Sebuah penelitian menemukan, pencemaran mikroplastik menghambat pertumbuhan tanaman, sebabnya mengancam ketahanan pangan dan iklim. Padahal, tidak banyak aksi yang diperlukan untuk membalik tren tersebut.
Petani jagungFoto: Pond5 Images/IMAGO
Iklan
Pencemaran mikroplastik diyakini menghalangi fotosintesis — proses biologis di mana tumbuhan mengubah cahaya matahari, air, dan karbon dioksida menjadi energi dalam bentuk gula.
Fotosintesis adalah inti kehidupan bagi flora Bumi, fondasi rantai makanan global, dan sumber oksigen yang kita hirup.
Mikroplastik sebaliknya berukuran sangat kecil, sering berasal dari pelapukan benda plastik yang lebih besar, dan kini telah menyebar ke sudut-sudut paling terpencil di planet ini, bahkan menyusup ke dalam organ manusia.
Kekhawatiran kian besar bahwa partikel-partikel ini, setelah masuk ke sel tumbuhan, dapat mengacaukan proses alami fotosintesis. Gangguan ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman, dengan konsekuensi serius bagi produksi pangan.
Uni Eropa Larang Mikroplastik dalam Produk Konsumen
00:46
This browser does not support the video element.
Dampak terhadap produksi pangan
Pencemaran mikroplastik bisa mengurangi fotosintesis hingga 12 persen, menurut kajian tim peneliti Cina yang dipublikasikan awal tahun ini di Proceedings of the National Academy of Sciences. Studi itu menganalisis tanaman pangan darat, alga laut, dan alga air tawar.
Iklan
Hasilnya, panen pangan laut bisa anjlok hingga 7 persen, dan tanaman pokok kehilangan hasil sampai 13,5 persen. Para penulis studi memperingatkan, fenomena ini bisa membuat ratusan juta orang kehilangan akses pangan yang aman.
Namun, mereka juga menemukan, hanya dibutuhkan penurunan kadar mikroplastik sebesar 13 persen untuk mencegah hampir sepertiga kerugian fotosintesis.
Peter Fiener, pakar tanah dan air mengingatkan, data global masih minim untuk memproyeksikan dampak ini secara akurat terhadap produksi pangan dunia.
Mikroplastik biasanya terserap lewat tanah saat tanaman menyedot air dan nutrien dari akar. Jika partikel cukup kecil, ia bisa masuk ke dalam sel tanaman. "Untuk memahami dampaknya pada produksi pangan global, kita perlu peta kontaminasi plastik di tanah dunia, dan kita belum punya itu,” kata Fiener, profesor di Universitas Augsburg, Jerman.
"Kekurangan data terutama terasa di negara-negara Selatan global," ujar Victoria Fulfer, ilmuwan mikroplastik di 5 Gyres, lembaga nirlaba AS yang fokus menangani polusi plastik. Mikroplastik terdiri dari ratusan polimer berbeda dan ribuan zat aditif kimia, yang dampaknya terhadap tanaman belum sepenuhnya diteliti.
Manusia di tengah 'Gempuran' Sampah Plastik
Anak-anak bermain di tengah sampah plastik, sungai membawa sampah-sampah ke laut, hewan memakannya. Plastik ada di mana-mana. Produksinya kian berkembang pesat dan membahayakan manusia dan lingkungan.
Foto: Channi Anand/AP Photo/picture alliance
Pemandangan indah yang dipadati sampah
Plastik, bahan yang serbaguna, sangat diperlukan dalam konstruksi dan pengemasan. Tapi, plastik juga jadi bahaya global. Berton-ton sampah, termasuk botol plastik, ban bekas dan berbagai bahan non-organik, mengapung di Sungai Drina dan membentuk tempat pembuangan sampah terapung di Višegrad, Bosnia dan Herzegovina.
Foto: Armin Durgut/AP Photo/picture alliance
Dilarang bermain? Sayangnya tidak!
Di sebuah pantai di Filipina, anak-anak berjalan tanpa alas kaki di atas sampah plastik, sisa bencana topan lalu. Sampah-sampah yang dibuang sembarangan, melintasi sungai hingga ke berakhir di laut dan terdampar di pantai. Bukan hanya terbawa air, sampah-sampah ini pun turut tertelan hewan-hewan.
Foto: Aaron Favila/AP Photo/picture alliance
Berkurang satu kantong plastik
Nina Gomes mengambil satu kantong plastik yang dibuang di laut dekat pantai Copacabana, pantai yang terkenal di Rio de Janeiro, Brasil. Setiap tahun, Brazil menghasilkan sekitar 11,3 juta ton sampah plastik. Hanya 1,2 persen yang didaur ulang. Sampah plastik yang berakhir di lautan dan membahayakan ekosistem laut.
Foto: Bruna Prado/AP Photo/picture alliance
Jaring penghalang yang rusak
Di kota Alexandra, Afrika Selatan, sebuah jaring dibuat untuk menahan sampah plastik di Sungai Jukskei. Tiga orang sukarelawan dengan hati-hati menyingkirkan sampah yang menumpuk di jaring. Langkah-langkah ini menghambat sampah terbawa arus hingga ke laut, tapi tidak menghentikan sumbernya. Sampah masih menjadi tantangan - tidak hanya di Afsel, tapi juga di Indonesia, India dan di seluruh dunia.
Foto: Jerome Delay/AP Photo/picture alliance
Sebelumnya adalah pantai berpasir
Orang-orang berjalan melewati sampah plastik yang menutupi pasir pantai Badhwar Park di pesisir Laut Arab Kota Mumbai, India. India, dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, adalah salah satu konsumen plastik terbesar di dunia. India diperkirakan menghasilkan sekitar 3,5 juta ton sampah plastik setiap tahunnya dan hanya sebagian kecil yang didaur ulang.
Foto: Rajanish Kakade/AP Photo/picture alliance
Daerah pemukiman miskin di New Delhi yang dibangun di atas sampah
Di sebuah pemukiman miskin di ibu kota India, New Delhi, nampak setiap jengkal lanskapnya dipenuhi sampah plastik. Kantong-kantong sampah mengantre untuk disortir para pengepul sebelum dijual.
Foto: Manish Swarup/AP Photo/picture alliance
Protes terus berlanjut
“Hentikan polusi plastik!”, demikian bunyi poster-poster para aktivis lingkungan di Seoul. Mereka memprotes gagalnya negosiasi perjanjian global PBB melawan sampah plastik di Korea Selatan, awal Desember lalu. Beberapa negara penghasil minyak telah menolak pembatasan produksi plastik. Perundingan kembali dilangsungkan 5-14 Agustus 2025 di Jenewa.
Foto: Jung Yeon-je/AFP
Kaos di Jakarta
Di Jakarta, tumpukan sampah plastik menumpuk di pinggir jalan dan menghalangi lalu lintas. Pada tahun 2023, Indonesia menghasilkan setidaknya 10,8 juta ton sampah plastik. Sebagian besar sampah tersebut tidak dibuang pada tempatnya. Di tahun yang sama, tercatat sekitar 359.000 ton sampah berakhir di lautan.
Foto: Dita Alangkara/AP Photo/picture alliance
Berharap dan segera beraksi
Seorang pendeta duduk di antara sampah yang ditinggalkan oleh para jemaat yang menghadiri festival “Kuse Aunsi” di kuil Gokarneshwor di Kathmandu, Nepal. Satu hal yang jelas: krisis plastik membutuhkan keputusan politik yang tegas dan pemikiran global. Tanpa adanya tindakan, plastik akan terus mencemari sungai dan lautan, mengancam kehidupan, dan mencegah masa depan yang berkelanjutan.
Foto: Niranjan Shrestha/AP Photo/picture alliance
9 foto1 | 9
Sumber polusi mikroplastik
Mikroplastik pada tanaman kerap berasal dari terpal penutup lahan pertanian dan pupuk, kata Fulfer. "Tapi mikroplastik juga ada di udara dan air sekitar kita.”
Film mulsa pertanian yang digunakan untuk menutup tanaman dan mempercepat pertumbuhan, sering kali diklaim biodegradable, namun masih mengandung zat aditif kimia dan mikroplastik. "Saat terurai, bahan-bahan itu meresap ke tanah," kata Winnie Courtene-Jones, ahli biologi laut dari Universitas Bangor, Wales.
Sumber lain termasuk serpihan ban mobil dan serat pakaian, yang berakhir di lumpur limbah lalu digunakan sebagai pupuk. Setelah menjadi mikroplastik atau nanoplastik, kata Fulfer, sangat sulit untuk mencegah pencemaran.
Mikroplastik didefinisikan berukuran 1–5 milimeter, nanoplastik bahkan lebih kecil. Di tanah, partikel ini bisa mengganggu pergerakan air dan pemecahan nutrien, mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan organisme kecil lain. Mikroplastik juga ditemukan di seluruh tubuh manusia, dikaitkan dengan risiko kesehatan seperti stroke dan serangan jantung.
Plastik Mulai Masuki Rantai Makanan
Partikel berbahaya yang terdapat di sampah plastik sisa impor ditemui di sejumlah sampel telur ayam kampung di Jawa Timur. Di Desa Bangun dan Tropodo, lingkungan tercemar, kesehatan warga pun terancam.
Foto: Nexus3 Foundation
Bertetangga dengan sampah
Rumah seorang warga di sebuah desa di Jawa Timur. Lihat sebelahnya, ia bertetangga dengan gunung sampah plastik. Pemandangan seperti ini banyak dijumpai di Desa Bangun, Jawa Timur, di mana warga juga terpaksa membakar sampah-sampah plastik tersebut agar tidak memenuhi dan menyumbat jalan-jalan di lingkungan mereka.
Foto: Nexus3 Foundation
Plastik termakan ayam peliharaan warga
Seperti umumnya di desa-desa, banyak warga di sana juga memelihara ayam. Hewan peliharaaan ini dilepaskan untuk berkeliaran mencari makan sendiri. Sayangnya, ayam-ayam ini pun tidak bisa menghindari sampah plastik dan mencari makan di antara tumpukan sampah. Akibatnya, telur ayam kampung yang mereka hasilkan tercemar bahan kimia berbahaya.
Foto: Nexus3 Foundation
Telur ayam tercemar
Peneliti mengetes sampel telur ayam kampung dari Desa Bangun pada Maret-April 2019. Telur ayam yang dikumpulkan dari masyarakat di sana mengandung bahan kimia terlarang seperti dioksin, dan PFOS yang sulit diuraikan. Ada juga bifenil poliklorinasi (PCB), eter difenil polibrominasi (PBDEs), parafin terklorinasi rantai pendek (SCCP) dan perfluorooctane sulfonate (PFOS) dalam tingkat yang tinggi.
Foto: Nexus3 Foundation
Dampak terhadap kesehatan warga
"Kami merekomendasikan masyarakat untuk tidak mengkonsumsi telur dan ayam sampai adanya penyelidikan lebih lanjut dan pengumuman oleh pemerintah pusat," ujar Yuyun Ismawati, pendiri dan penasihat senior LSM Nexus3 kepada DW Indonesia.
Beberapa keluarga yang memiliki anak dan memiliki masalah kesehatan juga sudah disarankan pindah ke daerah lain.
Foto: Nexus3 Foundation
Dibakar untuk produksi tahu
Sementara di desa Tropodo, plastik-plastik sampah sisa impor ini dibakar untuk dijadikan bahan bakar di pabrik tahu. "Ada 50 pabrik tahu di desa Tropodo. Semuanya memakai sisa sampah plastik seperti film plastik dan kemasan fleksibel guna menghasilkan panas dan uap untuk pemrosesan tahu," ujar Yuyun dari LSM Nexus3.
Foto: Nexus3 Foundation
Kandungan tahu belum diteliti
Sejumlah sampel tahu dari salah satu pabrik juga telah dikumpulkan. Namun tes belum selesai dilakukan sehingga belum diketahui hasilnya apakah tahu ini juga mengandung sisa partikel plastik atau tidak. Yuyun mengatakan mereka akan tahu hasilnya pada Februari 2020. Sejauh ini para peneliti juga belum mengetes sampel makanan lain dari desa ini.
Foto: Nexus3 Foundation
Lingkungan tercemar, kesehatan dirugikan
Inilah harga yang dibayar warga. Sejumlah penelitian mengatakan bahan kimia sisa plastik dalam telur-telur ini berdampak serius pada manusia, seperti penyakit kardiovaskular, kanker, diabetes, dan endometriosis. Bahan kimia tahan api, SCCP dan PBDEs mengganggu fungsi endokrin dan juga pengaruhi kesehatan reproduksi. PFOS sebabkan kerusakan sistem reproduksi dan kekebalan tubuh. (ae/ag)
Foto: Nexus3 Foundation
7 foto1 | 7
Plastik percepat perubahan iklim
Plastik menghasilkan gas rumah kaca sepanjang siklusnya — dari produksi, transportasi, hingga pembuangan. Menurut Fulfer, jika mikroplastik mengurangi fotosintesis secara luas, ini bisa menghambat penyerapan karbon dan produksi oksigen, terutama di ekosistem karbon biru seperti mangrove, padang lamun, dan rawa pesisir.
Mangrove dan lahan basah pesisir diperkirakan menyimpan 3–5 kali lebih banyak karbon dibanding hutan tropis dengan luas setara. Penelitian Courtene-Jones tahun lalu menemukan penurunan efisiensi fotosintesis pada tanaman pesisir akibat gabungan banjir dan mikroplastik di tanah.
"Mikroplastik berpotensi memperburuk respons sistem yang sudah tertekan akibat perubahan iklim,” ujarnya. Ia menambahkan, partikel ini mempengaruhi kestabilan tanah, yang bisa mempercepat erosi pesisir seiring curah hujan ekstrem yang makin sering.
Saring Mikroplastik di Sungai sebelum Cemari Lautan
03:27
This browser does not support the video element.
Produksi plastik terus naik
"Meski dampak terhadap pangan belum sepenuhnya jelas, akumulasi mikroplastik di tanah dan tanaman akan terus berlanjut tanpa tindakan," kata Fiener. Daur ulang membantu, tapi pengurangan produksi plastik jauh lebih penting.
Dalam dua dekade terakhir, produksi plastik baru melonjak dan diproyeksikan bisa naik dua hingga tiga kali lipat pada 2050, dengan emisi global terkait ikut melonjak. Sekitar 99 persen plastik dibuat dari bahan bakar fosil, dan sejauh ini hanya 9 persen yang didaur ulang.
Pekan ini, perwakilan lebih dari 170 negara berkumpul di Jenewa, Swiss, merundingkan perjanjian internasional yang mengikat untuk menekan produksi dan polusi plastik.
"Cara terbaik mencegah mikroplastik merusak tanaman, adalah dengan menutup keran produksi plastik dan memperketat regulasi jumlah plastik yang dibuat,” kata Fulfer. Namun, pengurangan produksi plastik masih menjadi titik panas dalam negosiasi, setelah perundingan serupa macet tahun lalu di Busan, Korea Selatan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Agus Setiawan