Rohingya: Bertaruh Nyawa Demi Kabur dari Myanmar-Bangladesh
12 Maret 2026
Pada akhir November 2025, Nur Begum, seorang perempuan Rohingya dari Myanmar yang tinggal di kamp pengungsian Cox's Bazar Bangladesh, menerima kabar bahwa putri sulungnya, Nur Kayas, meninggal.
Kabar itu datang dari mantan suaminya, yang baru saja tiba secara ilegal di Malaysia menggunakan kapal penyelundup dekat Pulau Langkawi.
"Ia bilang kapal mereka tenggelam dekat Langkawi,” kata Nur Begum kepada DW. "Katanya ia berada di kapal yang sama, dan ia serta beberapa orang berhasil diselamatkan kapal lain, tetapi semua yang lain meninggal.”
Putrinya yang berusia 10 tahun adalah salah satu dari 892 warga Rohingya yang meninggal atau hilang pada 2025 saat mencoba menyeberang laut dari Bangladesh atau Myanmar untuk mencari kehidupan yang lebih layak di luar negeri, terutama di Malaysia.
Angka suram yang dicatat UNHCR itu tampaknya menjadi jumlah kematian tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Pada 2013, PBB memperkirakan 890 warga Rohingya meninggal atau hilang dalam perjalanan serupa.
Geng kriminal berkeliaran di kamp pengungsian
"Kondisi kemanusiaan yang memburuk di Myanmar dan Bangladesh, diperparah pemangkasan dana bantuan, berdampak sangat buruk pada kehidupan migran Rohingya. Makin banyak yang nekat menempuh perjalanan berbahaya demi mencari keselamatan dan hidup yang bermartabat,” kata Mariko Hall, juru bicara UNHCR untuk Asia-Pasifik, kepada DW.
Nur Begum dan putrinya termasuk di antara sekitar 700.000 warga Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar untuk menghindari rangkaian aksi pembakaran, pemerkosaan, dan pembunuhan yang dilakukan tentara Myanmar terhadap minoritas muslim pada 2017. Eksodus itu, ditambah perpindahan besar pada 2024, membuat jumlah pengungsi di Cox's Bazar melampaui 1 juta orang.
Di dalam kamp, peluang kerja minim dan bantuan makanan makin berkurang. Geng-geng kriminal berkeliaran mencari anak-anak untuk disandera atau memburu pemuda untuk direkrut ke dalam perang saudara di Myanmar, setelah militer menggulingkan pemerintah terpilih pada 2021.
Di Myanmar sendiri, Rohingya terjebak di tengah konflik antara militer dan Arakan Army, salah satu kelompok bersenjata yang memerangi junta.Mereka dipersekusi oleh kedua belah pihak bahkan dipaksa ikut bertempur.
"Kerentanan terhadap eksploitasi dan keputusasaan yang meningkat mendorong lebih banyak orang menggunakan cara-cara berbahaya untuk bertahan,” ujar Hall.
Terdesak oleh kondisi ini, makin banyak migran Rohingya mempertaruhkan nyawa demi mencapai Malaysia lewat laut, dibantu jaringan penyelundup dan perdagangan manusia yang sudah lama beroperasi.
"Saya tidak pernah ingin anak saya pergi ke Malaysia"
Meski kondisi di Cox's Bazar sangat berat, Nur Begum mengatakan ia tidak pernah berniat mengirim putrinya pergi. Ia yakin putrinya telah diperdaya.
"Saya tidak pernah ingin anak saya pergi ke Malaysia. Itu bukan keputusan saya, dan saya rasa bukan keputusan dia juga. Mungkin para penyelundup di sini membawanya. Saya masih tidak tahu bagaimana dia bisa naik kapal itu,” katanya.
"Saya tidak bisa tidur, tidak bisa makan kalau memikirkan dia. Saya selalu merindukannya. Ketika saya bertemu teman-temannya, mereka selalu menanyakan dia, tapi saya tidak bisa bilang bahwa dia sudah meninggal. Saya selalu merasa depresi.”
Nur Begum mengatakan ia tidak tahu mengapa kapal itu tenggelam.
Media memberitakan versi berbeda-beda mengenai nasib hampir 300 orang yang diyakini berada di kapal yang terbalik akibat ombak yang mendadak tinggi tersebut.
Beberapa laporan menyebut kapal yang terbalik merupakan kapal kecil yang mengangkut penumpang ke daratan, bukan kapal besar yang membawa mereka selama perjalanan panjang ke Langkawi.
Sebuah media Rohingya, mewawancarai salah satu penyintas, melaporkan bahwa sekitar 200 penumpang telah turun sebelum kapal kecil terakhir tenggelam. Namun, PBB memperkirakan 266 orang meninggal atau hilang dalam tragedi tersebut.
Arakan Project, kelompok pemantau perjalanan laut Rohingya, mengatakan penelitian mereka mendukung laporan media tersebut, yang berarti angka UNHCR kemungkinan lebih rendah.
Respons otoritas negara tujuan terhadap kapal Rohingya dikritik
Meski rincian tragedi November masih diselidiki, satu hal jelas: Ribuan Rohingya melarikan diri dari Bangladesh dan Myanmar setiap tahun, dan ratusan orang terus meninggal atau hilang dalam perjalanan.
Banyak kapal yang digunakan penyelundup sudah tua dan tidak layak untuk perjalanan panjang lebih dari seminggu. Sebagian kapal juga berangkat di musim pinggiran monsun, yang menambah risiko, kata Chris Lewa, Direktur Arakan Project.
Namun yang paling berbahaya, katanya, adalah bagaimana otoritas negara-negara tujuan, terutama Indonesia, Malaysia, dan Thailand merespons kedatangan kapal tersebut.
Pengungsi terancam sesak napas karena disembunyikan di palka
Menurut kelompok hak asasi dan para penyintas, otoritas sering mengabaikan panggilan darurat dari kapal atau mendorong mereka keluar dari wilayah perairan nasional.
Lewa mengatakan hal itu memaksa kapal menghabiskan lebih banyak waktu di laut bahkan setelah persediaan makanan dan air bersih habis. Beberapa penyelundup juga menyembunyikan penumpang di ruang penyimpanan ikan di bawah dek, yang minim udara dan berisiko membuat mereka mati lemas.
"Menurut saya, hal paling berbahaya dalam situasi ini adalah reaksi negara-negara yang berusaha menghalangi kapal-kapal itu,” kata Lewa.
Ia dan para aktivis lain mendesak otoritas negara tujuan untuk memberikan bantuan sebisa mungkin.
Selama kondisi di Bangladesh dan Myanmar terus memaksa Rohingya melarikan diri, dan negara-negara tujuan tidak membantu, tragedi seperti yang merenggut nyawa Nur Kayas akan terus terjadi.
"Selalu ada risiko ekstrem saat naik kapal,” kata Lewa. "Dan jika jumlah keberangkatan meningkat, kemungkinan kejadian seperti ini juga akan semakin banyak.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Hani Anggraini
Editor: Prihardani Purba