1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Reaksi Atas Kemenangan Sarkozy

8 Mei 2007

Kubu sosialis dari Segolene Royal memang kalah, tapi itu bukan bencana. Melainkan peringatan untuk memperbaiki diri.

Koran-koran Perancis dengan berita kemenangan Nicolas Sarkozy
Koran-koran Perancis dengan berita kemenangan Nicolas SarkozyFoto: AP

Kemenangan Nicolas Sarkozy dari kubu konservatif dalam pemilu presiden di Perancis, masih tetap menjadi tema komentar harian-harian internasional. Harian Spanyol El Periodico yang terbit di Barcelona dalam tajuknya menulis : Sebetulnya kelompok sosialis memperoleh suara lebih tinggi dibanding Francois Mitterand ketika menang pemilu presiden tahun 1988 lalu. Tapi nyatanya kelompok kiri tiga kali berturut-turut kalah dalam pemilu presiden. Masalahnya utamanya adalah, metode dan program mereka tidak diselaraskan dengan zaman globalisasi. Kini partai sosialis harus melakukan reformasi, tanpa meninggalkan nilai-nilai kirinya.

Juga harian Swiss Basler Zeitung berkomentar senada. Harian yang terbit di Basel ini dalam tajuknya menulis : Kelompok kiri Perancis kini harus melakukan analisis ke dalam, untuk meneliti penyebab kekalahan tiga kali berturut-turut dalam pemilu presiden. Pembaruan justru datang dari luar, dari sosok Segolene Royal, yang kemudian juga tidak didukung sepenuh hati. Terdapat kekosongan politik hingga jauh ke haluan tengah. Tokoh baru yang muncul dari kubu tengah Francois Bayrou, justru makin menonjolkan sosok baru lainnya, Nicolas Sarkozy. Kelompok sosialis mengalami kekalahan politik, akibat kesalahannya sendiri.

Harian liberal kanan Bulgaria Dnewnik yang terbit di Sofia berkomentar : Kemenangan Sarkozy memicu ketakutan di Brussel. Dengan pesan utamanya, putuskan masalalu dan lakukan reformasi, kandidat kanan Sarkozy mampu memenangkan pemilu presiden Perancis. Kemenangan Sarkozy memicu ketakutan baik di Perancis maupun di Brussel. Presiden Komisi Uni Eropa, Jose Manuel Barroso segera mengingatkan Sarkozy, bahwa ia mengharapkan kemenangan itu dapat mendorong pemecahan bagi masalah konstitusi Uni Eropa. Ketakutan terbesar di Brussel adalah sikap keras Sarkozy, menentang perundingan keanggotaan Turki.

Sedangkan harian AS The New York Times yang terbit di New York berkomentar : Para pemilih menunggu tidak sabar, berakhirnya kemerosotan ekonomi dan diplomasi Perancis. Akan tetapi, untuk dapat sukses, Sarkozy harus mampu mengendalikan ketidak sabarannya serta kebiasaannya melontarkan retorika yang memecah belah. Sementara AS kini mengharapkan sebuah Perancis baru, yang meninggalkan sikap dari masalalu yang anti-Amerika. Pada tahap awal, kerjasama militer di Afghanistan dan koordinasi di Sudan, dapat memberikan perubahan besar dalam hubungan Franko-Amerika.

Dan terakhir harian Italia Corriere della Sera yang terbit di Milano dalam tajuknya menulis : Kiri atau Kanan tidak memainkan peranan. Siapapun presidennya, tidak ada yang dapat mengabaikan Perancis. Karena itulah kepala pemerintahan dan kepala negara Uni Eropa meredakan silang sengketa politiknya, dan mendekati Sarkozy. Tapi harus diakui, politik Sarkozy yang akan memperkuat peranan Bank Sentral Eropa dan memperketat aturan pendanaan Komisi Eropa, juga membuat Brussel ketakutan.