1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Reformasi Sistem Kesehatan Jerman

7 Oktober 2006

Kompromi politik yang dicapai koalisi pemerintahan Jerman dalam silang sengketa reformasi sistem kesehatan, dikomentari dengan tajam oleh harian-harian internasional.

Kompromi tersebut merupakan indikator, bahwa sebetulnya koalisi pemerintahan di Jerman, yang terdiri dari dua partai besar, yakni Uni Kristen CDU/CSU dan Partai Sosial Demokrat SPD sudah amat sulit bergerak.

Harian Swiss Tages Anzeiger yang terbit di Zürich berkomentar:

"Taktik untuk mengelabui rakyat itu amat kasar. Kelicikan semacam itu berdampak amat besar, karena dapat mematikan kepercayaan politik. Fokus pada kepentingan partai sendiri adalah ketidak warasan, yang memaksa koalisi memutuskan reformasi semu, yang tidak diperlukan oleh siapapun. Tinggal menunggu saatnya rakyat menarik kesimpulan, dalam persyaratan seperti itu, mereka tidak memerlukan lagi pemerintahan koalisi."

Sementara harian Perancis Le Figaro yang terbit di Paris berkomentar: Kompromi reformasi sistem kesehatan dapat memicu kelumpuhan politik di Jerman.

"Dalam pemerintahan koalisi dari pemilu tahun lalu yang hasilnya imbang, amat sulit menarik keputusan bersama. Indikasinya nampak jelas dari perdebatan alot dan berkepanjangan dalam pembahasan reformasi sistem kesehatan. Nasib politik Kanselir Angela Merkel amat tergantung dari sukses koalisi besar. Jika kelumpuhan politik terjadi, boleh jadi Merkel hanya akan dikenang sebagi kanselir transisi."

Harian Austria Die Presse yang terbit di Wina berkomentar: Reformasi sistem kesehatan itu ejekan atau pelipur lara?

"Sejak hampir 11 bulan, pemerintahan Jerman hanya bergerak dari kompromi busuk ke kompromi licik berikutnya. Dalam kasus terbaru, reformasi sistem kesehatan, yang sosoknya ibarat monster yang amat birokratis, sejumlah pejabat dan fungsionaris partai menunjukan kepuasannya. Tapi dipastikan kompromi itu tidak akan menjadikan sistem kesehatan lebih sehat. Dampak dari kelumpuhan koalisi, adalah runtuhnya pemerintahan Jerman dalam waktu dekat ini."

Juga harian Rusia Kommersant menyoroti dengan tajam kompromi dalam reformasi sistem kesehatan di Jerman. Harian yang terbit di Moskow itu berkomentar:

"Reformasi itu tetap akan dipersengketakan. Kanselir Angela Merkel berhasil mencapai kompromi dengan dua mitra politiknya. Boleh jadi, kompromi itu dapat mengerem terus merosotnya popularitas pemerintahan Merkel. Tapi, para pengritik reformasi sistem kesehatan pasti tidak akan bungkam hanya karena tercapainya kompromi."

Sementara harian Jerman Stuttgarter Zeitung yang terbit di Stuttgart berkomentar: Kompromi ibaratnya hanya menyangkut soal remeh temeh.

"Rancangan reformasi sistem kesehatan kemungkinan besar akan diambangkan terus hingga pemilu mendatang di tahun 2009. Untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan politiknya, koalisi pemerintahan ibaratnya menaburkan pasir ke mata rakyatnya. Reformasi sistem kesehatan tidak akan memecahkan masalah, seperti janji kanselir Merkel, namun sebaliknya akan menciptakan masalah baru. Kentara sekali, dengan kompromi busuknya, pemerintahan koalisi ingin secepatnya mengenyahkan masalah ini dari depan matanya."