1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ketika Ritual Bali Membaca Krisis Ekologi

19 Maret 2026

Para pemuda di Bali soroti isu bencana lewat ogoh-ogoh yang dibangun dari limbah plastik dan kaleng. Ritual tak lagi sakral semata, tapi jadi cermin krisis ekologi dan cara manusia memperlakukan alam.

Sebuah patung ogoh-ogoh dengan dua sosok wajah yang melambangkan Bhuta Kala atau energi negatif
Ogoh-ogoh yang dibangun dari limbah plastik dan kaleng oleh sekelompok pemuda di BaliFoto: Muhammad Hanafi/DW

Persoalan sampah yang tidak kunjung selesai di Denpasar mendorong para pemuda dari Sekaa Teruna Teruni (STT) Tunas Muda di Desa Sidakarya mengambil keputusan unik. STT adalah organisasi anak muda tingkat desa adat di Bali.

Mereka mengubah limbah plastik dan kaleng menjadi ogoh-ogoh yang akan diarak menjelang Hari Raya Nyepi.

Langkah ini bukan sekadar kreativitas, tetapi sebuah respons langsung terhadap krisis sampah dan sistem pengelolaan sampah yang dinilai sudah tidak mampu lagi menangani volume limbah yang dihasilkan.

 Limbah diolah menjadi medium yang bermakna.

Plastik dan kaleng diolah manual

Ogoh-ogoh STT Tunas Muda dibuat dari material yang dikumpulkan dan dikelola secara manual. Anak muda dari STT tersebut berkeliling ke warung di sekitar banjar (sebutan untuk satuan terkecil kelompok masyarakat setingkat RW) untuk mengumpulkan sampah plastik dan kaleng. Dalam lima bulan, limbah itu disulap menjadi patung raksasa.

Meskipun tidak memiliki mesin pencacah, mereka bekerja secara bergotong royong, baik laki-laki dan perempuan, mengerjakan ogoh-ogoh dengan tangan kosong.

"Karena di sini kami belum mempunyai mesin, jadi cara kami mencacah ini jadinya manual," ujar Ketua Umum STT Tunas Muda Kadek Dwi Jaya Putra saat diwawancarai DW.

Protokol kesehatan juga diperketat karena risiko limbah plastik terhadap kesehatan kerja. "Kami mencuci kurang lebih sepuluh kali," jelas anak muda yang sering disapa Dwik ini. Tim juga menggunakan peralatan keselamatan kerja saat mencacah material yang berbahaya.

Tema 2026: Kepemimpinan dua wajah dan alam

Dwik mengatakan, konsep patung tahun 2026 mengangkat isu bencana alam, khususnya banjir di Sumatra yang terjadi akhir tahun 2025, serta peran pemimpin di baliknya. Ogoh-ogoh utama dirancang dengan dua wajah yang kontradiktif, masing-masing mewakili sisi positif dan negatif.

"Pemimpin yang sekarang kan di depan kelihatannya seolah-olah membuat kesejahteraan bagi masyarakat, tetapi di belakang itu mempunyai (niat) yang menguntungkan untuk dirinya sendiri," jelas Dwik.

Dia mencontohkan bagaimana kepentingan pribadi mengalahkan kesejahteraan publik lewat kasus illegal logging atau pembalakan liar. Menurutnya, ada oknum yang "menyuruh menanam kelapa sawit yang banyak," padahal hal itu hanya menguntungkan segelintir pihak.

Selain bentuk Bhuta Kala, ogoh-ogoh yang mereka buat juga menampilkan binatang seperti badak hingga rusa. Untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan, mereka menambahkan sebuah layar televisi di badan ogoh-ogoh yang menayangkan cuplikan-cuplikan kejadian bencana alam akibat krisis iklim.

Selain tulisan "BANJIR MENERJANG", layar pada ogoh-ogoh juga memunculkan tulisan "PENEBANGAN HUTAN"Foto: Muhammad Hanafi/DW

Nyepi dan krisis iklim

Kepada DW Indonesia, Dosen Filsafat UI Luh Gede Saraswati Putri atau yang dikenal dengan Saras Dewi menyebut pemaknaannya soal Hari Raya Nyepi mengalami pergeseran.

Problem sosial dan ekologi yang ada belakangan ini menurutnya membuat Nyepi terasa berbeda dalam satu dekade akhir.

"Di masa 10 tahun ini saya merasa urgensi menghayati Nyepi dengan pandangan yang lebih mengena pada krisis iklim itu terasa sekali," ujar Saras Dewi kepada DW Indonesia.

Transformasi makna ritual ini terjadi bukan tanpa alasan. Peristiwa banjir beberapa waktu lalu yang memakan korban jiwa "adalah sesuatu hal yang sangat mengejutkan terjadi di Bali, khususnya terjadi di Denpasar", kata Saras Dewi.

Menurutnya, hal tersebut adalah sinyal dari alam, yang seharusnya menjadi alarm bahwa ada ketidakseimbangan yang terjadi.

"Orang Bali percaya dengan tanda-tanda alam, semestinya bisa memahami bahwa telah terjadi ketidakseimbangan yang membuat semua pihak menderita, semua makhluk menderita," terangnya.

Simbol kapitalisme?

Menurut Saras Dewi, sampah adalah bahan dari sistem konsumerisme yang tidak terbatas, produk akhir dari cara hidup yang mengedepankan akumulasi.

Konsumerisme dan kapitalisme yang membentuk pola konsumsi itu, kata dia, adalah "musuh" internal yang perlu ditumpas dalam ritual ogoh-ogoh.

Di dalam ritual ogoh-ogoh, simbol-simbol yang diarak bukan sesuatu yang eksternal dari manusia, melainkan "bagian dari diri kita sendiri", jelas Saras Dewi.

"Keserakahan, keinginan untuk selalu mau memiliki lebih, cara kita mengonsumsi tanpa batas, itu adalah keburukan yang terkait dengan bagaimana kita menumpas musuh di dalam diri," tambahnya.

Lebih jauh, Saras Dewi juga mengatakan bahwa kapitalisme telah mengubah nilai tradisional menjadi nilai yang hanya terukur dengan uang. "Kapitalisme sudah merobek sendi-sendi relasi kita, mengubah nilai-nilai yang mulanya luhur menjadi nilai-nilai yang serba praktis dan memiliki valuasi uang."

Setidaknya ada ribuan orang yang menghadiri acara Pengerupukan di Desa Sidakarya, Denpasar, pada Rabu (18/03) malam menjelang NyepiFoto: Muhammad Hanafi/DW

Kebijakan jadi hampa tanpa budaya

Saras Dewi mengakui bahwa pemerintah memang telah mengeluarkan banyak kebijakan "hijau". Hanya saja, ketika dihadapkan dengan kenyataan di lapangan, dampaknya terasa minim.

"Dalam penghayatannya, dia (kebijakan) tidak sungguh-sungguh dirasakan atau hanya dianggap sebagai imbauan-imbauan atau larangan-larangan yang dihindari karena ada sanksi," papar Saras Dewi.

Masalahnya adalah bahwa kebijakan dan teknologi saja tidak cukup untuk menggerakkan perubahan. Keduanya akan hampa kalau tidak dijalani dengan penghayatan budaya, kata Saras Dewi.

"Kita tidak dipaksa, kita tidak diinstruksikan, kita tidak disuruh, kita tidak ditakuti untuk punya rasa hormat pada lingkungan hidup," ungkap dia, sambil menambahkan bahwa "perasaan itu muncul dari kesadaran diri dan budaya punya kemampuan itu."

Oleh karena itu, menurutnya penghayatan sains dan teknologi perlu dimaknai berdekatan dengan lensa ekologi, termasuk dengan aturan atau pembuat kebijakan.

"Mereka punya peran-peran yang sifatnya itu formal di dalam menerapkan aturan dari atas diturunkan ke berbagai institusi, ke bawah, dari berbagai elemen masyarakat," jelasnya.

Generasi muda jadi harapan

Setelah ritual selesai, komitmen STT Tunas Muda terhadap pengurangan sampah tetap berlanjut. Mereka tidak akan membakar ogoh-ogoh sepenuhnya seperti tradisi yang biasa dilakukan.

Mereka tetap berniat untuk terus melakukan recycle ogoh-ogoh tersebut. Sebagian akan disumbangkan untuk sarana bermain ke sebuah taman kanak-kanak. Limbah kaleng yang melekat di ogoh-ogoh akan dijual kepada pengepul barang rongsokan.

Sementara itu, Saras Dewi melihat bahwa generasi baru yang melek dengan inovasi dan teknologi tinggi, khususnya yang peka terhadap lingkungan, bisa dimanfaatkan untuk mendorong perubahan. Alasannya, anak muda zaman sekarang mempunyai akses ke pengetahuan dan alat yang lebih canggih dan ramah lingkungan.

"Kuncinya ada pada solidaritas, bagaimana caranya kita bisa mendorong perubahan kalau tidak dalam konteks bekerja sama," pungkas Saras Dewi.

Editor: Prihardani Purba

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait