Riyadh merombak agenda reformasi ekonomi dan sosialnya. Fokus bergeser ke teknologi dan pariwisata religi, meninggalkan proyek kota futuristik dan giga proyek. Lalu, bagaimana isu hak asasi manusia?
Setelah satu dekade berfokus pada proyek konstruksi berskala besar, Arab Saudi mengumumkan pergeseran fokus kebijakan pembangunannyaFoto: Nataliamilko250/Pond5 Images/IMAGO
Iklan
Arab Saudi mulai meninjau kembali Vision 2030, agenda diversifikasi ekonomi besar yang diluncurkan pada 2016. Penguasa de facto di Riyadh, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, saat itu menjabat sebagai wakil putra mahkota sekaligus menteri pertahanan, memperkenalkan paket reformasi senilai 2 triliun dolar AS (sekitar Rp33,7 triliun) untuk mengurangi ketergantungan kerajaan pada minyak serta mentransformasi ekonomi dan masyarakat.
Sejak saat itu, Riyadh menggeser perekonomian negara pengekspor minyak terbesar dunia tersebut ke arah teknologi, pariwisata, dan energi terbarukan. Fokus lainnya mencakup pembangunan proyek-proyek raksasa berskala besar, seperti kota-kota baru yang dipandang mampu mengubah citra Arab Saudi, peningkatan peran sektor swasta, serta langkah modernisasi sosial, termasuk perluasan hak perempuan dan peningkatan partisipasi mereka di dunia kerja.
Namun pekan ini, Menteri Keuangan Mohammed al-Jadaan mengumumkan penyesuaian strategi reformasi tersebut. Dalam wawancara dengan Bloomberg, al-Jadaan mengatakan pemerintah tengah menyusun rencana lima tahun baru yang bertujuan untuk "menggandakan fokus pada pariwisata, manufaktur, logistik, dan energi."
Pendekatan yang direvisi ini berarti sejumlah proyek akan diperkecil, sebagian diperluas, dan lainnya ditunda.
Beberapa proyek infrastruktur Arab Saudi ditunda atau dipangkas
Awal bulan Februari 2026, Komite Olimpiade Arab Saudi mengumumkan bahwa Asian Winter Games 2029 akan digelar di Almaty, Kazakhstan, bukan di resor ski Trojena yang masih dalam tahap pembangunan di kawasan pegunungan proyek futuristik NEOM. Pada 2025, cakupan NEOM sudah dipangkas: rencana awal dua gedung pencakar langit paralel sepanjang 170 kilometer dengan tinggi setara Empire State Building di New York kini dipersingkat menjadi 2,4 kilometer.
Pada akhir Januari 2026, pembangunan The Mukaab, gedung pencakar langit berbentuk kubus berukuran 400 meter x 400 meter yang direncanakan sebagai pusat distrik New Murabba di Riyadh, ditangguhkan karena pejabat meninjau ulang pendanaan dan kelayakannya.
Sebagai gantinya, Mohammed bin Salman pada Oktober 2025 mengumumkan proyek King Salman Gate, kawasan baru di dekat Masjidil Haram di Mekkah yang akan menambah sekitar 900.000 ruang salat dalam dan luar ruangan.
Langit Riyadh tak lagi akan menampilkan proyek raksasa Mukaab, setelah proyek tersebut dibekukan karena dinilai tidak layak secara finansial dan teknisFoto: Valery Sharifulin/ITAR-TASS/IMAGO
"Setiap proyek besar pada dasarnya akan melalui fase revisi dan penyesuaian sebagai respons terhadap pertimbangan yang lebih luas," ujar Alice Gower, Direktur Geopolitik dan Keamanan di firma konsultan berbasis di London, Azure Strategy, kepada DW. "Target Vision 2030 Arab Saudi sangat ambisius dan banyak proyek raksasanya, khususnya, sejak awal dapat digambarkan sebagai tidak realistis."
Gower menambahkan, kombinasi harga minyak global yang berada di bawah tingkat yang dibutuhkan untuk pendanaan, tingginya belanja pemerintah, serta populasi muda yang memerlukan lapangan kerja semakin membebani keuangan negara.
Iklan
Peran Dana Investasi Publik Arab Saudi
Revisi agenda utama negara itu didorong oleh Public Investment Fund (PIF) atau Dana Investasi Publik Arab Saudi, investor utama proyek-proyek Vision 2030. Menurut laporan kantor berita Reuters pada Oktober 2025, dana kekayaan negara senilai 925 miliar dolar AS tersebut meningkatkan tekanan untuk mengalihkan fokus dari proyek properti mahal ke sektor-sektor yang menjanjikan imbal hasil lebih cepat dalam waktu dekat.
Gubernur PIF, Yasir Al-Rumayyan, mengatakan kepada wartawan pada Januari 2025 bahwa dalam lima tahun ke depan dana tersebut akan berfokus pada enam "ekosistem", termasuk pariwisata, pengembangan perkotaan, inovasi, energi bersih, dan industri.
Reformasi atau Permainan Politik?
Belasan pangeran dan mantan menteri Arab Saudi ditahan atas dugaan korupsi. Apakah ini langkah Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk menyingkirkan para pesaingnya demi mengukuhkan kekuasaannya?
Foto: Reuters/M. al-Sayaghi
Terbentuknya komite anti-korupsi
Sedikitnya 11 pangeran dan 38 mantan menteri dan pengusaha ternama di Saudi ditahan di berbagai tempat di ibukota, Riyadh. Gelombang penangkapan ini dilakukan sebagai bagian dari kampanye terbaru untuk membasmi korupsi. Penangkapan dilakukan tak lama setelah Raja Salman mengumumkan terbentuknya komite anti-korupsi, yang dipimpin putranya, Putra Mahkota Mohammed.
Foto: picture-alliance/abaca/B. Press
Mereformasi negeri atau membungkam para pesaing?
Komite anti-korupsi mengantongi kekuasaan besar, diantaranya mengeluarkan perintah penangkapan, pembekuan aset serta perintah pencekalan. Putra Mahkota Arab Saudi pernah berikrar di hadapan para pengimpor minyak penting dunia, bahwa ia akan membasmi korupsi di Saudi. MBS dianggap sebagai motor penggerak di balik
upaya untuk merubah citra ultra-konservatif yang dimiliki Arab Saudi.
Foto: picture-alliance/AP Images/N. Asfouri
Menjerat pengusaha terkaya di Timur Tengah
Salah satu yang ditahan adalah, Pangeran Alwaleed bin Talal. Dia adalah milyuner dan salah satu pengusaha terkaya Saudi yang memiliki saham di sejumlah perusahaan milik Barat seperti Twitter, Apple, perusahaan media milik Rupert Murdoch, Citigroup, hotel the Four Seasons and perusahaan layanan berkendara, Lyft. Pangeran Alwaleed juga dikenal sebagai anggota istana yang paling blak-blakan.
Foto: Getty Images/AFP/F. Nureldine
Mantan menteri keuangan tertangkap
Ibrahim al-Assaf, tokoh penting lainnya yang turut terseret dalam gelombang penahanan. Ia dulunya adalah mantan menteri keuangan dan anggota komisaris perusahaan minyak nasional, Aramco. Al-Assaf ditahan atas tuduhan melakukan penggelapan dana dalam proyek perluasan Masjidil Haram dan memanfaatkan jabatannya untuk meraih informasi internal dalam upaya membeli sejumlah tanah.
Foto: Getty Images/AFP/F. Nureldine
11 pangeran dan 38 pejabat serta pengusaha
Pangeran Turki bin Abdullah, mantan gubernur Riyadh juga ditahan atas tuduhan kasus korupsi proyek Metro Riyadh. Tokoh lainnya yakni mantan kepala istana, Khaled al-Tuwaijri dan Waleed Ibrahim, pemimpin grup MBC, perusahaan media swasta terbesar di Timur Tengah dan Afrika Utara. Total ada 11 pangeran, 4 menteri, belasan mantan menteri serta 3 pejabat senior yang ditahan dalam operasi tersebut.
Foto: Getty Images
Banyak kejadian dalam waktu singkat
Pada waktu yang sama, Raja Salman juga menyingkirkan pangeran yang bertanggung jawab atas Garda Nasional. Hal ini dilakukan menyusul mundurnya sekutu terdekat Saudi, perdana menteri Lebanon, Saad Hariri. Perkembangan terakhir ini menggoyahkan Arab Saudi dan Timur Tengah, ketika konflik regional semakin besar mengepung kerajaan. (Aasim Saleem/ts)
Foto: Reuters/M. al-Sayaghi
6 foto1 | 6
"Fokus baru diarahkan pada proyek-proyek yang berorientasi internasional seperti Piala Dunia 2034, di mana potensi keuntungan bagi Arab Saudi cukup besar," ujar Alice Gower, seraya menambahkan bahwa "bidang-bidang ini juga memberi peluang bagi audiens global untuk merasakan pengalaman Arab Saudi."
Reformasi Vision 2030 juga direkomendasikan dalam makalah kerja yang baru-baru ini diterbitkan oleh Dana Moneter Internasional (IMF).
"Reformasi lanjutan diperlukan untuk mengatasi kesenjangan struktural dan menyesuaikan dengan prioritas baru, khususnya dengan menyelaraskan inisiatif dengan aspirasi generasi muda," tulis laporan tersebut.
Secara khusus, laporan itu menyoroti adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan pasar tenaga kerja dan keterampilan yang tersedia, karena sektor-sektor prioritas Vision 2030 dinilai belum sepenuhnya memanfaatkan tenaga kerja berpendidikan tinggi di negara tersebut.
Namun, mengingat Vision 2030 telah memasuki tahun kesepuluh, generasi muda Arab Saudi tumbuh dengan janji reformasi, ambisi, dan pertumbuhan ekonomi.
"Pergeseran fokus Vision 2030 sebagai respons terhadap tantangan ekonomi merupakan sesuatu yang mengejutkan, karena banyak orang telah mengaitkan karier mereka dengan tujuan rencana pembangunan tersebut," kata Alice Gower.
Hak dan peluang perempuan meningkat, namun kesetaraan gender yang penuh masih menjadi tujuan yang jauh, menurut pengamat hak asasi manusiaFoto: Fayez Nureldine/AFP/Getty Images
Otoritarianisme dan represi di Arab Saudi terus berlanjut
Meski demikian, para pengamat tidak memperkirakan akan terjadi kemarahan publik atas penyesuaian prioritas ini. Arab Saudi kerap dikritik karena catatan hak asasi manusia yang buruk dan penindasan terhadap kritik. Dalam lima tahun terakhir, sejumlah orang dijatuhi hukuman penjara puluhan tahun hanya karena menyukai unggahan media sosial tentang hak asasi manusia. Eksekusi hukuman mati juga meningkat pada 2025.
Gower memperkirakan pengawasan negara akan peka terhadap tanda-tanda ketidakpuasan yang muncul, baik di media sosial maupun di ruang publik, termasuk terkait revisi agenda reformasi.
Julia Legner, Direktur Eksekutif lembaga pemantau HAM ALQST yang berbasis di London, mengatakan kepada DW bahwa "inisiatif berskala besar yang bersifat top-down, digerakkan oleh PIF dan dikendalikan ketat oleh Mohammed bin Salman, mengecualikan sebagian besar masyarakat Arab Saudi."
Menengok Hak Perempuan di Arab Saudi
Arab Saudi sudah mengumumkan akan mengizinkan perempuan untuk memiliki surat izin mengemudi tanpa harus ada izin dari "penjaga legal". Untuk itu perjuangannya panjang.
Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Ammar
1955: Sekolah pertama buat anak perempuan, 1970: Universitas pertama
Dulu, anak perempuan Arab Saudi tidak bisa bersekolah seperti murid-murid sekolah di Riyadh. Penerimaan murid di sekolah pertama untuk perempuan, Dar Al Hanan, baru dimulai 1955. Sementara Riyadh College of Education, yang jadi institusi pendidikan tinggi untuk perempuan, baru dibuka 1970.
Foto: Getty Images/AFP/F. Nureldine
2001: Kartu identitas untuk perempuan
Baru di awal abad ke-21, perempuan bisa mendapat kartu identitas. Padahal kartu itu adalah satu-satunya cara untuk membuktikan siapa mereka, misalnya dalam cekcok soal warisan atau masalah properti. Kartu identitas hanya dikeluarkan dengan dengan izin dan diberikan kepada muhrim. Baru tahun 2006 perempuan bisa mendapatkannya tanpa izin muhrim. 2013 semua perempuan harus punya kartu identitas.
Foto: Getty Images/J. Pix
2005: Kawin paksa dilarang - di atas kertas
Walaupun 2005 sudah dilarang, kontrak pernikahan tetap disetujui antara calon suami dan ayah pengantin perempuan, bukan oleh perempuan itu sendiri.
Foto: Getty Images/A.Hilabi
2009: Menteri perempuan pertama
Tahun 2009, King Abdullah menunjuk menteri perempuan pertama. Noura al-Fayez jadi wakil menteri pendidikan untuk masalah perempuan.
Foto: Foreign and Commonwealth Office
2012: Atlit Olimpiade perempuan pertama
2012 pemerintah Arab Saudi untuk pertama kalinya setuju untuk mengizinkan atlit perempuan berkompetisi dalam Olimpiade dengan ikut tim nasional. Salah satunya Sarah Attar, yang ikut nomor lari 800 meter di London dengan mengenakan jilbab. Sebelum Olimpiade dimulai ada spekulasi bahwa tim Arab Saudi mungkin akan dilarang ikut, jika mendiskriminasi perempuan dari keikutsertaan dalam Olimpiade.
Foto: picture alliance/dpa/J.-G.Mabanglo
2013: Perempuan diizinkan naik sepeda dan sepeda motor
Inilah saatnya perempuan untuk pertama kalinya diizinkan naik sepeda dan sepeda motor. Tapi hanya di area rekreasi, dan dengan mengenakan nikab dan dengan kehadiran muhrim.
Foto: Getty Images/AFP
2013: Perempuan pertama dalam Shura
Februari 2013, King Abdullah untuk pertama kalinya mengambil sumpah perempuan untuk jadi anggota Syura, atau dewan konsultatif Arab Saudi. Ketika itu 30 perempuan diambil sumpahnya. Ini membuka jalan bagi perempuan untuk mendapat posisi lebih tinggi di pemerintahan.
Foto: REUTERS/Saudi TV/Handout
2015: Perempuan memberikan suara dalam pemilu dan mencalonkan diri
Dalam pemilihan tingkat daerah di tahun 2015, perempuan bisa memberikan suara, dan mencalonkan diri untuk dipilih. Sebagai perbandingan: Selandia Baru adalah negara pertama, di mana perempuan bisa dipilih. Jerman melakukannya tahun 1919. Dalam pemilu 2015 di Arab Saudi, 20 perempuan terpilih untuk berbagai posisi di pemerintahan daerah, di negara yang monarki absolut.
Foto: picture-alliance/AP Photo/A. Batrawy
2017: Perempuan pimpin bursa efek Arab Saudi
Februari 2017, untuk pertama kalinya bursa efek Arab Saudi mengangkat kepala perempuan dalam sejarahnya. Namanya Sarah Al Suhaimi.
Foto: pictur- alliance/abaca/Balkis Press
2018: Perempuan akan diijinkan mengemudi mobil
September 26, 2017, Arab Saudi mengumumkan bahwa perempuan akan segera diizinkan untuk mengemudi mobil. Mulai Juni 2018, perempuan tidak akan perlu lagi izin dari muhrim untuk mendapat surat izin mengemudi. Dan muhrim juga tidak harus ada di mobil jika mereka mengemudi.
Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Jamali
2018: Perempuan akan diijikan masuk stadion olah raga
29 Oktober 2017, Badan Olah Raga mengumumkan perempuan akan boleh menonton di stadion olah raga. Tiga stadion yang selama ini hanya untuk pria, juga akan terbuka untuk perempuan mulai 2018.
Foto: Getty Images/AFP/F. Nureldine
2019: Perempuan Saudi akan mendapat notifikasi melalui pesan singkat jika mereka diceraikan
Hukum baru dirancang untuk lindungi perempuan saat pernikahan berakhir tanpa sepengetahuan mereka. Perempuan dapat cek status pernikahannya online atau dapat fotokopi surat tanda cerai dari pengadilan. Hukum ini tak sepenuhnya lindungi perempuan karena cerai hanya dapat diajukan dalam kasus terbatas dengan persetujuan suami atau jika suami lakukan tindak kekerasan. (Penulis: Carla Bleiker, ml/hp)
Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Ammar
12 foto1 | 12
Kesetaraan gender di Arab Saudi "masih jauh dari tercapai"
Pandangan ini sejalan dengan Ahmed Benchemsi, Direktur Advokasi dan Komunikasi Divisi Timur Tengah dan Afrika Utara Human Rights Watch.
"Di Arab Saudi, reformasi dan represi sama-sama diberlakukan dari atas, di bawah aturan otoriter yang ketat," kata Benchemsi kepada DW.
Secara permukaan, perubahan itu tampak sebagai kemajuan. Namun, jika ditelaah lebih dekat, realitas yang lebih suram muncul, ujarnya.
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris