1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Reaksi Internasional Atas Keputusan Rusia.

as27 Agustus 2008

Barat mengecam pengakuan Rusia atas kemerdekaan dua provinsi Georgia yang menyempal, Abkhazia dan Ossetia Selatan. Namun juga menahan diri untuk tidak berhadapan frontal dengan Moskow.

Flagge Abchasien und Südossetien
Bendera Abkhazia dan Ossetia Selatan, dua bekas provinsi Georgia yang diakui sebagai negara baru oleh Rusia.Foto: AP Graphics/DW


Nyaris semua pemerintahan barat bereaksi menentang pengakuan Rusia terhadap kemerdekan dua kawasan bekas Georgia, yakni Abkhazia dan Ossetia Selatan. Presiden AS, George W.Bush menyebutnya sebagai tindakan tidak bertanggung jawab. Sementara kanselir Jerman, Angela Merkel mengatakan, hal itu samasekali tidak dapat diterima.

Sebaliknya Presiden Rusia, Dmitri Medvedev membela keputusannya dengan membandingkan situasinya dengan bekas provinsi Serbia, Kosovo. Dalam tulisannya di harian Inggris Financial Times edisi Rabu (27/8) Medvedev menegaskan, tidak ada aturan internasional yang berlaku untuk satu pihak tapi tidak berlaku untuk yang lainnya. Presiden Rusia ini juga mengritik rencana pembangunan sistem anti-rudal AS di Polandia dan Ceko.

Sementara itu pemerintah Serbia dalam pernyataan resminya hari Rabu ini, hanya mengulang kembali peringatan, bahwa pengakuan atas kemerdekaan yang dinyatakan sepihak oleh Kosovo, dapat memicu destabilisasi di kawasan lainnya di dunia.

Reaksi paling lugas atas pengakuan Rusia terhadap kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan datang dari AS. Tony Fratto jurubicara presiden George W.Bush mengatakan di Washington :“Semua upaya Rusia untuk menegaskan kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan di panggung politik dunia, akan mengalami kegagalan.“


Di Washington juga sedang dibahas bagaimana reaksi konkrit untuk menjawab provokasi Moskow. Kementrian luar negeri bahkan mempertimbangkan pembekuan kesepakatan senjata atom AS-Rusia. Sementara itu pembahasan rancangan resolusi Georgia Dewan Keamanan PBB, praktis sudah macet. Karena masalah ini pasti juga akan diveto AS.

Kanselir Jerman Angela Merkel yang sedang berada di Estonia walaupun bereaksi cukup tegas namun tetap menahan diri. Juga Perancis yang saat ini menjabat ketua Dewan Uni Eropa dan memprakarsai perundungan damai dengan Rusia, menghindari kata-kata tajam atau kritik langsung terhadap Moskow. Jerman dan Perancis tetap berusaha menjalin dialog dengan Rusia. Dalam pidatonya di ibukota Estonia, Tallin Selasa (26/8) petang, Merkel mengatakan : “Hal ini menurut pendapat saya dan kita semua, melanggar prinsip integritas, yang merupakan prinsip mendasar hak rakyat, karena itu sangat tidak dapat diterima. Saya pikir seluruh Uni Eropa akan membuat pernyataan dalam kerangka ini.“


Merkel menegaskan, perang di Georgia tidak hanya mengubah peta politik di Kaukasus melainkan juga di seluruh dunia. Karena itu ia mengingatkan, agar semua bertindak secara berhati-hati. Merkel lebih jauh menegaskan : “Saya tetap mendukung agar kanal dialog tetap dibuka, dan kita terus berusaha untuk melakukan perundingan. Akan tetapi tentu saja hal ini ada gunanya, jika terdapat landasan bersama tata nilai.“


Apakah landasan semacam itu masih ada, akan dijajagi Merkel melalui percakapan telefon dengan Medvedev. Sementara dalam KTT khusus Uni Eropa membahas konflik Georgia hari Senin mendatang, semua pihak akan membahas posisi bersama Uni Eropa terhadap Rusia.