1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Risiko Jejak Racun di Balik Perang Iran

13 Maret 2026

Pertempuran di Timur Tengah meninggalkan konsekuensi lain. Kilang minyak yang terbakar hingga kapal yang tenggelam bisa berdampak lama bagi kesehatan warga, ketersediaan air dan pangan, serta lingkungan di kawasan itu.

Asap hitam setelah kebakaran akibat serangan AS–Israel ke fasilitas penyimpanan minyak di Teheran, Iran
Ledakan di fasilitas minyak dapat memicu kepulan asap beracun yang mengandung berbagai polutanFoto: Fatemeh Bahrami/Anadolu/picture alliance

Serangan terhadap fasilitas minyak dan pangkalan rudal dalam perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran menimbulkan kekhawatiran di kalangan para ahli tentang potensi ‘warisan racun’ jangka panjang bagi kesehatan manusia dan lingkungan bahkan setelah perang berakhir.

Sejak perang dimulai, Conflict and Environment Observatory (CEOBS), organisasi nirlaba yang berbasis di Inggris, mengidentifikasi lebih dari 300 insiden yang berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan akibat serangan terhadap pangkalan rudal hingga kapal tanker minyak di Teluk Persia.

Namun, para peneliti menyatakan bahwa angka tersebut kemungkinan hanya mencerminkan sebagian kecil dari kerusakan yang sebenarnya.

“Itu baru puncak gunung es,” kata Doug Weir, Direktur Conflict and Environment Observatory, kepada Deutsche Welle. “Amerika Serikat mengklaim telah menyerang sekitar 5.000 lokasi. Untuk saat ini, kami baru menyentuh permukaan dari keseluruhan dampak."

Perserikatan Bangsa-Bangsa juga memperingatkan bahwa serangan terbaru terhadap fasilitas minyak berpotensi menimbulkan, “konsekuensi lingkungan yang serius di seluruh kawasan, dengan dampak langsung yang mungkin terjadi terhadap ketersediaan air bersih, kualitas udara, serta pasokan pangan."

Salah satu tanda dari risiko‑risiko tersebut terlihat ketika ‘hujan hitam’ yang berasal dari campuran minyak dan air hujan menyelimuti jalan‑jalan di Teheran setelah serangan Israel terhadap sejumlah fasilitas minyak.

Hujan hitam yang berasal dari campuran minyak sempat menyelimuti TeheranFoto: Berno/SIPA/picture alliance

Kebakaran yang terjadi di fasilitas-fasilitas tersebut mengakibatkan asap hitam pekat di seluruh kawasan ibu kota Iran yang dihuni hampir 10 juta orang. Kondisi ini mendorong Bulan Sabit Merah Iran memperingatkan warga agar tetap berada di dalam rumah untuk menghindari paparan polutan beracun di udara. Sejumlah warga setempat melaporkan mengalami sakit kepala dan kesulitan bernapas.

Asap tersebut kemungkinan mengandung berbagai polutan, “termasuk partikel halus dan sulfur dioksida, serta senyawa organik volatil beracun dan produk sampingan pembakaran berbahaya lainnya,” ujar Zongbo Shi, profesor biogeokimia atmosfer dari University of Birmingham, Inggris.

Menurut Shi, partikel-partikel tersebut dapat menembus jauh ke dalam paru-paru dan berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit pernapasan serta kardiovaskular, terutama pada bayi, lansia, dan orang-orang dengan kondisi kesehatan yang rentan.

Hujan Minyak di Teheran

01:02

This browser does not support the video element.

Pengeboman sebabkan racun jangka panjang

Selain pencemaran udara yang terjadi secara langsung, para ahli memperingatkan bahwa pengeboman terhadap pangkalan militer dan fasilitas energi dapat berakibat pada jejak kontaminasi selama bertahun-tahun.

Temuan Conflict and Environment Observatory juga menyebut, saat fasilitas minyak dibombardir sebagaimana yang terjadi di Iran dan sejumlah negara Teluk lainnya, serangan tersebut dapat menghasilkan kepulan polutan beracun yang menyebar ke lingkungan sekitar. Polutan akan mengendap di jalan, atap bangunan, tanah, hingga lahan pertanian.

 

Serangan terhadap instalasi militer seperti pangkalan rudal juga berpotensi sangat berbahaya. Kebakaran dan ledakan di lokasi-lokasi tersebut dapat menyebarkan berbagai kontaminan beracun, termasuk bahan bakar, logam berat, PFAS, serta bahan peledak. Sebagian dari zat tersebut dapat tetap menempel bahkan dalam jangka waktu yang lama setelah pertempuran berakhir.

Contohnya, bahan peledak. TNT. US Environmental Protection Agency (EPA) menyebut bahan yang digunakan untuk amunisi tersebut punya kandungan karsinogen bagi manusia. Zat tersebut dapat bertahan di dalam tanah dan berpotensi merusak vegetasi serta membahayakan kesehatan manusia.

Walau demikian, menilai skala kontaminasi secara pasti tetap sulit dilakukan tanpa pengujian langsung di lapangan.

“Transparansi dan kepastian terkait hal apa saja yang ada di lokasi-lokasi yang diserang sangat minim,” kata Doug. “Secara umum kita tahu bahwa tempat-tempat tersebut mungkin menyimpan berbagai material yang digunakan militer, sebagian di antaranya beracun seperti bahan bakar untuk rudal. Namun, kami tidak memiliki rincian atau data yang jelas mengenai apa yang sebenarnya ada di sana dan apa saja yang telah hancur."

Temuan Conflict and Environment Observatory mengandalkan citra satelit, peta kerusakan berbasis radar, media sosial, serta laporan berita untuk menilai potensi risiko lingkungan.

Pengalaman Selebgram Indonesia Saat Dubai Diserang Iran

01:03

This browser does not support the video element.

Risiko mengintai ekosistem perairan

Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap angkatan laut Iran, serta serangan Teheran terhadap kapal-kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz, juga meningkatkan risiko terjadinya tumpahan minyak.

Teluk Persia adalah rumah bagi terumbu karang yang luas serta ekosistem laut penting, seperti padang lamun yang menjadi habitat bagi berbagai spesies ikan, tiram mutiara, penyu hijau, serta populasi kedua terbesar di dunia dari dugong yang terancam punah. Selain itu, komunitas nelayan di kawasan tersebut juga menggantungkan hidup mereka pada hasil laut dari perairan ini.

Keberlangsungan ekosistem bawah laut sering terabaikan dalam wacana perangFoto: Andrey Nekrasov/ZUMAPRESS.com/picture alliance

“Itu adalah sisi yang tidak selalu terlihat dalam sebagian besar konflik,” kata Doug. “Kami juga melihat sejumlah lokasi pesisir yang diserang oleh Israel, di mana kemungkinan besar ada polutan masuk ke lingkungan pesisir."

Pada 11 Maret, Amerika Serikat menyatakan telah menyerang lebih dari 60 kapal Iran.

Menurut Doug, kapal yang tenggelam dapat menjadi sumber pencemaran jangka panjang apabila bahan bakar dan material berbahaya lainnya bocor ke perairan sekitar. Ia menambahkan bahwa sebuah kapal perang Iran yang terkena torpedo dalam konflik tersebut kini menimbulkan tumpahan minyak sepanjang beberapa kilometer di lepas pantai Sri Lanka.

“Bukan hanya Teluk Persia yang berada dalam risiko,” kata Doug. “Dampak lingkungan ini kini telah meluas hingga ke wilayah Sri Lanka."

Asap dari kapal perang memunculkan banyak emisiFoto: Royal Thai Navy/ROPI/picture alliance

Perang menghasilkan banyak emisi karbondioksida

Dampak lingkungan dari perang juga bisa melampaui wilayah negara-negara yang terlibat peperangan melalui emisi karbon. Emisi tersebut menjadi pemicu pemanasan global yang dihasilkan dari aktivitas militer.

Sebagai contoh, tiga tahun pertama perang Rusia di Ukraina menghasilkan sedikitnya 230 juta ton emisi setara CO₂, menurut organisasi nirlaba Initiative on GHG Accounting of War. Jumlah tersebut sebanding dengan gabungan emisi tahunan dari tiga negara: Hungaria, Austria, Ceko, dan Slovakia.

Perang di Ukraina juga menimbulkan kerusakan pada lingkunganFoto: Dmytro Smolienko/Avalon/picture alliance

Satuan militer merupakan konsumen terbesar bahan bakar fosil. Jika seluruh satuan militer di dunia digabungkan menjadi sebuah negara, jejak karbonnya menempati peringkat keempat terbesar di dunia, menyumbang sekitar 5,5% dari total emisi global.

Namun, negara-negara tidak diwajibkan memasukkan emisi militer ke dalam total emisi nasional yang mesti mereka laporkan sebagai bagian dari komitmen membatasi pemanasan global di bawah Perjanjian Iklim Paris.

Menurut Doug, saat berbicara tentang warisan lingkungan dari perang, fokus biasanya tertuju pada dampak yang terlihat.

“Kita melihat kebakaran, ledakan, kawah, pergerakan kendaraan militer, jutaan kilometer kabel serat optik yang tersebar di hutan, sepanjang garis depan seperti yang sedang terjadi di Ukraina saat ini,” ujarnya.

Perang Iran: Awan Asap Hitam Selimuti Langit Teheran

00:33

This browser does not support the video element.

Pemulihan pasca perang

Iran sudah menghadapi tekanan lingkungan yang serius, termasuk kekurangan air kronis, memburuknya kualitas udara, dan degradasi ekosistem utama yang diperparah oleh perubahan iklim juga buruknya tata kelola negara.

Bagi Doug, perang yang terjadi kian memperdalam tantangan-tantangan tersebut. Konflik sering diikuti oleh lemahnya tata kelola, di mana perlindungan lingkungan menjadi prioritas kedua dalam proses transisi dari perang menuju perdamaian.

Doug meyakini hal serupa kemungkinan akan terjadi di Iran, negara yang menurutnya, “secara tradisional sangat tertutup dan rahasia terkait isu lingkungan dan degradasi lingkungan."

Doug menambahkan, jika rezim Iran tetap berkuasa, belum jelas sejauh mana mereka akan terbuka mengenai kebutuhan pembersihan lingkungan, maupun seberapa besar dukungan yang akan diberikan oleh komunitas internasional.

“Kita sedang menyaksikan banyak kerusakan lingkungan, tetapi kemungkinan besar di masa depan akan sangat sedikit transparansi mengenai hal ini, dan kapasitas untuk mengelola kerusakan yang telah terjadi juga sangat terbatas,” ujarnya.

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Joan Rumengan

Editor: Tezar Aditya 

Iran Punya Pemimpin Tertinggi Baru

00:44

This browser does not support the video element.

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait