Rencana Gapura Trump dan Sejarah Gapura Kemenangan di Dunia
13 Maret 2026
Ide membuat gapura pertama kali dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump Oktober tahun lalu. Ia ingin sebuah gapura kemenangan dibuat di Washington DC memperingati 250 Tahun Kemerdekaan AS yang jatuh pada 4 Juli.
Saat berbicara kepada para donatur dalam sebuah jamuan makan malam di Gedung Putih, ia memperlihatkan beberapa model miniatur yang terinspirasi dari Arc de Triomphe di Paris, Prancis. Proyek itu pun dijuluki "Arc de Trump.”
Ketika ditanya oleh seorang reporter CBS News untuk siapakah gerbang itu dibangun, Trump pun menunjuk dirinya sendiri sambil berkata "saya,” seraya menambahkan gerbang itu akan "sangat indah.”
Rencana Trump tersebut kembali bergaung di awal tahun ini. Ia menginginkan gapura dengan dengan tinggi 250 kaki (76 meter), lebih tinggi daripada monumen lainnya di AS, seperti Lincoln Memorial (tinggi sekitar 100 kaki) dan Gedung Putih (tinggi sekitar 70 kaki).
Lokasinya yang berada di antara Pemakaman Nasional Arlington dan Lincoln Memorial, menuai banyak kritik. Namun, Trump berargumen bahwa 57 kota di dunia memiliki gerbang kemenangan dan "Washington D.C., satu-satunya kota besar yang tidak memilikinya.
Gerbang kemenangan dengan pintu melengkung memiliki sejarah panjang di berbagai budaya dan era.
Tradisi arsitektur hingga jadi pengingat kolektif
Penelitian arkeologi menunjukkan bahwa pembangunan kuno di Mesopotamia dengan tradisi arsitektur yang telah ada sejak milenium ke-10 hingga abad ke-6 SM telah membangun gerbang melengkung menggunakan batu bata yang terbuat dari lumpur (yang dikeringkan di bawah sinar matahari). Bata kemudian ditempelkan dengan adukan lumpur untuk membuat pintu gerbang kota, saluran air, pintu masuk, dan ruang makam. Lengkungan-lengkungan pada gerbang tersebut secara praktis memperkuat pintu dan gerbang serta membuat bangunan lebih kokoh dan stabil.
Teknik sederhana yang berasal dari Timur Tengah ini menjadi acuan bagi peradaban-peradaban selanjutnya, seperti peradaban Romawi, yang menggunakan teknik dan desain serupa untuk keperluan praktis dalam pembangunan gerbang, saluran air, dan bangunan berkubah seperti Colosseum.
Pada akhir abad ke-1 M, gerbang Romawi mulai bersifat peringatan dan propaganda. Misalnya, Arch of Titus yang didirikan oleh Kaisar Romawi Domitianus untuk memperingati kemenangan audaranya, Titus, dalam Pengepungan Yerusalem (70 M) selama Perang Yahudi-Romawi Pertama.
Relief-reliefnya menggambarkan tentara Romawi yang membawa rampasan perang dari Bait Suci Kedua di Yerusalem, termasuk sebuah menorah (tempat lilin khas Yahudi) emas bercabang tujuh. Mary Beard, Profesor Bidang Humaniora Yunani-Romawi Kuno di Universitas Cambridge, dalam penelitiannya tentang kemenangan-kemenangan Romawi, monumen-monumen semacam itu dirancang bukan hanya untuk mencatat peristiwa, tapi juga untuk mempengaruhi bagaimana orang di masa depan mengingat peristiwa tersebut.
Berabad-abad kemudian, Napoleon Bonaparte, jenderal Prancis yang menjadi kaisar, menugaskan pembangunan Arc de Triomphe pada tahun 1806 setelah kemenangannya dalam Pertempuran Austerlitz. Namun, proyek tersebut baru selesai pada tahun 1836, jauh setelah wafatnya Napoleon di tahun 1821. Monumen setinggi sekitar 50 meter di Paris ini semenjak itu menjadi tempat upacara dan peringatan hari nasional. Sekarang, jadi spot foto populer di Instagram.
Gerbang monumental yang melintasi berbagai zaman
Di berbagai wilayah dan periode, gerbang-gerbang monumental telah berfungsi sebagai tempat politik dan seremonial bersejarah.
Taq i-Kisra, gerbang melengkung dari bata menjulang milik raja-raja Sasaniyah adalah sisa terakhir yang masih terlihat dari Ctesiphon kuno, yang pernah menjadi ibu kota Kekaisaran Persia. Dibangun antara abad ke-3 dan ke-6 Masehi, gerbang ini menjulang di dataran dekat Salman Pak di Irak.
Dianggap sebagai contoh luar biasa dari teknik kuno, seluruh kubahnya terbuat dari batu bata tanpa ditopang baja, beton, atau penyangga tersembunyi. Saat ini, gerbang melengkung dengan bata tunggal tanpa penopang itu adalah yang gerbang terbesar kedua yang pernah dibangun di dunia, setelah Gavmishan Bridge di Iran.
Di Berlin, Gerbang Brandenburg bergaya neoklasik dibangun atas perintah Frederick William II dari Prusia sebagai gerbang masuk kota. Kereta kuda di puncaknya yang dikendarai sang dewi kemenangan sempat disita oleh Napoleon pada 1806 dan dibawa ke Paris sebagai trofi perang setelah kekalahan Prussia, namun kereta tersebut dikembalikan pada tahun 1814.
Di abad ke-20, gerbang ini menjadi ‘panggung' pertunjukan Nazi. Setelah Tembok Berlin didirikan pada tahun 1961, gerbang ini jadi simbol perpecahan Perang Dingin. Ketika Tembok Berlin runtuh di tahun 1989, makna Gerbang Brandenburg pun berubah, menjadi lambang reunifikasi Jerman dan keterbukaan Eropa.
Penanda identitas komunal
Namun, gapura melengkung tidak sekadar lambang kekuasaan atau penaklukan.
Di seluruh komunitas diaspora Cina "Paifang” atau gapura melengkung dengan beragam hiasan kerap menjadi pintu masuk ke area Chinatown atau Pecinan di seluruh dunia. Warna-warnanya yang cerah dengan atap berukir, serta elemen tradisional seperti naga, singa, dan kaligrafi yang khas, membuat gerbang ini menonjol di lanskap jalanan.
Di Cina gerbang-gerbang ini menandai situs suci atau untuk menghormati keluarga-keluarga yang dihormati. Namun keberadaannya di luar negeri menjadi simbol identitas negeri bambu tersebut. Keberadaan gerbang-gerbang tersebut kota-kota besar seperti San Francisco, London, hingga Sydne dibentuk perencanaan kota, advokasi komunitas, atau inisiatif multikultural.
India Gate di New Delhi yang dirancang oleh arsitek Inggris Edwin Lutyens, terinspirasi oleh tradisi gerbang kemenangan Romawi, Arch of Constantine. Awalnya gerbang ini dibangun sebagai monumen peringatanTentara India yang tewas antara tahun 1914 dan 1921 dalam Perang Dunia I dan Perang Anglo-Afghan Ketiga. Nama sekitar 13.500 tentara India dan Inggris terukir di monumen tersebut. Seiring waktu, area di sekitar India Gate telah menjadi salah satu ruang publik ikonik kota, serta tempat diadakannya upacara dan parade nasional tahunan.
Gerbang menuju ruang spiritual
Terakhir, gapura punya peranan penting di tempat-tempat suci.
Di Jepang, torii di kuil Shinto yang sebagaian besar dicat dengan warna merah terang, bukanlah gerbang struktural, tapi dipercaya mengusir kejahatan. Pengunjung seringkali membungkuk saat melewatinya.
Melangkah di bawahnya menandai transisi yang jelas, perjalanan dari dunia sekuler menuju ke alam para dewa-dewi dalam kepercayaan Shinto. Secara simbolis, mengingatkan orang-orang bahwa mereka sedang melangkah ke tempat suci.
Di Eropa abad pertengahan, pemahat batu Gotik kerap membuat lengkungan runcing, atap berbentuk kubah, dan jendela kaca dengan ragam berwarna untuk mengarahkan pandangan pengunjungnya ke atas serta mengisi ruang gereja dengan apa dianggap sebagai "cahaya suci.”
Gaya arsitektur Gotik mulai terlihat ketika Biara Saint-Denis di utara Paris dibangun kembali pada abad ke-12 oleh Abbot Suger. Seiring penyebaran gaya ini, gereja dan biara-biara selanjutnya mengembangkannya lebih lanjut, bahkan dalam reruntuhan Biara Tintern di Wales ditunjukkan bagaimana arsitektur Gotik membentuk cahaya dan ruang untuk membangkitkan kesucian.
Kini gerbang melengkung bukan sekadar peninggalan masa lalu, tapi punya makna yang kerap memicu perselisihan.
Di Washington saat ini, gugatan hukum diajukan pada Februari 2026 oleh tiga veteran Perang Vietnam dan seorang sejarawan arsitek. Mereka berpendapat bahwa usulan Independence Arch memerlukan persetujuan Kongres dan akan menghalangi garis pandang yang telah lama terbentuk antara Arlington House dan Lincoln Memorial.
Garis padang ini sengaja dilestarikan untuk melambangkan persatuan nasional setelah perang saudara dan selama hampir satu abad tidak ada penghalang di antara keduanya.
Hal ini lantas menimbulkan pertanyaan - akankah kota dengan lansekap yang telah dipenuhi monumen dan dijaga dengan cermat akan menambahkan gerbang monumen baru? Dan kisah apa yang akan dibawa monumen ini?
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadapatasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid