Presiden AS Donald Trump memerintahkan pembangunan aula berkapasitas 1.000 tamu di Sayap Timur Gedung Putih untuk jamuan resmi kenegaraan. Namun proyek yang dibiayai swasta ini dikhawatirkan sarat korupsi dan nepotisme.
Alat berat merobohkan sebagian Sayap Timur Gedung Putih di Washington, DC, pada 20 Oktober 2025Foto: Pedro Ugarte/AFP
Iklan
Ketika proyek renovasi dimulai awal pekan ini, gambar fasad Gedung Putih sedang dikuliti lengan-lengan ekskavator menyebar ke seluruh dunia.
Adalah penghuninya saat ini, Presiden Amerika Serikat (AS) dari partai Republik Donald Trump, yang memerintahkan pembangunan sebuah ballroom baru seharga hampir Rp5 triliyun di Sayap Timur. Rencananya, aula berkapasitas sekitar seribu orang itu akan digunakan dalam acara serupa jamuan negara.
Renovasi Gedung Putih adalah salah satu proyek kebanggan Presiden Trump. Namun demikian, tata cara pembiayaan dipandang bermasalah, karena diyakini penuh celah.
'Fire and Fury': Buku Heboh Tentang Donald Trump di Gedung Putih
Buku ini bahkan sudah menghebohkan, sebelum dirilis: Tulisan wartawan AS Michael Wolff membuat marah Washington. Padahal disusun berdasarkan wawancara dengan para pejabat tinggi dan dengan Donald Trump sendiri.
Foto: picture-alliance/AP/B. Anderson
Fire and Fury
Petikan-petikan yang diterbitkan media di AS dan Inggris dari buku baru karya jurnalis Michael Wolff "Fire and Fury: Inside the Trump White House" menawarkan pandangan langka dalam kamar kerja Gedung Putih. Inilah beberapa kutipannya.
Foto: picture-alliance/AP/B. Camp
Melania berlinang air mata
Sesaat setelah pukul 8 malam pada malam pemilu, ditayangkan tren tak terduga. Trump benar-benar bisa menang. Don Jr. katakan pada seorang teman bahwa ayahnya, atau DJT, begitu dia memanggilnya, terlihat seperti habis melihat hantu. Melania berlinang air mata - bukan tangis kegembiraan. Dalam waktu kurang dari satu jam, Trump berubah dari tokoh yang tidak percaya, jadi Trump yang mengerikan.
Foto: picture-alliance/AP/V. Mayo
Ivanka Trump Presiden Perempuan Pertama di AS?
Jared Kushner dan Ivanka memutuskan untuk menerima jabatan di Sayap Barat Gedung Putih. Mereka membuat kesepakatan bersama: Jika suatu saat nanti ada kesempatan menjadi presiden, Ivanka yang diusung. Impiannya: bukan Hillary Clinton, melainkan Ivanka Trump yang akan menjadi presiden perempuan pertama di AS.
Foto: picture-alliance/AP/M. Sohn
Menikmati Hidangan Cepat Saji
"Dia sejak lama takut diracun, satu alasan mengapa dia suka makanan McDonald's - tidak ada yang tahu dia bakal muncul dan makanannya sudah siap dihidangkan dengan aman", demikian cuplikan buku tersebut.
Foto: Instagram
Teori Steve Bannon
"Musuh sebenarnya, kata Steve Bannon, adalah Cina". Cina adalah front pertama dalam sebuah Perang Dingin baru. Cina adalah segalanya. Tak ada yang lain. Kalau kita tidak membereskan Cina, kita tidak akan membereskan apapun. Sesederhana itu. Cina ibarat Nazi Jerman tahun 1929 sampai 1930. Orang Cina, seperti Jerman, adalah bangsa paling rasional di dunia, sampai mereka tidak (rasional) lagi."
Foto: picture-alliance/AP/B. Anderson
Bannon: Donald Jr. Bersifat Pengkhianat
Donald Trump Jr, Jared Kushner dan manajer kampanye Paul Manafort, meyakini ada baiknya bertemu dengan wakil pemerintah asing di Trump Tower di ruang konferensi lantai 25 - tanpa pengacara. "Bahkan jika Anda berpikir bahwa dia tidak berkhianat, atau tidak patriotik, atau dia buruk, dan kebetulan saya memikirkan semua itu, Anda seharusnya segera menghubungi FBI," kata Bannon.
Foto: picture-alliance/AP/C. Kaster
Jika Kalahpun Tetap Menang
Andaipun dia kalah, Trump bakal sangat terkenal dan menjadi martir melawan Hillary. Putrinya Ivanka dan menantunya Jared akan menjadi selebriti internasional. Steve Bannon de facto akan menjadi kepala gerakan tea party. Melania Trump, yang oleh suaminya telah diyakinkan bahwa dia tidak akan menjadi presiden, bisa kembali pergi makan siang tanpa gangguan. "Kalah tapi menang." hp/as (dw, ap)
Foto: picture-alliance/AP/B. Anderson
7 foto1 | 7
Trump: “Indah”, “besar”, “perlu”
Trump menegaskan bahwa selama 150 tahun terakhir, pemerintah AS tidak memiliki ruang, dan sebabnya membutuhkan aula untuk resepsi besar di Gedung Putih. Itu sebabnya, menurut pernyataan pers Gedung Putih pada Juli 2025, “Presiden Donald J. Trump telah menyatakan komitmennya untuk memecahkan masalah ini demi pemerintahan mendatang dan rakyat Amerika.”
Dengan luas sekitar 8.360 meter persegi, ballroom ala Trump berukuran hampir dua kali lipat ketimbang Gedung Putih, yang luasnya hanya 5.100 meter persegi. Menurut Trump, biaya pembangunannya sekitar "US$300 juta" (sekitar Rp4,95 triliun).
"Saya senang mengumumkan bahwa pembangunan telah dimulai di halaman Gedung Putih untuk membangun White House Ballroom yang baru, besar, dan indah," tulis Trump di jaringan sosial Truth Social.
Pada rencana awal Pembangunan, aula ini memiliki kapasitas ballroom pada 650 tamu. Namun, dalam sebuah makan malam bersama para donor kaya minggu lalu, Trump mengumumkan bahwa ruangan tersebut akan menampung 999 orang.
Acara-acara negara besar dan perayaan dengan jumlah tamu tinggi biasanya diadakan di tenda yang dipasang di halaman selatan kediaman presiden. Menurut Gedung Putih, renovasi Trump akan memperbaiki pengaturan “yang tidak sedap dipandang” tersebut.
Presiden Trump menginspeksi proyek di Gedung PutihFoto: Andrew Leyden/NurPhoto/picture alliance
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Polemik di tengah kondisi keuangan federal
Trump menekankan bahwa tidak ada satu sen pun uang pajak yang digunakan untuk renovasi ini. Pernyataan ini dipahami sebagai dalih atas dimulainya konstruksi di tengah penutupan pemerintah federal, yang diwarnai pemecatan dan penundaan gaji pegawai negeri.
Para kritikus melihat renovasi Trump bermasalah. “Apakah adil bagi sebuah pemerintahan untuk mengejar proyek mahal yang terutama bersifat estetis, sementara warga AS biasa menghadapi tekanan finansial dan pemerintah mengalami penutupan, di mana puluhan ribu pegawai federal tidak menerima gaji atas kerja keras mereka?” tanya Davina Hurt, direktur program etika pemerintahan di Markkula Center for Applied Ethics, Universitas Santa Clara.
Penutupan pemerintah di AS telah mengganggu layanan federal seperti Medicare dan Medicaid, dengan banyak pekerja yang diliburkan sementara.Foto: Paul Morigi/Getty Images
Hurt mengatakan kepada DW bahwa ia menemukan kemewahan renovasi ini sama sekali tidak pantas, terutama selama penutupan, ketika banyak orang harus menahan pengeluaran.
“Ini bukan waktunya, dan mungkin tidak akan pernah, untuk membangun ballroom besar yang mewah,” katanya.
Siapa yang membiayai renovasi?
Trump mengatakan ia akan membiayai ballroom baru itu sendiri, dengan dukungan dari pengusaha kaya dan perusahaan sponsor.
Daftar donor yang dipublikasikan oleh Gedung Putih pada Kamis (24/10) mencakup kontraktor pertahanan Lockheed Martin, serta raksasa internet seperti Microsoft, YouTube, Amazon, dan Google.
Para kritikus memperingatkan bahwa model pembiayaan ini dapat memicu celah korupsi.
“Perusahaan-perusahaan yang memberikan uang jelas melakukannya untuk mendapatkan keuntungan dengan pemerintah dan mempromosikan bisnis mereka di kalangan pejabat federal,” kata Richard Painter, profesor hukum korporat dan mantan kepala pengacara etika di pemerintahan George W. Bush antara 2005 dan 2007.
Istana Presiden: Kemewahan dalam Politik
Rusia punya Kremlin, Amerika punya Gedung Putih, dan Perancis punya istana Elysée. Sekarang Turki juga punya istana baru, dan tidak jauh beda dengan lainnya. Terutama: pamer kemewahan.
Foto: picture-alliance/dpa/Kay Nietfeld
Istana Presiden Turki Bermasalah?
Presiden Turki Recep Erdogan mulai tinggal di kediaman barunya, "Istana Putih." Di kompleks raksasa itu terdapat seribu kamar. Di sini juga ada ruang perundingan yang anti sadap dan pusat komando yang tahan bom atom. Tapi kritikus menyebutnya gila kemewahan dan bangunan liar, karena tetap didirikan walaupun kehakiman tidak merestui.
Foto: picture alliance/AA/M.Ali Ozcan
Kemewahan dari Kekayaan Negara
Gedung pemerintah di ibukota Kazakhstan berubah-ubah warnanya di malam hari. Istana presiden dibuat meniru Gedung Putih di Washington. Nursultan Nasarbayev sudah memerintah sejak Kazakhstan masih termasuk Uni Soviet. Keluarganya diperkirakan punya kekayaan senilai tujuh milyar Dolar AS. Kazakhstan adalah negara yang kaya bahan mentah.
Foto: picture alliance/dpa
Gila Kemewahan di Turkmenistan
Di istana berkubah emas di kota Ashgabat ini berdiam Presiden Gurbanguly Berdimuhamedow. Ia dulunya dokter gigi almarhum presiden Saparmurat Nyyazow, yang menyebut dirinya sebagai pendiri Turkmenistan dan tidak mentolerir kritikus. Ketika ia meningal 2006, Berdimuhamedow jadi penerusnya. Sekarang Berdimuhamedow membentuk pemujaan bagi dirinya sendiri.
Foto: picture alliance/dpa
Tempat Tinggal Feodal Dekat Kiev
Tempat tinggal mewah di Mezhgorye dekat ibukota Ukraina, Kiev didirikan Februari 2014 oleh Viktor Yanukovich ketika masih jadi presiden. Setelah ia melarikan diri, aktivis mempublikasikan di internet dokumen yang tampaknya dibuang ke danau dekat vilanya. Menurut dokumen, Yanukovich perintahkan pembelian lampu kristal seharga 123 milyar Rupiah usai terpilih sebagai presiden tahun 2010.
Foto: AFP/Getty Images/Genya Savilov
Kemewahan Tanpa Batas
Beginilah rupa kediaman bekan presiden Yanukovich: banyak emas, kemewahan dan hiasan. Ia dituduh melakukan korupsi dan nepotisme. Kabarnya ia berhasil melarikan ratusan juta Euro. Dua putranya, Viktor dan Alexander juga berhasil kaya di kalangan industri papan atas berkat pengaruh ayahnya.
Foto: AFP/Getty Images/Yuriy Dyachyshyn
Kegilaan Besar
Bangunan ini berdiri di ibukota Rumania Bukares. Ini bangunan kedua terbesar di dunia setelah Pentagon. Tingginya 84 meter, luasnya 265.000 meter persegi dan punya lebih dari 3.000 kamar. Idenya diperoleh Nicolae Ceausescu 1984 setelah berkunjung ke Korea Utara. Biaya dulu mencapai milyaran Dolar. Untuk mendirikannya sebagian kota diratakan dengan tanah. Dan Diktator Ceausescu? Dihukum mati 1989.
Foto: tony4urban/Fotolia.com
Kemewahan Monarki di Paris
Tempat memerintah di dekat sungai Seine sangat mewah. Ini meja tulis Presiden Perancis. Pusat kekuasaan di Paris tampak seperti museum. Istana Elysée dipenuhi karya seni bersejarah dan mebel. Dinding beton hanya ada di ruang bawah tanah, di mana terdapat pintu-pintu baja yang melindungi pusat komando senjata nuklir Perancis.
Foto: picture-alliance/dpa/Giancarlo Gorassini
Kemewahan di Persia
Kompleks bangunan Saadabad di Teheran timur laut mencakup 18 istana. Di tahun 1920-an, Reza Shah Pahlavi beberapa kali memerintahkan perluasan kompleks dan menggunakannya untuk kediaman dan tempat pemerintahan. Istana Hijau, salah satu bangunan di kompleks itu, jadi tempat tingal musim panas Shah Iran yang terakhir bersama istrinya Soraya.
Foto: picture-alliance/dpa/Orand-Viala
Istana Megah di Doha
Di istana ini berdiam Sheikh Hamad bin Khalifa al-Tsani. Ia membuka Qatar ke dunia Barat dan mendirikan media Al Jasira 1996. Dulu Qatar mendapat nama baik karena politik luar negeri yang ambisius. Sekarang Emirat tersebut terisolasi, antara lain karena mendukung Ikhwanul Muslimin. Selain itu Qatar diduga membiayai aktivitas kelompok teroris.
Foto: picture-alliance/dpa/Rainer Jensen
Istana Accra
Dalam istana mewah ini, tingal presiden Ghana. Memang Ghana jadi teladan Afrika dalam hal stabilitas dan kemajuan ekonomi. Negara itu mendapat pemasukan besar dari ekspor kakao dan emas. Tetapi hampir separuh dari 23 juta warga Ghana masih hidup dalam kemiskinan, yang terutama disebabkan korupsi pemerintahan lalu.
Foto: picture-alliance/dpa/UPPA/Photoshot
Seni Yang Mengagumkan
Di banyak pusat pemerintahan di dunia bisa ditemukan banyak karya seni mengagumkan. Di istana presiden di Meksiko City, Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier sedang mengagumi sebuah lukisan besar.
Foto: picture-alliance/dpa/Bernd von Jutrczenka
Istana Yang Dekat dengan Rakyat
Tempat tinggal resmi presiden Jerman adalah Istana Bellevue di Berlin. Gedung berwarna putih bergaya neoklasik tersebut berdiri di tepi sungai Spree. Kompleks istana yang terdiri dari dua tingkat itu didirikan 1786 sebagai tempat kediaman Pangeran August Ferdinand von Preußen. Sekarang setiap musim panas diadakan pesta bagi rakyat, yang selalu ramai pengunjung.
Foto: picture-alliance/dpa/Kay Nietfeld
12 foto1 | 12
Donasi untuk sebuah imbalan bisnis?
Muncul kekhawatiran bahwa perusahaan atau bahkan individu yang menyumbang untuk proyek favorit Trump saat ini mungkin berharap mendapatkan sesuatu sebagai imbalan dari presiden di kemudian hari.
“Quid pro quo” adalah istilah dari bahasa Latin yang secara harfiah berarti “sesuatu untuk sesuatu”. Dalam konteks politik atau bisnis, istilah ini biasanya dipakai untuk menjelaskan situasi di mana seseorang memberi sesuatu dengan harapan menerima imbalan atau keuntungan sebanding, kadang-kadang secara tidak etis atau ilegal.
“Ini adalah perusahaan yang menginginkan sesuatu dari pemerintah. Mereka membayar, pertama, untuk bisa bertemu dan mendapat akses ke presiden serta pejabat tinggi lainnya, dan kedua, berharap hal itu akan membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan,” kata Painter.
“Banyak dari mereka, seperti Lockheed Martin, mengincar kontrak besar dari Departemen Pertahanan, sehingga anggaran pertahanan kita yang sekarang bernilai triliunan dolar … akan semakin besar lagi.”
Iklan
Gedung Putih dan sejarah renovasinya
Renovasi Trump bukan pertama kalinya seorang presiden AS mendesain ulang kediaman resmi di Washington sejak konstruksinya dimulai pada 1792.
Modifikasi ini berkisar dari lapangan tenis yang diubah Barack Obama menjadi lapangan basket, hingga pengurasan besar-besaran Gedung Putih oleh Harry Truman, yang pindah ke rumah besar itu pada 1945. Saat itu, bangunan dalam kondisi buruk akibat penelantaran bertahun-tahun.
Renovasi Truman mencakup hampir seluruh interior dan termasuk ruang makan baru untuk kunjungan negara, arena bowling, dan balkon baru. Renovasi ini berlangsung dari 1948 hingga 1952.
Ballroom Trump dijadwalkan selesai sebelum akhir masa jabatannya pada Januari 2029.
Presiden Harry Truman merenovasi bagian dalam Gedung Putih pada awal 1950-anFoto: Everett Collection/picture alliance
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha