Chung Dong-young kepada delegasi Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa dalam pertemuan di Seoul pekan lalu.
Chung menambahkan bahwa UE adalah "mediator yang optimal" karena memiliki "sejarah dalam menyelesaikan permusuhan berabad-abad dan mencapai integrasi regional," demikian dilaporkan Yonhap News.
Sejarah Perang Korea 1950-1953
Ambisi Kim Il Sung menguasai Semenanjung Korea tidak hanya merenggut jutaan nyawa, tetapi juga berakhir pahit untuk aliansi komunis di utara. Perang Korea gagal mengubah garis demarkasi yang masih bertahan hingga kini.
Foto: Public Domain
Korea Terbagi Dua
Selepas Perang Dunia II, Korea yang dijajah Jepang mendapat nasib serupa layaknya Jerman yang dibagi dua antara sekutu Barat dan Uni Soviet. Ketika AS membentuk pemerintahan boneka di bawah Presiden Syngman Rhee untuk kawasan di selatan garis lintang 38°, Uni Soviet membangun rezim komunis di bawah kepemimpinan Kim Il Sung.
Foto: Getty Images/AFP
Siasat Kim Lahirkan Perang Saudara
Awal 1949 Kim Il Sung berusaha meyakinkan Josef Stalin untuk memulai invasi ke selatan. Namun permintaan itu ditolak Stalin karena mengkhawatirkan intervensi AS. Terlebih serdadu Korut saat itu belum terlatih dan tidak mempunyai perlengkapan perang yang memadai. Atas desakan Kim, Soviet akhirnya membantu pelatihan militer Korut. Pada 1950 pasukan Korut sudah lebih mumpuni ketimbang serdadu Korsel
Foto: Bundesarchiv, Bild 183-R80329 / CC-BY-SA
Peluang Emas di Awal 1950
Keraguan Stalin bukan tanpa alasan. Sebelum 1950 Cina masih tenggelam dalam perang saudara antara kaum nasionalis dan komunis, pasukan AS masih bercokol di Korsel dan ilmuwan Soviet belum berhasil mengembangkan bom nuklir layaknya Amerika Serikat. Ketika situasi tersebut mulai berubah, Stalin memberikan lampu hijau bagi invasi pada April 1950.
Foto: picture-alliance/dpa/Bildfunk
Kekuatan Militer Korut
Berkat Soviet, pada pertengahan 1950-an Korut memiliki 200.000 serdadu yang terbagi dalam 10 divisi infanteri, satu divisi kendaraan lapis baja berkekuatan 280 tank dan satu divisi angkatan udara dengan 210 pesawat tempur. Militer Korut juga dipersenjatai 200 senjata artileri, 110 pesawat pembom dan satu divisi pasukan cadangan berkekuatan 30.000 serdadu dengan 114 pesawat tempur dan 105 tank
Foto: AFP/Getty Images
Kekuatan Militer Korsel
Sebaliknya kekuatan militer Korea selatan masih berada jauh di bawah saudaranya di utara. Secara umum Korsel hanya berkekuatan 98.000 pasukan, di antaranya cuma 65.000 yang memiliki kemampuan tempur, dan belasan pesawat, tapi tanpa tank tempur atau artileri berat. Saat itu pasukan AS banyak terkonsentrasi di Jepang dan hanya menempatkan 300 serdadu di Korsel.
Foto: picture-alliance/dpa
Badai Komunis Mengamuk di Selatan
Pada 25 Juni 1950 sekitar 75.000 pasukan Korut menyebrang garis lintang 38° untuk menginvasi Korea Selatan. Hanya dalam tiga hari Korut yang meniru strategi Blitzkrieg ala NAZI Jerman merebut ibu kota Seoul dengan mengandalkan divisi lapis baja dan serangan udara. Pada hari kelima kekuatan Korsel menyusut menjadi hanya 22.000 pasukan
Foto: picture-alliance/dpa
Arus Balik dari Busan
Kendati AS mulai memindahkan pasukan dari Jepang ke Korsel, hingga awal September 1950 pasukan Korut berhasil menguasai 90% wilayah selatan, kecuali secuil garis pertahanan di sekitar kota Busan. Dari kota inilah Amerika Serikat dan pasukan PBB melancarkan serangan balik yang kelak mengubur impian Kim Il Sung menguasai semenanjung Korea.
Foto: Public Domain
September Berdarah
Di bawah komando Jendral Douglas MacArthur, pasukan gabungan antara AS, PBB dan Korea Selatan yang kini berjumlah 180.000 serdadu mulai mematahkan kepungan Korut terhadap Busan. Berbeda dengan pasukan Sekutu, Korut yang tidak diperkuat bantuan laut dan udara mulai kewalahan dan dipaksa mundur semakin ke utara.
Foto: Public Domain
Nasib Buruk Berputar ke Utara
Pada 25 September pasukan sekutu berhasil merebut kembali Seoul. Serangan udara dan artileri militer AS berhasil menghancurkan sebagian besar tank dan senjata artileri milik Korut. Atas saran Cina, Kim menarik mundur pasukannya dari selatan. Jelang Oktober hanya sekitar 30.000 pasukan Korut yang berhasil kembali ke utara.
Foto: Public Domain
Intervensi Mao
Ketika pasukan AS melewati batas demarkasi pada 1 Oktober, Stalin dan Kim mendesak Mao Zedong dan Zhou Enlai agar mengirimkan enam divisi invanteri Cina ke Korea. Soviet sendiri sudah menegaskan tidak akan menurunkan langsung pasukannya. Permintaan tersebut baru dijawab pada 25 Oktober, setelah serangkaian perjalanan diplomasi antara Beijing dan Moskow.
Foto: gemeinfrei
Mundur Teratur
Hingga November 1950 pasukan AS tidak hanya merebut Pyongyang, tetapi juga berhasil merangsek hingga ke dekat perbatasan Cina. Kemenangan AS terhenti setelah pasukan Cina yang berkekuatan 200.000 tentara mulai melakukan serangan balik. Intervensi tersebut menyebabkan kekalahan besar pada pasukan AS yang terpaksa mengundurkan diri dari Korea Utara pada pertengahan Desember.
Foto: Public Domain
Berakhir dengan Kebuntuan
Hingga Juli 1951 pasukan Cina dan AS masih bertempur sengit di sekitar perbatasan garis lintang 38°. Baru pada pertengahan tahun kedua pihak mulai mengendurkan serangan yang menyebabkan situasi buntu. Setelah kematian Josef Stalin, sikap Uni Soviet mulai melunak dan pada 27. Juli 1953 kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang masih berlaku hingga kini.
Foto: picture-alliance/dpa
Hilang Nyawa Terbuang
Pada akhir Perang Korea, sebanyak 33.000 pasukan AS dilaporkan tewas dalam pertempuran. Sementara Korsel melaporkan sebanyak 373.000 warga sipil dan 137.000 pasukan tewas. Sebaliknya Cina kehilangan 400.000 serdadu dan Korut 215.000 pasukan, serta 600.000 warga sipil. Secara umum angka kematian yang diderita kedua pihak mencapai 1,2 juta jiwa.
Foto: Public Domain
13 foto1 | 13
UE 'bukan pengganti' AS
Sementara itu pertemuan Menteri Unifikasi Korsel dengan Parlemen Eropa berlangsung sehari sebelum Presiden Prancis Emmanuel Macron tiba di Korsel (03/04) dalam kunjungan kenegaraannya selama dua hari. Selama kunjungannya, Macron mengadakan pembicaraan dengan Presiden Lee Jae-myung yang berfokus pada hubungan yang lebih erat di bidang pertahanan, teknologi, energi, dan mineral penting.
Para analis mengatakan upaya menjalin hubungan dengan rezim Kim Jong Un layak dipertimbangkan demi keamanan regional, meski para analis kurang optimis keterlibatan Uni Eropa akan membuahkan hasil.
"Saya yakin Menteri Unifikasi Korsel memandang delegasi Uni Eropa sebagai 'peluang yang harus dimanfaatkan' dan berusaha meyakinkan Eropa untuk bersedia berperan," kata Mason Richey, profesor ilmu politik dan hubungan internasional di Hankuk University of Foreign Studies di Seoul.
"Macron juga berada di Seoul dan mereka pasti berusaha melibatkan presiden Prancis tersebut untuk mendapatkan dukungan dari negara adidaya nuklir dan anggota penuh Dewan Keamanan PBB," jelas Richey kepada DW. "Namun, saya pikir Kim tidak terlalu peduli dengan Eropa," tegasnya seraya menambahkan bahwa UE 'bukan pengganti' AS.
Richey menekankan bahwa UE kemungkinan besar akan bersedia berperan memfasilitasi pembicaraan antara Korut dan Korsel, mengingat sejumlah negara Eropa memiliki kehadiran diplomatik di Korea Utara, termasuk Jerman dan Polandia.
Namun, Uni Eropa akan kurang bersedia terlibat jika merasa sedikit yang dapat dicapai, tambahnya.
Inilah Sanksi PBB Pada Korea Utara
PBB jatuhkan sanksi terhadap Korea Utara sebagai hukuman bagi program senjata nuklirnya. Dewan Keamanan bahkan akan memperberat sanksi. Inilah sejumlah hukuman PBB terhadap Korea Utara:
Foto: Reuters/S. Sagolj
Moneter
Korea Utara dilarang membuka cabang bank di luar negeri. PBB juga melarang anggotanya mengoperasikan institusi keuangan untuk kepentingan Pyongyang. Karena aktivitas itu bisa membuat Korea Utara mengelak dari sanksi. PBB juga meminta negara anggota mengusir siapa pun yang bekerja untuk kepentingan keuangan rezim komunis itu.
Foto: Mark Ralston/AFP/Getty Images
Pelayaran
PBB memerintahkan negara anggota untuk registrasi ulang semua kapal barang yang dimiliki, dioperasikan atau diawaki orang yang berada di bawah perintah Pyongyang. Kapal-kapal Korea Utara juga dilarang menggunakan bendera negara lain, untuk menghindari sanksi.
Foto: picture-alliance/AP Photo/J. Dumaguing
Penerbangan
Air Koryo, maskapai nasional Korea Utara dilarang terbang ke Uni Eropa dengan alasan standar keamanan penerbangan. Juga AS melarang warganya melakukan bisnis dengan maskapai ini. Air Koryo terutama melayani jalur domestik dan jalur luar negeri ke Cina serta Rusia.
Foto: picture-alliance/dpa/Yonhap
Bahan Bakar
Sanksi PBB melarang penjualan bahan bakar pesawat terbang, jet dan roket ke Korea Utara. Tapi penjualan minyak mentah atau sejenisnya hingga kini masih diizinkan. Yang jarang diketahui Korut juga memproduksi mobil sendiri dengan merk Pyeonghwa, bekerja sama dengan mendiang pendeta Sun Myung Moon yang jadi penasehat spiritual mantan Presiden Park Gyeun he.
Foto: Getty Images/AFP/M. Ralston
Batu bara
BisnIs ekspor batu bara terutama dijalin dengan Cina. Tapi bulan Februari lalu, Cina membatasi impor batu bara dari Korea Utara. Dengan persyaratan ketat, Pyongyang diizinkan mengekspor 7,5 juta ton batu bara ke Cina senila 374 juta euro. Salah satu pembelinya adalah Liaoning Greenland Energy Coal Co.(foto) di Dandong, kota perbatasan Cina dengan Korea Utara.
Foto: Reuters/B. Goh
Rekening Bank dan Properti
Sanksi PBB membatasi hanya satu rekening bank bagi setiap diplomat Korea Utara di luar negeri (foto kedubes Korut di Berlin). Korea Utara juga dilarang memiliki properti apa pun di luar negeri selain gedung kedutaan atau konsulatnya.
Foto: picture alliance/dpa/S.Schaubitzer
Latihan Militer
PBB melarang lembaga keamanan negara anggotanya mengirim pelatih untuk mendidik militer, polisi atau unit paramiliter Korea Utara. PBB hanya mengizinkan pertukaran tenaga medis, tapi hanya memperbolehkan asistensi teknik dan nilai keilmuan.
Foto: Reuters/S. Sagolj
Patung
PBB juga melarang penjualan patung dari Korea Utara, khususnya patung para pemimpin rezim dari dinasti Kim.
Foto: picture alliance/dpa/robertharding
8 foto1 | 8
Korea Utara yang makin 'mesra' dengan Rusia dan Cina
Negara-negara Eropa sempat memberikan bantuan perdagangan dan pembangunan dalam jumlah terbatas kepada Pyongyang. Di masa lalu, hal itu mungkin bisa menjadi insentif bagi Korut untuk kembali ke meja perundingan. Namun, kini hal itu tidak lagi berlaku.
"Korea Utara terus-menerus mendekatkan diri dengan Rusia," ujar Erwin Tan, seorang profesor ilmu politik internasional di Universitas Hankuk. Tan merujuk pada keterlibatan pasukan darat Pyongyang dalam perang Rusia-Ukrainaserta penyediaan amunisi dan perlengkapan militer dalam jumlah besar kepada Moskow.
Sebagai imbalannya, Rusia mengirimkan bahan bakar, bahan makanan, dan teknologi senjata canggih pada Korut. Hal itu dilakukan Rusia secara ilegal di tengah sanksi internasional.
Merasa bahwa pengaruhnya atas Pyongyang semakin berkurang, Cina turun tangan untuk meningkatkan perdagangan lintas batas dan ‘melonggarkan' tekanan atas rezim Kim, demikian menurut para para analis.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris