1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Ketahanan Pangan

Dunia Hadapi Risiko Kelaparan di Tengah Wabah Corona

Ajit Niranjan
13 Juni 2020

Jaringan sistem pangan global telah lama dinilai rapuh. Dua pertiga hasil panen dunia dihasilkan dari hanya sekitar 9 spesies tanaman. Kini, wabah corona memperburuk ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan.

Buruh panen di Florida, Amerika Serikat
Petani di AS terpaksa membuang hasil panen karena berkurangnya permintaan dari restoran selama pandemi.Foto: Getty Images/J. Raedle

Laporan PBB minggu ini mengatakan, jika dunia tidak segera bertindak, pandemi Covid-19 dapat menyebabkan darurat pangan global dengan "tingkat keparahan dan skala yang tidak terlihat dalam lebih dari setengah abad."

Jumlah makanan di dunia memang cukup, tetapi tidak semua orang mampu membelinya. Di beberapa daerah di Afrika Timur, yang belakangan ini diserbu segerombolan hama belalang dan mengalami cuaca ekstrem, sejumlah besar orang telah kehilangan mata pencarian dan rentan kelaparan, kata Maximo Torero, kepala ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, FAO. "Masalahnya adalah akses yang sangat buruk kepada bahan pangan."

Selain itu, kebijakan penguncian yang diterapkan berbagai negara di awal masa pandemi telah mengejutkan sistem pangan global. Jutaan ton tanaman terpaksa dibiarkan membusuk di ladang karena negara-negara menutup perbatasan, para petani serta pekerja pemanen musiman tidak bisa bekerja karena harus tetap tinggal di rumah. Pasokan pangan global saat ini memang telah stabil, namun rantai pasokan di beberapa negara masih belum pulih.

Pengiriman uang ke negara berkembang berkurang

Seiring dilonggarkannya kebijakan penguncian, ada krisis lain yang lebih jelas terlihat. Terpuruknya ekonomi akibat pandemi ini mendorong puluhan juta orang terperosok ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam dan bencana kelaparan.

Berdasarkan laporan badan moneter internasional, IMF, ekonomi global tahun ini diperkirakan menyusut sekitar 3 persen. Bank Dunia juga mengatakan bahwa pengiriman uang oleh para pekerja di luar negeri untuk keluarga mereka di rumah juga telah berkurang sebesar 20 persen.

Berhubung pandemi ini telah memukul negara-negara kaya dengan sangat parah, para ahli pun khawatir aliran dana yang diharapkan dapat mencegah krisis pangan di negara-negara miskin, mungkin juga akan berkurang. Dengan demikian, negara-negara di seluruh Afrika dan sebagian Asia harus berjuang lebih keras untuk membiayai paket stimulus guna merangsang perekonomian mereka.

Krisis keuangan global pada 2008 "tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang kita hadapi sekarang ini," kata Torero. "Seluruh dunia dalam keadaan resesi, jadi guncangan akan terasa brutal."

Rapuhnya sistem pangan global

Pada bulan April 2020, Program Pangan Dunia memperkirakan bahwa jumlah orang kelaparan di dunia akan berlipat ganda pada tahun ini. Jumlahnya diperkirakan mencapai total 265 juta orang, atau dengan rasio lebih dari 3 orang dari tiap 100 orang di planet ini. Sebagian besar dari mereka yang menderita rawan pangan akut tinggal di negara-negara yang dilanda konflik, perubahan iklim, dan krisis ekonomi. 

Bahkan jauh sebelum pandemi, sistem pangan global telah dinilai sangat rapuh. Dua pertiga hasil panen di seluruh dunia diperoleh dari hanya menanam sekitar sembilan spesies tanaman. Selain itu, ada pula ancaman erosi tanah, kenaikan suhu, cuaca ekstrem, dan penyakit.

Sepuluh negara dengan krisis pangan terburuk tahun lalu yaitu Yaman, Republik Demokratik Kongo, Afghanistan, Venezuela, Ethiopia, Sudan Selatan, Suriah, Sudan, Nigeria, dan Haiti berjuang menghadapi konflik dan kerusuhan politik. 

Bahan pangan memang cukup tersedia, tetapi distribusi terganggu akibat wabah dan tidak semua orang mampu membelinya.Foto: Imago Images/ZumaPress/Yang Min

Sementara India yang merupakan pengekspor utama beras, susu, dan kacang-kacangan di dunia, telah dilanda kekeringan dan banjir, erosi juga telah menggerogoti kesuburan 7,5 persen tanah pertanian di negara itu. Kini, India menghadapi serangan hama wereng terburuk dalam 30 tahun, rantai pasokan pangan pun terganggu oleh pandemi.

Faktor lain juga memperburuk sistem ketahanan pangan di berbagai negara, kata Asaf Tzachor, ahli ketahanan pangan dari Pusat Studi Risiko Eksistensial Universitas Cambridge. Negara-negara di kepulauan Pasifik, misalnya, mengandalkan pendapatan nasionalnya hingga 70% dari sektor pariwisata dan menghabiskan miliaran dolar untuk mengimpor makanan. Pembatasan perjalanan yang menghantam sektor penerbangan telah merusak pariwisata dan membuat impor pangan menjadi langka.

Upaya hindari bencana kelaparan

Di sebagian besar negara di Afrika, orang lebih mungkin meninggal karena kelaparan yang disebabkan oleh resesi ekonomi akibat pandemi daripada karena penyakit itu sendiri, demikian menurut Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian. Lebih dari setengah penduduk Afrika hidup sebagai petani kecil dan pertanian adalah pilar utama ekonomi di benua itu.

Orang-orang yang bekerja di sektor informal diperkirakan menyumbang lebih dari sepertiga Pendapatan Domestik Bruto di daerah Sub Sahara, Afrika. Mereka sangat rentan karena tidak memiliki akses ke jejaring pengaman sosial, kata Wanjira Mathai, Direktur Regional Afrika di World Resources Institute. "Mereka yang berada di ambang jurang kemiskinan, yang berisiko jatuh ke dalam keadaan kemiskinan yang lebih dalam ... mereka adalah orang-orang yang sangat kita khawatirkan."

FAO mengatakan bahwa 13 juta orang di negara-negara seperti Ethiopia, Kenya, Somalia, Djibouti dan Eritrea telah kehabisan makanan sama sekali atau harus melewati seharian penuh tanpa makanan. Kehancuran telah membuat negara-negara ini lebih tergantung pada impor dan lebih rentan terhadap adanya gangguan pasokan karena kebijakan lockdown. "Beberapa petani menangis," kata Ara Nashera, seorang petani organik di dekat Gunung Kilimanjaro di Kenya. 

Bahkan jika kelaparan ekstrem dapat dihindari, masih banyak orang yang hidup di ujung tanduk. Keadaan ini akan memaksa orang untuk menjual barang-barang mereka, mengurangi kualitas makanan dan berhenti menyekolahkan anak-anak hanya supaya bisa "menyediakan makanan di atas meja," kata Susanna Sandstrom, ekonom Program Pangan Dunia milik PBB.

"Akan ada orang yang terpaksa mengemis, dan melakukan hal-hal yang berisiko untuk memenuhi kebutuhan makan mereka."

ae/yp