Ekonomi: Cina Prioritaskan Investasi Teknologi Tinggi
Mu Cui
21 Oktober 2025
Rencana Pembangunan Lima Tahun yang dirumuskan Partai Komunis Cina di Beijing pekan ini mencanangkan investasi besar pada teknologi tinggi, serta pada konsumsi domestik demi merangsang pertumbuhan ekonomi.
Bagi Cina, membangun industri berteknologi tinggi seperti semikonduktor menjadi prioritas geopolitikFoto: picture alliance / Chu Baorui / Costfoto
Iklan
Dalam sebuah pertemuan tertutup di Beijing pekan ini, Komite Sentral Partai Komunis Cina merancang cetak biru pembangunan ekonomi nasional selama lima tahun ke depan, di tengah ragam masalah struktural, yang menurut para analis, perlu segera ditangani.
Pemerintah Cina kini merespon dengan mencanangkan prioritas pada pertumbuhan industri berteknologi tinggi, sembari merangsang daya beli konsumen di dalam negeri.
Selama berpuluh tahun, ekonomi terbesar kedua di dunia ini mengandalkan perdagangan ekspor dan investasi infrastruktur, sementara pilar ketiga ekonomi, yaitu konsumsi domestik, cendrung diabaikan.
Tapi ketika kegiatan ekspor dan pembangunan infrastruktur di Cina saat ini mulai melambat, peran konsumsi domestik menjadi semakin krusial.
“Suasana di kalangan konsumen dan keluarga di Cina sangat suram,” kata Alexander Brown, analis Cina dari Mercator Institute of China Studies (MERICS), sebuah think tank yang berbasis di Berlin.
“Namun demikian, Beijing akan menggelontorkan uang terutama untuk modernisasi industri mengingat situasi geopolitik saat ini dan tujuan Cina untuk ketahanan ekonomi,” imbuhnya, merujuk pada perang dagang dengan Amerika Serikat.
Perkembangan AI telah melahirkan aplikasi inovatif dari berbagai negara, seperti ChatGPT dari AS dan DeepSeek dari Cina.
Foto: Bihlmayerfotografie/Imago
DeepL
DeepL, sebuah perusahaan asal Jerman, telah merilis platform penerjemah berbasis AI yang diklaim mampu mengolah berbagai variasi bahasa dengan akurasi tiga kali lebih tinggi dibandingkan pesaingnya. DeepL juga dapat menerjemahkan halaman web, gambar, hingga email, serta memungkinkan pengguna untuk mengubah nada bicara menjadi formal atau informal sesuai kebutuhan.
Foto: Ralf Hirschberger/ZB/picture alliance
ChatGPT
Dirilis pada November 2022, ChatGPT dari OpenAI dengan cepat menarik perhatian jagat maya karena kemampuannya membuat esai, artikel, puisi, hingga bahasa pemrograman. ChatGPT dirancang untuk aktif berinteraksi dengan pengguna dalam berbagai topik. Saat ini, dengan versi GPT-4, pengguna sudah bisa berinteraksi dengan gambar.
Foto: Jaap Arriens/NurPhoto/picture alliance
Gemini
Dirilis oleh Google pada tahun 2023, Gemini diproyeksikan menjadi pesaing utama ChatGPT. Dengan pembaruan 2.0 Flash, Gemini mampu mengolah teks, visual, dan audio multibahasa dengan tingkat kendali yang tinggi. Model ini diklaim dapat menyelesaikan masalah dengan cara memecah instruksi pengguna menjadi tugas-tugas kecil sehingga menghasilkan jawaban yang akurat.
Foto: Jakub Porzycki/NurPhoto/picture alliance
Copilot
Copilot adalah aplikasi inovatif dari Microsoft yang menggabungkan Large Language Model (LLM) dengan Microsoft 365. Copilot membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi di aplikasi seperti Word, Excel, dan PowerPoint. Fitur cerdasnya termasuk Bing Chat untuk pencarian interaktif, Copilot Vision untuk analisis konten, dan Think Deeper untuk solusi masalah kompleks.
Foto: Andre M. Chang/ZUMA/picture alliance
DeepSeek
Aplikasi DeepSeek, yang dikembangkan oleh perusahaan Cina, memanfaatkan perangkat keras Nvidia yang lebih murah dan lawas. Meski demikian, aplikasi ini diyakini mampu menyaingi ChatGPT. Dengan model "open source"-nya, DeepSeek telah mengguncang pasar saham teknologi AS dan menjadi aplikasi AI teratas di App Store sejak peluncurannya pada Januari 2025.
Foto: Artur Widak/NurPhoto/picture alliance
5 foto1 | 5
Tekanan dari seberang Pasifik
Di seberang Samudera Pasifik, Amerika Serikat (AS) di bawah Presiden Donald Trump menjegal akses menuju teknologi semikonduktor, yang dibutuhkan industri strategis berbasis kecerdasan buatan atau AI. Chip paling canggih masih dibuat oleh perusahaan AS seperti Nvidia, yang menjadi episentrum tarik ulur politik larangan ekspor teknologi tinggi ke Cina.
Iklan
Bagi Cina, mengembangkan kedaulatan semikonduktor sangat penting. Minggu lalu, Trump juga memperbarui ancaman tarif tiga digit terhadap impor Cina, setelah Beijing mengisyaratkan akan semakin membatasi ekspor mineral tanah jarang.
Seiring upaya Washington mendepak Cina dari ekosistem teknologi tinggi yang dipimpin AS, persaingan geopolitik menjadi perhatian yang lebih besar bagi Beijing dibandingkan masalah struktural ekonomi, kata Chen Bo, peneliti senior di East Asian Institute, National University of Singapore, kepada Reuters.
Chen mengatakan dokumen kebijakan yang akan keluar dari sesi pleno yang dijadwalkan berakhir pada 23 Oktober itu akan “menekankan, dan menekankan kembali, dukungan untuk riset berteknologi tinggi dan pengembangan industri.”
Analis itu mengatakan manufaktur tetap menjadi “prioritas utama” dalam hal kekuatan ekonomi Cina.
“Ketika konflik muncul, yang paling penting pada akhirnya adalah manufaktur, bukan jasa,” kata Chen.
Namun, mendukung pengembangan industri berteknologi tinggi dengan dukungan pemerintah berarti akan ada lebih sedikit sumber daya yang dapat dialokasikan untuk merangsang pengeluaran konsumen.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Mengincar kedaulatan semikonduktor
Pada Juli, Presiden Cina Xi Jinping menekankan dalam sebuah pidato bahwa dunia “sedang mengalami perubahan paling mendalam dalam satu abad, dengan revolusi ilmu pengetahuan dan teknologi serta persaingan antara kekuatan besar semakin saling terkait.”
Xi juga memperbarui seruannya agar Cina mengambil peran utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Cina sudah menjadi pemimpin dunia di sektor-sektor seperti mobilitas listrik dan energi terbarukan.
Dan, kecuali untuk beberapa bidang seperti semikonduktor dan penerbangan komersial, Cina hampir sepenuhnya membangun rantai pasokannya sendiri di dalam negeri.
Cina juga terus meningkatkan investasinya di industri berteknologi tinggi untuk semakin memperkuat kedaulatan ekonominya dan mengurangi ketergantungan pada sedikit sektor di mana negara itu belum mendominasi.
Negara dengan devisa berlimpah biasa menyisakan asetnya untuk dipakai berbisnis. Saat ini total aset yang dikelola dana investasi pemerintah di seluruh dunia mencapai 7,1 trilyun Dollar AS. Dimana posisi Indonesia?
Foto: Getty Images/AFP/R. Gacad
1. Norwegia - 885 Milyar Dollar AS
Sejak 1990 Norwegia menabung surplus keuntungan dari industri minyak milik negara untuk masa depan. Saat ini Dana Pensiun Pemerintah yang dikelola oleh bank sentral itu tercatat sebagai yang terbesar di dunia dengan nilai aset sebesar 885 milyar Dollar AS.
Foto: diegomorde/Fotolia.com
2. Cina (CIC) - 813,8 Milyar Dollar AS
Cina memiliki empat dana investasi sekaligus. Salah satunya, China Investment Corporation adalah yang terbesar dengan nilai aset 813,8 milyar Dollar AS. CIC bertugas mengelola cadangan devisa negara yang diparkir di luar negeri. Belakangan CIC gemar berbelanja di Eropa, mulai dari membeli hak distribusi gas di Inggris atau bahkan memborong aset real estate di Jerman.
Foto: picture-alliance/ dpa
3. Abu Dhabi - 792 Milyar Dollar AS
Didirikan sejak tahun 1976 untuk mengelola surplus keuntungan dari ekspor minyak, Abu Dhabi Investment Authority kini tercatat sebagai salah satu dana investasi paling gemuk di dunia. ADIA ditaksir menyimpan aset senilai 792 milyar Dollar AS, termasuk di antaranya berbagai hotel mewah di Hongkong, bandar udara London Gatwick dan raksasa gas Norwegia, Gassled.
Foto: picture alliance/AP Images/K. Jebreili
4. Arab Saudi - 598,4 Milyar Dollar AS
Arab Saudi memarkir keuntungan dari industri minyaknya di sebuah dana investasi bernama SAMA Foreign Holdings. Saat ini dana investasi yang dikelola bank sentral itu menguasai aset senilai 598,4 milyar Dollar AS. Tapi jika rencana Riyadh buat menjual sebagian saham perusahaan minyak negara Aramco terwujud, maka SAMA akan mendapat suntikan dana segar sebesar 2 trilyun Dollar AS.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Schreiber
5. Kuwait - 592 Milyar Dollar AS
Otoritas Investasi Kuwait (KIA) adalah dana investasi tertua di dunia. Didirikan pada 1953, KIA yang sepenuhnya mengandalkan keuntungan dari sektor minyak saat ini mengelola aset senilai 592 milyar Dollar AS. Dalam bisnisnya KIA bersikeras tidak ingin dipengaruhi sikap politik pemerintah pusat dan semata-mata bertujuan meningkatkan nilai aset.
Foto: picture alliance/Robert Harding
6. Cina (SAFE) - 474 Milyar Dollar AS
Dana investasi terbesar kedua di Cina ini awalnya dianggap sebagai satu-satunya instansi bisnis yang berhak mengelola cadangan devisa di luar negeri. Namun status itu terpaksa dibagi dengan CIC pada 2007 silam. Sejak saat itu kedua lembaga sering terlibat persaingan bisnis. SAFE banyak menyimpan obligasi Amerika Serikat dan sejumput saham di perusahaan multinasional seperti Shell dan Rio Tinto
Foto: picture-alliance/dpa/Imaginechina/Tian Zhe
7. Hong Kong - 442,4 Milyar Dollar AS
Berbeda dengan dana investasi lain, Hong Kong Monetary Authority (HKMA) yang saat ini menyimpan aset senilai 442.4 milyar Dollar AS tidak diizinkan berbelanja di luar negeri. Sebaliknya HKMA berfungsi sebagai perpanjangan tangan bank sentral untuk menjaga stabilitas pasar saham lokal. Sebab itu HKMA cuma aktif di bursa saham Hang Seng.
Foto: imago/Photoshot/Construction Photography
8. Singapura - 350 Milyar Dollar AS
Dana investasi milik pemerintah Singapura (GIC) saat ini ditaksir bernilai 350 milyar Dollar AS. Namun berbeda dengan dompet bisnis pemerintah lain, GIC tidak memiliki aset, melainkan mengelola aset negara atas nama pemerintah. Saat ini GIC tercatat telah menanam modal di 40 negara.
Foto: picture alliance/Robert Harding World Imagery
9. Qatar - 335 Milyar Dollar AS
Otoritas investasi Qatar mengelola surplus penjualan gas dan saat ini ditaksir mengelola aset senilai 335 milyar Dollar AS. Qatar adalah salah satu produsen gas alam terbesar di dunia. Bank Sentral pernah mengukur cadangan gas alam yang dimiliki negeri kecil itu cukup untuk 138 tahun dengan kuota produksi saat ini. Tugas terbesar dana investasi adalah mendorong diversifikasi aset mancanegara.
Foto: imago/imagebroker
10. Cina (NSSF) - 236 Milyar Dollar AS
National Social Security Fund milik Cina yang saat ini menyimpan harta senilai 236 milyar Dollar AS didirikan sebagai solusi atas populasi yang kian menua. Cina kerepotan membiayai kaum manula lantaran ketimpangan demografi menyusul kebijakan satu anak yang diterapkan sejak 1970an. Menurut dewan pengawas, NSSF mengelola dana keamanan sosial untuk menjamin kesejahteraan kaum manula.
Foto: picture-alliance/dpa/L. Xiaofei
70. Indonesia - 300 Juta Dollar AS
Didirikan sejak 2006, Pusat Investasi Pemerintah saat ini menguasai aset senilai 300 juta Dollar AS. PIP didirikan untuk menyontek keberhasilan Temasek Holdings milik Singapura dan Khazanah Nasional di Malaysia. Sejak 2015 silam pemerintah mengalihkan sebagian aset PIP kepada PT Sarana Multi Infrastruktur untuk menggenjot investasi di bidang pembangunan infrastruktur.
Pada sesi Kongres Rakyat pada September lalu, dibahas bagaimana meningkatkan pendapatan yang dapat dibelanjakan oleh rumah tangga swasta dan pangsa konsumsi dalam ekonomi.
Konsumsi swasta di Cina saat ini hanya sekitar 40% dari output ekonomi, jauh lebih rendah dibandingkan 60% di negara-negara Barat, di AS, angkanya bahkan mencapai 70%.
Beberapa lembaga riset Cina telah mengusulkan peningkatan konsumsi swasta hingga 50% dalam 10 tahun ke depan. Dalam beberapa bulan terakhir, Beijing telah mengumumkan langkah-langkah seperti subsidi konsumen, kenaikan pensiun, dan tunjangan perawatan anak, serta melakukan beberapa perbaikan pada jaminan sosial.
Analis MERICS Brown percaya langkah-langkah ini pada dasarnya “terpaksa” dilakukan karena masalah seperti perubahan demografis, kelebihan kapasitas, dan menurunnya ekspor.
“Saya percaya bahwa langkah-langkah seperti ini, meskipun tidak banyak, akan terus diambil dalam lima tahun ke depan,” katanya kepada DW.
Larry Hu, kepala ekonom Cina di Macquarie Group, mengatakan kepada Reuters bahwa ia memperkirakan Beijing akan mengambil tindakan untuk merangsang konsumsi domestik ketika menjadi jelas bahwa permintaan eksternal telah cukup menurun sehingga mengancam target pertumbuhan.
“Jika Anda hanya mengandalkan permintaan eksternal dan permintaan domestik tidak berjalan, maka akan ada masalah pengangguran dan juga deflasi,” katanya. “Jika terus seperti ini satu atau dua tahun, masih oke. Tapi dalam jangka panjang, ini pasti akan menjadi masalah.”
Bagaimanapun, merangsang konsumsi domestik sama sekali tidak murah, terutama pada saat kemampuan finansial Beijing sudah terbatas karena krisis properti, tingginya tingkat utang, dan pertumbuhan yang lebih rendah.
Menurut Citigroup, pemerintah Cina perlu menginvestasikan 20 triliun yuan (setara Rp46,6 kuadriliun) dalam lima tahun ke depan untuk benar-benar menangani ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan dalam ekonomi Cina. Ini setara dengan 15% dari PDB Cina pada 2024.
Analis Brown dari MERICS mengatakan bahwa untuk saat ini, ini berarti Beijing akan memprioritaskan pengalokasian sumber daya ke industri, tempat mereka melihat peluang pertumbuhan saat ini.
“Mereka akan terus menginvestasikan sumber daya terutama di industri teknologi di mana ada kesempatan untuk menjadi pemimpin dunia. Harapannya, pencapaian ini akan menghasilkan banyak uang. Uang ini, atau pendapatan pajak, kemudian pada akhirnya dapat didistribusikan ke seluruh sistem ekonomi,” katanya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha