160408 Bürgerfunk D
25 April 2008
Berbeda dengan radio yang berbentuk badan hukum, yang menjadi suara independen dan yang memberikan informasi kepada masyarakat, dan juga berbeda dengan radio swasta yang didominasi oleh kepentingan ekonomi, Bürgerfunk atau radio komunitas punya tujuan lain. Lewat radio ini warga mempunyai peluang untuk ikut siaran dengan topik yang diminatinya.
Di Negara-bagian Nordrhein-Westfalen terdapat sekitar 2.500 kelompok radio komunitas dengan 15.000 aktivis. Raphael Mader adalah salah seorang diantara aktivis itu. Walaupun penglihatannya tidak lagi sempurna, tetapi pria berusia 38 tahun itu tidak merasa terhambat untuk ikut membuat siaran radio. Sejak empat tahun, ia bergabung dalam kelompok radio komunitas yang memproduksi bahan siaran di radio "Freier Lokalfunk". Nama siarannya "Hörens", yaitu dialek kota Köln yang artinya, "dengarkanlah".
Para aktivis dalam kelompok radio komunitas itu berusia antara 20 dan 45 tahun. Dalam siaran yang mereka buat tercakup soal politik, kemasyarakatan dan kebudayaan yang terjadi di kota Köln. Artinya radio komunitas itu memperkenalkan berbagai kegiatan sosial atau menyediakan forum bagi para seniman muda di sekitar mereka. Kemungkinan untuk memasyarakatkan berbagai hal yang menurut pendapatnya sangat menarik, adalah motivasi bagi Raphael Mader untuk aktif dalam radio komunitas.
"Radio komunitas membuka peluang yang tidak ada pada radio biasa. Disini saya bisa datang dan mengatakan, "hallo, saya butuh jatah satu siaran." Dan biasanya saya langsung mendapat jadwalnya dan saya bisa membuat siaran saya. Tidak ada pemimpin redaksi yang ikut campur. Isi siaran saya, sesuai dengan yang saya inginkan," ungkap Mader.
Seperti halnya siaran "Hörens'" atau "dengarkanlah" yang dibuat oleh Raphael Mader, siaran-siaran radio komunitas berkaitan dengan permasalahan setempat. Para pembuat siaran "Vox Populi" atau "Suara Rakyat" aktif membuat jajak pendapat di jalanan kota Köln. Misalnya menanyakan apa pendapat warga mengenai penutupan kolam renang setempat. Kemudian dalam siaran "1001 Malam" seorang perempuan muda Turki menceritakan pengalaman hidup sehari-harinya di kota Köln.
Kekuatan dari radio komunitas ini adalah peluang bagi warga untuk mengemukakan pendapatnya sendiri, tetapi dapat pula merupakan kelemahan. Setidaknya itu adalah pendapat dari Helmut Volpers, gurubesar ilmu media dan internet di Fachhochschule atau sekolah tinggi kejuruan di Köln.
"Kelemahannya adalah, bahwa dalam radio komunitas kepentingan individu dapat sangat menonjol. Kemudian, kalau radio komunitas setempat terlalu dipengaruhi oleh kepentingan yang sebenarnya sangat kecil, misalnya jenis musik atau masalah tertentu, maka kelompok itu terlalu mendominasi siaran, sehingga dapat menimbulkan kecenderungan untuk mematikan radio," demikian dikemukakan Volpers.
Acara-acara yang diproduksi oleh radio komunitas disiarkan oleh radio swasta setempat. Berdasarkan anggaran dasar peradioan swasta, mereka diwajibkan untuk menyediakan jam siaran secara cuma-cuma bagi radio komunitas. Hanya saja berapa jumlah orang yang mendengarkan radio komunitas, tidak diketahui dengan pasti, karena tidak ada riset mengenainya. Kelompok yang membuat siaran "Hörens" mengaku hanya mendapat sedikit masukan mengenai siaran mereka.
Demikian pula pada kelompok radio komunitas yang siarannya dipancarkan lewat bengkel radio LORA di kota Bonn. Selama siaran berlangsung, boleh dikatakan jarang sekali telepon berdering. Tetapi bila ada pendengar yang meluangkan waktu untuk menelepon, maka itu artinya dia tidak mendengarkan siaran hanya sambil lalu saja, melainkan sengaja mengikutinya dengan seksama. Hal ini ditandaskan oleh Ulrich Golinske dari lokakarya radio LORA.
"Ini adalah pengalaman kami, bahwa radio komunitas bukanlah untuk didengarkan sambil lalu. Sehubungan dengan jam siaran dan jangkauannya yang tidak terlalu luas. Tetapi orang-orang yang mendengarkan siaran radio ini, menyimaknya dengan seksama. Untuk itu ada tanggapan mengenai isi siaran. Tidak tiap mata acara mendapat tanggapan lewat telepon. Tapi ada yang ditelepon oleh tiga sampai empat orang. Ada juga yang kemudian datang untuk ikut membuat siaran radio."
Pertengahan tahun 2007, pemerintah negara-bagian Nordrhein-Westfalen mengubah peraturan mengenai radio komunitas. Jumlah jam siarannya dikurangi sampai separuh dan pemancarannya digeser ke jam-jam yang sepi pada larut malam. Selain itu, model pembiayaan bagi radio komunitas ini juga diubah. Selama ini tiap kelompok radio komunitas memperoleh bayaran tetap untuk tiap menit siaran, dari iuran radio dan televisi yang dibayarkan oleh tiap rumah tangga. Sekarang mereka hanya memperoleh tunjangan untuk proyek-proyek tertentu, misalnya lokakarya dengan murid-murid sekolah.
Artinya kebijakan pemerintah kini mengikuti perkembangan dalam masyarakat. Demikian dijelaskan oleh Helmut Volpers dari Sekolah Tinggi Kejuruan di Köln. Masalahnya, internet telah menjadi semakin mantap sebagai sarana baru untuk menyampaikan informasi, sedangkan radio komunitas semakin tergeser.
Sebagai dampak dari peraturan baru ini, posisi radio komunitas kini berada dalam tahapan penataan baru. Banyak kelompok radio komunitas dan lokakarya radio yang tidak tahu, bagaimana pembiayaan mereka di masa depan. Demikian pula perkembangan radio komunitas di negara-bagian Nordrhein-Westfalen, sekarang ini tidak dapat diramalkan. Tetapi Professor Helmut Volpers berpendapat, bahwa radio komunitas masih tetap akan memainkan peranan dalam sistem media.
"Radio komunitas dapat dipandangf sebagai satu elemen dalam proses pembentukan pendapat, bila di lingkungan setempat mereka menyajikan siaran-siaran yang membuat orang ikut berpikir," kata Volpers.
Tetapi berdasarkan peraturan yang baru, hal itu tidaklah menjadi semakin mudah. (dgl)