Pemerintah RI melalui Kemlu menyatakan sikap usai pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Mereka meminta semua pihak menghormati prinsip hukum internasional, khususnya perlindungan terhadap warga sipil.
Foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang diunggah Presiden AS Donald Trump di akun Truth Social-nyaFoto: REUTERS
Iklan
Pemerintah Indonesia buka suara usai pasukan Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia mendorong semua pihak mengedepankan dialog dan mematuhi hukum internasional.
"Indonesia menyerukan kepada semua pihak agar mengedepankan dialog dan menahan diri, serta mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip yang tertuang dalam Piagam PBB dan hukum humaniter internasional," kata Kementerian Luar Negeri melalui akun X resminya, Senin (05/01).
Kemlu meminta semua pihak menghormati prinsip hukum internasional, khususnya perlindungan terhadap warga sipil. Kemlu meminta warga sipil harus dijamin keselamatan dan kondisinya.
Pemerintah Indonesia juga mengaku prihatin atas terjadinya eskalasi di Venezuela buntut serangan AS dan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Kemlu menilai hal itu berisiko mengganggu stabilitas kawasan.
"Indonesia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan, yang berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional serta dapat mengganggu stabilitas dan perdamaian kawasan, serta melemahkan prinsip kedaulatan dan diplomasi," katanya.
Indonesia menyerukan komunitas internasional untuk menghormati hak dan kehendak rakyat Venezuela dalam menjalankan kedaulatan dan untuk menentukan sendiri arah dan masa depan bangsa.
Emas Venezuela di Tangan Mafia
Sebanyak 90% emas yang dihasilkan Venezuela ditambang oleh mafia. Ironisnya industri ilegal tersebut justru menjadi sumber penghasilan terbesar buat kaum miskin, di tengah krisis ekonomi yang sedang membabi buta.
Foto: Getty Images/AFP/J. Barreto
Emas Berdarah
Perang sengit antara kelompok mafia buat memperebutkan ladang emas ilegal sedang berkecamuk di negara bagian Bolivar, Venezuela. Seringkali penambang dibunuh, jenazahnya dimutiliasi atau tercabik oleh peluru. Mafia membanjiri kawasan kaya emas ini sejak pemerintahan sosialis Venzuela kelimpungan oleh resesi, inflasi dan kelangkaan bahan pangan.
Musim Semi Kriminalitas
Diyakini hampir 90% emas yang diprodksi di Venezuela berasal dari tambang ilegal seperti di bantaran sungai El Callao ini. Negara yang tengah dibekap krisis ekonomi ini mengalami ledakan angka kriminalitas sejak tiga tahun terakhir. Tambang-tambang ilegal, kata Ketua Komite Pertambangan Venezuela Luis Rojas, "seringkali dikuasai oleh mafia."
Foto: Getty Images/AFP/J. Barreto
Menambang "sampai mati"
Tambang ilegal di Venezuela biasanya berwujud lorong sempit yang dipenuhi genangan air dan bau gas. Struktur kayu yang menopang lorong tambang pun seringkali menua dan rapuh. Namun Ender Moreno yang berusia 18 tahun dan telah bekerja di tambang sejak usia 10 mengaku sudah terbiasa. "Saya tidak takut." Tempatnya bekerja terletak 30 meter di bawah tanah.
Foto: Getty Images/AFP/J. Barreto
Normalisasi Kematian
Ender mengenal tiga remaja yang dibunuh di lingkungan tempat tinggalnya. "Mereka penambang, tapi mulai terlibat dengan para mafia." Belum lama ini bosnya juga tewas dibunuh karena melawan kelompok kriminal yang ingin menguasai tambangnya. Dua bulan lalu 28 penambang dibantai di sebuah tambang emas ilegal di Bolivar. Kepolisian menduga insiden tersebut terkait perang mafia.
Foto: Getty Images/AFP/J. Barreto
Terkontaminasi dan Beracun
Seorang penambang menunjukkan amalgam yang terbuat dari merkuri dan emas. Penambang terbiasa bekerja di lingkungan yang telah terkontaminasi. Pasalnya mereka menggunakan senyawa beracun Merkuri untuk mendulang emas. Tambang terbuka di Nacupay misalnya termasuk sumber pencemaran terbesar di Venezuela.
Foto: Getty Images/AFP/J. Barreto
Jalan Buntu
Ender terbiasa menghabiskan hingga 10 jam per hari mendulang emas di bawah tanah. "Ibu saya berkata ini bukan kehidupan yang ia inginkan. Tapi saya tidak bisa berhenti karena saya membutuhkan uang buat membantu ibu," kata remaja itu. Penambang ilegal di Venezuela setiap bulan mendapat antara satu juta hingga empat juta Rupiah. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi ketimbang upah minimum.
Foto: Getty Images/AFP/J. Barreto
Ancaman Kesehatan
Venezuela adalah negara pertama yang berhasil mengusir malaria. Namun situasinya kini memburuk. Sejak 2008, negara sosialis itu mencatat kenaikan dramatis angka pengidap penyakit mematikan tersebut. Negara bagian Bolivar termasuk yang paling parah terkena pandemi malaria. Situasi tersebut juga mengancam penambang yang kerap harus tidur di udara terbuka.
Foto: Getty Images/AFP/J. Barreto
7 foto1 | 7
Operasi serangan AS ke Venezuela
Diketahui, serangan besar-besaran AS ke sejumlah titik di Venezuela diikuti penangkapan Nicolas Maduro merupakan puncak dari tekanan selama berbulan-bulan oleh pemerintahan Trump terhadap Venezuela. Operasi ini pun menuai kecaman dari beberapa pemimpin internasional.
Iklan
Maduro ditangkap pada Sabtu (03/01) dini hari. Penangkapan diawali dengan serangan oleh pasukan AS. AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah itu, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke AS.
Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.
Sejak September 2025, pasukan AS telah membunuh lebih dari 100 orang dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat penyelundupan narkoba dari Venezuela di Karibia dan Pasifik. Para ahli hukum mengatakan aksi AS itu kemungkinan melanggar hukum AS dan internasional.