1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Redam Stres akibat Corona, Helmi Pungut Sampah Pantai Bali

Prihardani Ganda Tuah Purba
7 Agustus 2020

Helmi Yunan Mairina mengaku sempat depresi karena usahanya yang terpuruk akibat pandemi COVID-19. Namun, ia kemudian bangkit dan menemukan aktivitas baru untuk meredam stres, yaitu bersih-bersih pantai di Bali.

Helmi Yunan Mairina, redam stres akibat corona dengan memungut sampah di pantai-pantai di Bali
Helmi Yunan Mairina, seorang wedding planner yang redam stres akibat corona dengan memungut sampah di pantai-pantai Bali.Foto: Privat

Tak bisa dipungkiri, pandemi COVID-19 yang melanda dunia saat ini telah membuat segala lini ekonomi terpuruk, termasuk usaha pernikahan atau wedding organizer. Ini pulalah yang dialami oleh Helmi Yunan Mairina (42), seorang wedding planner yang saat ini berdomisili di Sanur, Denpasar, Bali. 

Ia mengaku sempat depresi lantaran banyak rencana pernikahan dari kliennya yang mayoritas merupakan Warga Negara Asing (WNA) yang datang ke Bali, dibatalkan akibat pandemi. Ditambah langkah pembatasan yang diberlakukan pemerintah semakin membuat dirinya terpuruk.

“Karena aku dari orang aktif terus tiba-tiba lockdown suruh diam di rumah aku enggak bisa, aku orangnya sangat aktif. Jadi memang aku mengalami masa di mana aku berjuang, aku nangis, aku sedih, aku depresinya lebih ke kayak komplain ke Tuhan, komplain apa yang terjadi? Kenapa ini gitu,” ujar Helmi saat diwawancara DW, Rabu (29/07).

Namun, tidak mau berlama-lama meratapi nasib, Helmi justru bangkit dan menemukan sebuah aktivitas baru yang membantunya meredam stres akibat pandemi, yaitu memungut sampah setiap pagi di pantai-pantai yang ada di Bali. 

Berawal dari keinginan melihat sunrise

Gagasan untuk melakukan aksi memungut sampah di pantai ini tentu tidak muncul begitu saja. Menurut Helmi, memori masa kecilnya akan nasihat sang ayah yang selalu bilang “kalau bangun siang rejekimu akan dipatok ayam” jadi satu dorongan bagi dirinya untuk bangun subuh-subuh, lalu pergi ke pantai melihat matahari terbit atau sunrise. “Awalnya aku mau healing diriku,” ujarnya.

Namun, keinginannya untuk melihat sunrise sempat terhalang oleh pecalang yang melarangnya masuk ke kawasan pantai yang pada saat itu (tepatnya di bulan Mei) memang masih ditutup bagi pengunjung. 

“Awalnya enggak dibolehin lalu saya memohon. Bahkan suatu hari saya pernah nangis bilang ‘bapak please daripada stres di rumah saya orangnya aktif, saya cuman pengen ini kok ngelihat matahari terbit’, saya bilang nanti foto saja, nanti foto saja. Baru dikasih boleh masuk,” kata Helmi.

“Nah, berawal dari mencoba melihat sunrise, lalu saya baru sadar itu di depan resort-resort mewah sampahnya banyak banget,” tambahnya.

Di momen inilah Helmi kemudian muncul dengan gagasan melakukan aksi memungut sampah, yang pada akhirnya jadi aktivitas rutin yang ia lakukan setiap pagi. Beberapa pantai seperti Sindhu, Segara dan Karang di Sanur, Bali, ia jajaki untuk dibersihkan.

“Sambil olahraga, sambil mungutin sampah, bonusnya melihat matahari terbit yang selama ini aku tidak pernah tahu karena aku selalu bekerja pagi seringnya sunset,” pungkasnya.

Gagasan Helmi memungut sampah berawal dari keinginan melihat matahari terbit di pantai kawasan Sanur.Foto: Privat

Kurangnya tempat sampah umum

Melalui aktivitas pungut sampah ini, Helmi melihat fakta bahwa di Sanur, Bali, keberadaan tempat sampah umum masih kurang. Petugas pembersih pantai dari Dinas Kebersihan yang selalu datang sejak dini hari, ia sebut justru banyak mengubur sampah-sampah pantai di bawah timbunan pasir. 

“Saya sedih sejujurnya saya enggak setuju nih karena sebelum dikubur, disana ada permen, ada crackers, kue-kue atau cemilan yang berbungkus plastik, tapi paling sering adalah plastik dan rokok,” kata Helmi.

Helmi dengan Wayan Puji, petugas pembersih pantai yang mengoleksi sampah plastik untuk dijual.Foto: Privat

Meski begitu, dalam satu bulan terakhir, tepatnya di awal Juli, Helmi bertemu dengan Wayan Puji, seorang ibu petugas pembersih pantai yang ternyata mengoleksi sampah plastiknya untuk dijual. Pertemuan ini kemudian mendorongnya untuk melakukan aktivitas pungut sampah ke area yang lebih luas, sekaligus mengajak teman-temannya melakukan hal yang sama.

“Baru sebulan terakhir inilah saya mendorong, memotivasi semua teman di sosial media saya kalau kamu tidak mau ke pantai pagi-pagi, kalau kamu tidak bisa bangun pagi, tolong kumpulin botol plastikmu aku yang akan jemput deh, aku yang akan ambil karena beliau (Ibu Wayan Puji) jual kembali,” tuturnya.

Munculkan hashtag pemulung cantik karena cibiran

Aktivitas pungut sampah di pantai ini tidak melulu berbuah manis, kata Helmi. Ada pengalaman yang tidak mengenakkan yang kadang membuatnya sedih, termasuk cibiran ‘pemulung’ yang tak jarang ia dapatkan. 

“Jadi baru berapa minggu ini aku selalu caption-ku (di sosial media), hashtag-ku aku selalu bilang #pemulungcantik gitu. Aku jadi kayak memotivasi diriku, aku selalu pakai lipstick, aku pakai masker, aku selalu berusaha tampil setidaknya rapi gitu, supaya tidak kelihatan pemulung bangetlah”, katanya sambil tertawa.

Selain memang menjadi aktivitasnya meredam stres, Helmi mengakui bahwa dirinya juga ingin memberikan kesadaran bagi masyarakat terutama anak-anak muda bahwa banyak jenis-jenis sampah yang sejatinya sulit terurai, bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

“Aku ingin menyadarkan orang bahwa sampah yang sangat susah untuk didaur ulang itu banyak banget jadi tidak hanya botol. Sementara kalau untuk botol plastik, aku berharap orang-orang mulai dari sekarang mohon sisihkan satu pojok ruanganmu untuk mengoleksi itu dulu. Itu sudah membantu pemerintah, lingkungan kita, anak cucu kita ke depan, karena kan bisa didaur ulang untuk hal-hal tertentu yang bermanfaat,” tutupnya. (hp/gtp)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait