Retorika Tajam Bush Terhadap Iran
14 Januari 2008
Mengenai tuduhan Bush, bahwa Iran adalah sponsor terorisme utama, harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma menulis:
“Hanya beberapa ratus kilometer dari musuh AS yang utama di tepi Teluk Persia, presiden AS George W. Bush menyerang para Ayatullah Teheran. Seminggu sejak terjadinya insiden Selat Hormus antara kapal-kapal perang AS dan speedboat Iran. Di Abu Dhabi, Bush langsung menyerang para Ayatullah. Untuk Gedung Putih, semua opsi masih terbuka terhadap Iran. Saat ini diplomasi memang masih jadi prioritas utama. Tetapi di kalangan pemerintahan AS, beberapa orang masih berharap, akan ada kemungkinan untuk menjatuhkan rezim Iran dari dalam, dengan melibatkan Iran sendiri.”
Sedangkan Harian Jerman Tagesspiegel yang terbit di Berlin berkomentar:
“Rezim-rezim Arab memahami bahwa polarisasi di kawasan itu merugikan negara masing-masing. Perpecahan di antara masyarakat Arab – di Libanon, Palestina dan Irak, disebabkan juga oleh konfrontasi AS terhadap Iran. Alternatif yang paling masuk akal adalah suatu pakta keamanan regional. Aliansi semcam itu harus melibatkan juga AS – karena AS adalah lawan main satu-satunya untuk Teheran di kawasan itu. Tetapi Bush melihat rezim Iran sebagai inkarnasi kejahatan. Politik pragmatis demi kekepentingan Timur Tengah seharusnya tidak seperti itu.”
Tema selanjutnya tentang situasi di Taiwan. Mengenai pemilihan parlemen yang berlangsung hari Sabtu lalu, harian Swiss Tages Anzeiger yang terbit di Zurich menilai:
“Cina bisa bernafas lega. Presiden Taiwan Chen Shui Bian, yang menuntut kemerdekaan untuk negara Taiwan, mengalamai kekalahan fatal pada pemilihan parlemen tersebut. Partai nasional Koumintang yang menang jauh. Ketegangan dengan Republik Rakyat Cina adalah faktor terbesar untuk kekalahan Chen. Hari ini, kebanyakan warga Taiwan berharap bahwa negaranya bisa mempunyai hubungan baik dengan Beijing dan ekonomi bisa membaik setelah mengalami kemunduran.”
Harian Jerman lain, Süddeutsche Zeitung yang terbit di Berlin menulis:
“Untuk masa depan, kemenangan partai nasional Kuomintang akhir pekan lalu bisa dinilai sebagai tahap penting bagi demokrasi Taiwan. Pemilih-pemilih Taiwan membuktikan rasionalisme, daripada ikut para politisi yang mengandalkan populisme. Mudah-mudahan Beijing juga memahami pesan dari Taiwan. Demokrasi adalah alat terbaik menghadapi radikalisme. Itulah pelajaran dari Taipeh.”