Resolusi PBB Picu Perdebatan tentang Reparasi Perbudakan
Mimi Mefo Takambou
28 Maret 2026
Sebuah resolusi bersejarah PBB telah memicu perdebatan mengenai reparasi atas perdagangan budak transatlantik. Para pendukung berargumen bahwa pengakuan, permintaan maaf, dan reformasi struktural telah lama tertunda.
Setidaknya 12,5 juta warga Afrika diculik dan diperdagangkan ke Amerika selama perdagangan budak transatlantikFoto: The Print Collector/Heritage Images/picture alliance
Iklan
Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini mengadopsi sebuah resolusi bersejarah yang menyatakan perdagangan budak transatlantik sebagai "kejahatan kemanusiaan paling berat”.
Resolusi tersebut juga menyerukan kepada negara-negara anggota PBB untuk terlibat dalam pembicaraan mengenai keadilan reparatif, termasuk permintaan maaf yang penuh dan resmi, langkah-langkah restitusi, kompensasi, rehabilitasi, kepuasan, jaminan agar hal serupa tidak terulang, serta perubahan hukum, program, dan layanan yang dapat menangani rasisme dan diskriminasi sistemik.
Meskipun tidak bersifat mengikat secara hukum, resolusi ini secara luas dipandang sebagai tonggak politik penting. Direktur Eksekutif Amnesty International di Nigeria, Isa Sanusi, mengatakan, "Ini adalah keputusan yang sangat penting… keputusan ini mengakui fakta bahwa perdagangan budak transatlantik merupakan ketidakadilan besar terhadap kemanusiaan.”
Ia menambahkan bahwa pengakuan simbolis ini, meskipun sekadar simbol, "akan sangat membantu membuka jalan untuk menghadapi ketidakadilan itu.”
Bagi banyak orang Afrika dan diasporanya, pemungutan suara ini menandai pergeseran dari sekadar pengakuan simbolis menuju percakapan global yang lebih substansial tentang akuntabilitas.
Sejarah Kebiadaban Kolonial Jerman
Jejak kolonialisme Jerman sudah banyak dilupakan. Namun kebiadaban pemerintahan kolonial lebih dari seabad silam masih menghantui hingga kini. Inilah penggalan sejarah kelam Jerman yang tak tuntas.
Foto: public domain
'Masa depan di Samudera'
Di Bawah kanselir Otto von Bismarck, Jerman menjajah Namibia, Kamerun, Togo dan sebagian wilayah Tanzania dan Kenya. Warisan Bismarck dilanjutkan Kaisar Wilhelm II (gambar) dengan membangun armada laut untuk memperluas wilayah kolonial Jerman. Bismarck sebenarnya bukan "pria kolonial." Agresi Jerman dilakukan cuma buat "melindungi rute perdagangan."
Foto: Hulton Archive/Getty Images
Jajahan Jerman
Jerman lalu membeli sejumlah wilayah jajahan di Pasifik, antara lain wilayah utara Papua Nugini, Kepulauan Bismarck, Kepulauan Marshall dan Solomon serta Qingdao di Cina. Sebuah konfrensi negara kolonial Eropa di Brussels tahun 1890 juga menelurkan hak buat Jerman untuk menduduki kerajaan Rwanda dan Burundi. Hingga akhir abad ke-19, perluasan wilayah kolonial Jerman resmi berakhir.
Foto: picture-alliance / akg-images
Manusa Kelas Dua
Populasi "kulit putih" di wilayah jajahan Jerman tidak lain adalah sekelompok kecil warga Eropa yang menikmati berbagai hak dan imunitas. Tahun 1914 sebanyak 25 ribu warga Jerman hidup di wilayah kolonial, hampir separuhnya menetap di Namibia. Sementara 13 juta penduduk lokal dianggap sebagai manusia kelas dua tanpa hak sipil.
Foto: picture-alliance/dpa/arkivi
Genosida Pertama Abad ke-20
Pembantaian terhadap etnis Herero dan Nama di Namibia adalah kejahatan terbesar Jerman di era kolonialisme. Pada pertempuran Waterberg, 1904, pasukan Jerman memblokir akses terhadap air buat pemberontak Herero yang melarikan diri ke gurun Namib. Akibatnya 60.000 orang mati kehausan.
Foto: public domain
Kejahatan yang Terlupakan
Cuma sekitar 16.000 anggota etnis Herero yang hidup setelah pemberontakan gagal. Mereka ditahan di kamp konsentrasi. Hasilnya sebagian meninggal dunia. Hingga kini jumlah pasti korban masih diliputi misteri. Berbeda dengan kejahatan NAZI di Perang Dunia II, Jerman belum pernah membayar ganti rugi atas pelanggaran HAM di era kolonialisme.
Foto: public domain
Alergi Masa Lalu
Antara 1905 dan 1907 berbagai kelompok etnis di wilayah yang kini bernama Burundi, Tanzania dan Rwanda bersatu untuk melawan Jerman setelah penduduk dipaksa menanam kapas untuk diekspor. Sekitar 100.000 pasukan pemberontak tewas dalam perang Maji-Maji. Hingga kini sejarah kelam tersebut jarang dibahas di Jerman. Sebaliknya pemberontakan itu adalah bagian penting dalam sejarah Tanzania.
Foto: Downluke
Reformasi Dernburg
Setelah berbagai perang pemberontakan, Jerman akhirnya merestrukturisasi pemerintahan kolonial untuk memperbaiki situasi penduduk di wilayah jajahan. Bernhard Dernburg (gambar) yang seorang pengusaha itu diangkat sebagai Menteri Kolonial dan menggulirkan reformasi untuk memperbaiki kebijakan Jerman di wilayah jajahannya. Dernburg terutama membidik manfaat ekonomi dari kolonialisme.
Foto: picture alliance/akg-images
Akhir Kolonialisme
Takluk di Perang Dunia I, Jerman lalu menandatangani perjanjian damai di Versailles tahun 1919. Dalam proses negosiasi Berlin harus menarik diri dari semua wilayah jajahannya. Akibatnya kas negara yang hampir kosong akibat perang semakin menciut. Jerman pun memasuki dekade penuh ketidakpastian ekonomi.
Foto: ullstein bild - histopics
Perundingan Alot
Negosiasi seputar pembantaian etnis Herero dan Nama kini memasuki fase tersulir. Jerman masih enggan memberikan uang ganti rugi. Perwakilan Herero akhirnya mengajukan keberatan resmi kepada PBB setelah tidak dilibatkan dalam proses perundingan.
Foto: Dagmar Wöhrl
9 foto1 | 9
Dari ingatan sejarah ke kebijakan politik global
Di sepanjang garis pantai Ghana, dorongan untuk reparasi seringkali dikaitkan dengan situs-situs bersejarah di mana jejak perdagangan budak masih terlihat. Kastil Elmina, yang dibangun pada tahun 1482, menjadi salah satu pengingat paling menonjol dari perdagangan budak transatlantik. Di balik dindingnya, orang-orang Afrika yang diperbudak ditahan dalam penjara sempit sebelum dipaksa naik ke kapal menuju Amerika.
Kini, pengunjung melewati ruang-ruang yang sama, menghadapi masa lalu yang bagi banyak orang terasa sangat pribadi. Seorang pencari asal-usul leluhur, Charles Preston Britton, mengatakan, "Saya hanya bisa membayangkan apa yang mereka alami… ini lebih buruk daripada yang bisa diceritakan oleh sebuah kisah. Tidak ada kompensasi yang bisa menebusnya, tapi ini adalah sebuah permulaan.”
Sensasi langkah pertama itu tercermin pula di panggung global, di mana seruan akan akuntabilitas mulai mendapatkan momentum baru. Michael Kunke, seorang kurator warisan budaya mengatakan, "Permintaan maaf adalah tanda pengakuan bahwa ya, kami melakukannya, dan kami mengakui bahwa hal itu terjadi. Ini adalah langkah pertama menuju hal-hal lain… pembicaraan mengenai reparasi dan sebagainya.”
Michael Ndimancho, seorang analis politik di Universitas Douala di Kamerun sepakat. Ia menekankan bahwa pengakuan adalah fondasi dari setiap proses yang berarti. Ia menambahkan: "Permintaan maaf sangat, sangat penting… segala sesuatu dimulai dengan mengatakan saya minta maaf. Ketika ada penyesalan ini, baru kita mencari jalan ke depan.”
Sanusi juga menekankan bahwa ketidakadilan sejarah memiliki kaitan langsung dengan ketimpangan yang masih terjadi hingga kini. Ia berkata, "Ketidakadilan yang kita hadapi di seluruh dunia terhubung dengan ketidakadilan di masa lalu. Hal-hal ini memiliki dampak yang panjang… mereka tidak terjadi begitu saja dalam ruang hampa.”
Iklan
Bentuk ganti rugi apa yang seharusnya diberikan?
Meski seruan untuk reparasi semakin menguat, belum ada konsensus mengenai bentuk yang tepat. Ndimancho berpendapat, fokus hanya pada kompensasi finansial berisiko menyederhanakan ketidakadilan sejarah yang kompleks. Ia bertanya: "Siapa yang akan kita kompensasi? Jika Anda ingin memperkirakannya dalam bentuk uang, berapa banyak yang harus dibayarkan, dan apa parameternya?”
Sebagai gantinya, ia menyarankan pendekatan yang lebih struktural, yang menargetkan tantangan pembangunan jangka panjang di seluruh benua. Ia menjelaskan, "Negara-negara Afrika seharusnya meminta penghapusan utang mereka… bantuan dalam pendidikan, pembangunan, pengembangan budaya dan sosial.”
Sanusi menekankan bahwa reparasi adalah bagian penting dari keadilan. Ia berkata, "Apakah itu berbentuk hadiah finansial atau bentuk pemulihan lain, yang penting adalah ketidakadilan diakui dan ditangani.”
Perdebatan mengenai reparasi semakin kompleks karena timbul pertanyaan tentang peran Afrika dalam perdagangan budak. Ndimancho mengakui bahwa beberapa pemimpin Afrika terlibat, tetapi menekankan konteks yang lebih luas, di mana keterlibatan tersebut sering terjadi melalui paksaan dan intimidasi.
Ia mengatakan, "Mereka terpaksa terlibat, melalui paksaan, melalui kekerasan. Mereka hadir dengan intimidasi.” Fokus, menurutnya, harus tetap pada sifat sistemik perdagangan budak transatlantik, yang menurut sejarawan banyak disebabkan oleh kepentingan ekonomi kekuatan kolonial Eropa.
Inilah Negara Sarang Perbudakan
Jutaan manusia ada dalam perbudakan modern dunia. Sebagian negara bahkan ikut memetik keuntungan dari praktik keji tersebut. Indonesia masuk dalam daftar sepuluh besar Indeks Perbudakan Global edisi 2018.
Foto: picture-alliance/e70/ZUMA Press
1. India
Sekitar 270 juta penduduk India masih hidup di bawah garis kemiskinan. Menurut Indeks Perbudakan Global, negeri raksasa di Asia Selatan itu saat ini masih mencatat jumlah pekerja paksa sebanyak 18.354.700 orang. Sebagian besar bekerja di sektor informal. Sementara sisanya berprofesi prostitusi atau pengemis.
Foto: picture alliance/Photoshot
2. Cina
Maraknya migrasi internal kaum buruh menjadikan Cina lahan empuk buat perdagangan manusia. Pemerintah di Beijing sendiri mengakui hingga 1,5 juta bocah dipaksa mengemis, kebanyakan diculik. Saat ini lebih dari 70 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Menurut Indeks Perbudakan Global, Cina masih memiliki sekitar 3.864.000 budak.
Foto: Reuters
3. Pakistan
Sebanyak 3.186.000 penduduk Pakistan bekerja sebagai budak di pabrik-pabrik dan lokalisasi. Angka perbudakan tertinggi tercatat di dua provinsi, Sindh dan Punjab. Sejumlah kasus bahkan mengindikasikan orangtua di sejumlah wilayah di Pakistan terbiasa menjual putrinya untuk dijadikan pembantu rumah tangga, pelacur, nikah paksa atau sebagai bayaran untuk menyelesaikan perseteruan dengan suku lain.
Foto: Roberto Schmidt/AFP/GettyImages
4. Korea Utara
Berbeda dengan negara lain, sebanyak 2.640.000 budak di Korea Utara bukan bekerja di sektor swasta, melainkan untuk pemerintah. Eksploitasi buruh oleh pemerintah Pyongyang sudah lama menjadi masalah. Saat ini sebanyak 50.000 buruh Korut dikirim ke luar negeri oleh pemerintah untuk bekerja dengan upah minim. Program tersebut mendatangkan lebih dari 2 miliar Dollar AS ke kas negara.
Foto: picture alliance/AP Photo/D. Guttenfelder
5. Nigeria
Tidak sedikit perempuan Nigeria yang dijual ke Eropa untuk bekerja sebagai prostitusi. Namun sebagian besar buruh paksa mendarat di sektor informal di dalam negeri. Tercatat sebanyak 1.386.000 penduduk Nigeria bekerja di bawah paksaan.
Foto: UNICEF/NYHQ2010-1152/Asselin
6. Iran
Sebanyak 1.289.000 populasi di Iran terjebak perbudakan. Perdagangan perempuan dan gadis muda dari Iran untuk perbudakan modern, khususnya ke negara-negara Arab di Teluk Persia, adalah praktik umum di sana. Misogini dan korupsi yang merajalela menjadi faktor utama pendorong kenaikan angka perbudakan di Iran.
Foto: picture-alliance/dpa/A. Taherkenareh
7. Indonesia
Menurut catatan Walk Free Foundation, kebanyakan buruh paksa di Indonesia bekerja di sektor perikanan dan konstruksi. Paksaan juga dialami tenaga kerja Indonesia di luar negeri seperti di Arab Saudi atau Malaysia. Secara umum Indonesia berada di urutan kesepuluh dalam daftar negara sarang perbudakan dengan jumlah 1.220.000 buruh paksa.
Foto: Getty Images
8. Republik Demokratik Kongo
Serupa dengan negara-negara Afrika Sub Sahara lain, Republik Demokratik Kongo mencatat angka tertinggi dalam kasus perbudakan anak. Sebagian besar bekerja di sektor informal, prostitusi atau bahkan dijadikan tentara. Jumlah budak di RD Kongo mencapai 1.045.000 orang.
Foto: AFP/Getty Images
9. Rusia
Pasar tenaga kerja Rusia yang mengalami booming sejak beberapa tahun silam banyak menyerap tenaga kerja dari berbagai negara bekas Uni Sovyet seperti Ukraina, Uzbekistan, Azerbaijan atau bahkan Korea Utara. Saat ini sebanyak 794.000 buruh paksa bekerja di Rusia. Celakanya langkah pemerintah yang kerap mendiskriminasi buruh dari etnis minoritas justru membantu industri perbudakan.
Foto: picture-alliance/dpa
10. Filipina
Berdasarkan Indeks Perbudakan Global, dikatakan bahwa Filipina memiliki prevalensi perbudakan modern tertinggi ke-12 dengan 784.000 populasinya berkerja dalam perbudakan. Pada tahun 2018, Departemen Kehakiman Filipina menerima sebanyak 600.000 gambar dan video anak-anak Filipina yang menjadi korban perbudakan seks hingga dilecehkan. (rn/kp/hp)
Foto: Human Rights Watch/Mark Z. Saludes 2015
10 foto1 | 10
Harga yang harus "dibayar" dari sistem perbudakan
Sejarawan memperkirakan setidaknya 12,5 juta orang Afrika diangkut paksa selama masa perdagangan budak transatlantik, dengan jutaan lainnya meninggal dunia baik saat ditangkap maupun dalam perjalanan.
Ndimancho menyebut bahwa hilangnya jutaan orang ini berarti kehilangan tenaga kerja dan potensi pembangunan yang sangat besar. Ia mengatakan, "Kita berbicara tentang 13 juta orang Afrika... ini adalah tenaga kerja yang sangat besar yang dicerabut dari Afrika.” Ia menyebutnya sebagai "biaya pembangunan historis”, sebuah faktor yang terus memengaruhi jalur ekonomi benua dan berkontribusi pada ketimpangan struktural yang masih ada hingga hari ini.
Sanusi menambahkan, "Banyak orang masih menghadapi eksklusi, rasisme, dan diskriminasi… ini bukan hanya sejarah, ini adalah sesuatu yang masih kita alami.”
Bagi sebagian anggota diaspora Afrika, dampaknya sama besarnya. Dr. Lilieth Johnson Whittaker, seorang pencari asal-usul leluhur menyebutkan: "Kami telah dirampok dua kali, dibohongi dua kali. Dan kini saatnya untuk 'membayar'.” Bagi banyak orang, resolusi PBB bukanlah penyelesaian, melainkan awal dari percakapan panjang yang telah tertunda mengenai keadilan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris