1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rice Kritik Tajam Rusia

19 September 2008

Menteri luar negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice mengritik politik intimidasi Rusia terhadap negara tetangganya yang berdaulat. Ia juga mengecam penyalahgunaan minyak dan gas bumi sebagai senjata politik.

Menlu AS Condoleezza Rice mengritik politik Rusia terhadap Georgia.Foto: AP

Condoleezza Rice dalam pidatonya di Washington, dengan keras tanpa basa-basi diplomatik mengecam Rusia. Sepertinya di akhir masa jabatannya Rice hendak sekali lagi melontarkan sinyal yang tegas kepada pemerintah di Moskow.

Rice mengatakan: “Rusia abad 19 dan Rusia abad 21 tidak dapat beroperasi di dunia secara bersamaan.“

Semakin otoriter ke dalam dan semakin agresif ke luar. Politik ini untuk jangka panjang akan gagal dan mengarahkan Rusia pada isolasi. Barangsiapa menyerang negara merdeka dan secara sistematis melecehkannya, seperti yang dilakukan Rusia, akan dan harus menghadapi perlawanan dari AS dan Eropa. Demikian Rice menegaskan. Jika menghendaki tampilnya sebuah Rusia, yang lebih dari sekedar pemasok minyak dan gas bumi, negara ini harus membuktikan diri dapat diterima di pangung internasional. Rice menegaskan: “Rusia tergantung pada dunia untuk dapat sukses. Dan hal itu tidak dapat diubah.“

Ini merupakan kenyataan pahit yang juga berlaku bagi pimpinan di Moskow, kata Rice. Tapi inti dari pidatonya tidak hanya ditujukan terhadap Rusia, khususnya terhadap penguasa de facto, Vladimir Putin, melainkan juga terhadap mitra Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO di Eropa. Berulangkali Rice menonjolkan, bahwa Amerika dan Eropa sekarang bersama-sama menegaskan kepada pimpinan Rusia, bahwa setelah invasinya ke Georgia tidak ada peluang kembali ke hubungan politik yang normal, dan tidak ada kompromi yang keliru. AS dan Eropa akan mencegah, jangan sampai Rusia dengan agresinya dapat menarik keuntungan, kata Rice

Rice juga menerima kritik sejumlah negara Eropa terhadap politik Georgia. Disebutkannya, presiden Georgia tidak bersikap optimal dalam masalah Ossetia Selatan. Amerika telah berulangkali memperingatkan Georgia, jangan melakukan provokasi yang dapat dijadikan alasan invasi kekerasan oleh Rusia. Namun Rice mengatakan, rincian kritik terhadap Georgia jangan sampai mengalihkan perhatian dari point terpenting, yakni, rencana agresi jangka panjang Rusia terhadap sebuah negara demokrasi, yang hendak dirangkul NATO. Ditambahkannya, aksi terbaru Rusia ini menciptakan perang dingin baru.

Namun selain melontarkan kata-kata tajam, Rice juga berusaha menghindari kesan, bahwa ia memainkan peranan sebagai panglima dalam perang dingin baru. Ditegaskannya, pimpinan politik Rusia di masa depan dapat membuat keputusan politik yang lebih baik. Masa depan Rusia berada di tangan Rusia sendiri.

Sinyal perujukan itu dilontarkan secara terarah. Sebab pekan ini juga di Washington akan dibahas masa depan sanksi terhadap Iran, dengan melibatkan Rusia. Condoleezza Rice juga tahu persis, tanpa kerjasama erat dengan Rusia yang juga pemegang hak veto di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa, konflik Iran tidak akan dapat dituntaskan, dan perang di Afghanistan juga tidak mungkin bisa dimenangkan. (as)