1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Residu Pilpres di Balik Tuduhan "Rekayasa" Penusukan Wiranto

11 Oktober 2019

Hanum Rais diadukan ke Kepolisian karena menyebut insiden penusukan terhadap Menkopolhukam Wiranto sebagai rekayasa. Dia tidak sendirian. Pengamat menilai gelombang komentar nyinyir itu adalah sisa residu Pilpres 2019.

Symbolbild Facebook - Datenschutz & Gewalt & Hass & Fake News
Foto: picture-alliance/chromorange/R. Peters

Hanum Rais tidak jengah menambun kontroversi. Kini puteri tokoh reformasi Amien Rais itu tertohok oleh kicauannya di Twitter yang mencibir insiden penusukan terhadap Wiranto sebagai sebuah sandiwara. Menurutnya serangan tersebut dibuat "agar dana deradikalisasi terus mengucur."

"Tak banyak yang benar-benar serius menanggapi," tulisnya. "Mungkin karena terlalu banyak hoaks framing yang selama ini terjadi." Media-media melaporkan, cuitan tersebut saat ini sudah menghilang dari linimasa Hanum. Dalam pembelaannya dia menulis tidak sengaja menghapus kicauan tersebut.

Tak perlu menunggu lama, Hanum kini dilaporkan oleh kelompok relawan Jokowi-Ma'ruf ke polisi atas dugaan ujaran kebencian. Kepada Tempo koordinator relawan Rody Asyadi menganggap cuitan Hanum berbahaya karena "memberikan efek negatif untuk masyarakat." 

Residu Pilpres di Media Sosial

Pengamat intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta, menilai ujaran miring terkait penusukan Wiranto lahir "sebagai residu politik" pasca Pemilu Kepresidenan 2019 silam, yang "masih kuat."

Penusukan Wiranto dinilainya "menjai kesempatan oposisi mengutarakan kekesalan dengan membenarkan peristiwa itu sebagai sebuah skenario." Stanislaus menyayangkan sejumlah tokoh politik yang menggunakan pola komunikasi serupa, "yang kemudian dicontoh oleh publik," ujarnya kepada DW.

Salah satu cuitan nyinyir ihwal Wiranto diunggah Adamsyah Wahab, politisi Partai Demokrat. Dalam cuitannya tertanggal 11 Oktober, dia memuat video penusukan Wiranto sembari menulis "episode om Wir berakting." Cuitannya itu sampai-sampai ditanggapi kritis oleh rekan separtainya sendiri, Ferdinand Hutahean.

Netizen lain tidak kalah cepat. Serupa Hanum, beberapa mencurigai insiden di Banten itu sebagai cara untuk menyudutkan umat muslim. Komentar serupa sering bermunculan setiap kali tuduhan diarahkan kepada kelompok radikal.


Politik Pascakebenaran

Meski demikian Stanislaus tetap meyakini gelombang komentar miring terkait kabar penusukan Wiranto beraroma politis. Menurutnya upaya pembelaan oleh sebagian umat muslim "wajar, karena mereka tidak ingin stigma terorisme pada Islam itu menguat." Pada kasus Wiranto misalnya, tersangka pelaku diidentifikasi sebagai anggota aktif Jemaah Ansharut Daulah yang berafiliasi dengan Islamic State.

Maka yang menjadi tantangan adalah "politik pascakebenaran yang sedang mewabah di Indonesia" dan memperkuat bias konfirmasi masyarakat. "Jadi kalau mereka tidak suka dengan pemerintah, informasi apapun dari pemerintah tidak akan diterima." Fenomena ini turut berimbas pada upaya meredam geliat teror di tanah air. "Kalau ada aksi teror maka itu bisa dianggap sebagai rekayasa," katanya. 

Stanislaus mendesak pemerintah untuk bertindak lebih tegas pada pernyataan-pernyataan sesat semacam itu. Hal ini dinilai penting karena bisa menjadi pelajaran kepada khalayak ramai agar tidak menyebarkan narasi-narasi tersebut. "Ketika dihadapkan pada langkah hukum, orang cendrung diam dan kasus-kasus semacam itu cendrung meredup."

rzn/vlz (dari berbagai sumber)

 

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait