Kehadirannya menampilkan keragaman di gereja Katolik yang didominasi uskup berlatar belakang Jerman. Joshy George Pottackal, adalah seorang biarawan asal India yang diangkat menjadi uskup pembantu di Mainz.
Joshy George Pottackal menjadi uskup pembantu pertama yang berasal dari luar EropaFoto: Andreas Arnold/dpa/picture alliance
Iklan
Ia menyebut pengangkatan ini sebagai "pesan yang kuat”. Seorang romo dengan latar belakang non-Eropa ditahbiskan menjadi uskup gereja Katolik di Jerman pada Minggu (15/03 ). Joshy George Pottackal adalah seorang biarawan Ordo Karmelit asal India yang kini bertugas sebagai uskup pembantu di Keuskupan Mainz.
Sejak menjalankan tugas baru sebagai uskup, ia kerap mendengar seruan dari orang-orang berlatar belakang migran, "Akhirnya! Terlihat bahwa kami juga merupakan bagian dari Gereja Katolik di Jerman," kata pria berusia 48 tahun itu dalam wawancara kepada DW. Baginya, hal tersebut memberikan "motivasi yang luar biasa." Ada begitu banyak umat Kristen dengan latar belakang migran di Jerman.
Bagi Keuskupan Mainz yang terletak di barat daya Jerman, ini adalah penahbisan yang telah lama dinantikan, yaitu upacara keagamaan yang meriah untuk mengangkat seorang uskup pembantu yang ke depannya akan meringankan beban uskup utama.
Istilah dalam bahasa Inggris lebih mudah dipahami daripada istilah yang biasa digunakan dalam bahasa Jerman: "Auxiliary bishop" berarti uskup pembantu sedang "Diocesan bishop" adalah sebutan untuk uskup utama. Sebelumnya Pottackal telah bekerja sebagai penasihat personalia di keuskupan. Ke depannya ia juga akan mengunjungi paroki, memberikan sakramen krisma (penguatan iman), dan mewakili Gereja Katolik secara resmi.
Ini merupakan langkah bersejarah bagi Gereja Katolik di Jerman, hampir seperti sebuah sensasi. Yang menjadi uskup Katolik di Jerman hingga saat ini, biasanya berasal dari keluarga kelas menengah Jerman. Pottackal adalah uskup pembantu pertama yang lahir di luar Eropa.
Kami Berasal dari Sini: Kehidupan Keturunan Turki-Jerman dalam Gambar
Untuk merayakan ulang tahun ke-60 kesepakatan penerimaan pekerja migran asal Turki di Jerman, museum Ruhr memamerkan foto-foto karya fotografer asal Istanbul, Ergun Cagatay.
Fotografer Ergun Cagatay dari Istanbul, pada 1990 mengambil ribuan foto warga keturunan Turki yang berdomisili di Hamburg, Köln, Werl, Berlin dan Duisburg. Ini akan dipajang dalam pameran khusus “Kami berasal dari sini: Kehidupan keturunan Turki-Jerman tahun 1990” di museum Ruhr. Pada potret dirinya dia memakai pakaian pekerja tambang di Tambang Walsum, Duisburg.
Dua pekerja tambang bepose usai bertugas di tambang Walsum, Duisburg. Dipicu kemajuan ekonomi di tahun 50-an, Jerman menghadapi kekurangan pekerja terlatih, terutama di bidang pertanian dan pertambangan. Menindak lanjuti kesepakatan penerimaan pekerja migran antara Bonn dan Ankara pada 1961, lebih dari 1 juta “pekerja tamu” dari Turki datang ke Jerman hingga penerimaan dihentikan pada 1973.
Ini foto pekerja perempuan di bagian produksi pelapis interior di pabrik mobil Ford di Köln-Niehl. “Pekerja telah dipanggil, dan mereka berdatangan,” komentar penulis Swiss, Max Frisch, kala itu. Sekarang, komunitas Turki, dimana kini sejumlah keluarga imigran memasuki generasi ke-4, membentuk etnis minoritas terbesar di Jerman dengan total populasi sekitar 2.5 juta orang.
Foto menunjukan keragaman dalam keseharian orang Turki-Jerman. Terlihat di sini adalah kedelapan anggota keluarga Hasan Hüseyin Gül di Hamburg. Pameran foto di museum Ruhr ini merupakan liputan paling komprehensif mengenai imigran Turki dari generasi pertama dan kedua “pekerja tamu.”
Saat ini, bahan makanan seperti zaitun dan keju domba dapat ditemukan dengan mudah di Jerman. Sebelumnya, “pekerja tamu” memenuhi mobil mereka dengan bahan pangan itu saat mereka balik mudik. Perlahan-lahan, mereka membangun pondasi kuliner Turki di Jerman, untuk kenikmatan pecinta kuliner. Di sini berpose Mevsim, pemilik toko buah dan sayur di Weidengasse, Köln-Eigelstein.
Anak-anak bermain balon di Sudermanplatz, kawasan Agnes, Köln. Di tembok yang menjadi latar belakang terlihat gambar pohon yang disandingkan dengan puisi dari Nazim Hikmet, penyair Turki: “Hidup! Seperti pohon yang sendiri dan bebas. Seperti hutan persaudaraan. Kerinduan ini adalah milik kita.” Hikmet sendiri hidup dalam pengasingan di Rusia, hingga dia meninggal pada 1963.
Di sekolah baca Al-Quran masjid Fath di Werl, anak-anak belajar huruf-huruf Arab agar dapat membaca Al-Quran. Itu adalah masjid dengan menara pertama yang dibuka di Jerman pada tahun 90-an. Sejak itu warga Turki di Jerman tidak perlu lagi pergi ke halaman belakang untuk shalat atau beribadah.
Cagatay, sang fotografer berbaur dengan para tamu di sebuah pesta pernikahan di Oranienplatz, Berlin-Kreuzberg. Di gedung perhelatan Burcu, para tamu menyematkan uang kepada pengantin baru, biasanya disertai dengan harapan “semoga menua dengan satu bantal.” Pengantin baru menurut tradisi Turki akan berbagi satu bantal panjang di atas ranjang pengantin.
Tradisi juga tetap dijaga di tanah air baru ini. Di pesta khitanan di Berlin Kreuzberg ini, “Masyaallah” tertulis di selempang anak sunat. Itu artinya “terpujilah” atau “yang dikehendaki tuhan.” Pameran antara lain disponsori Kementerian Luar Negeri Jerman. Selain di Essen, Hamburg dan Berlin, pameran juga akan digelar di Izmir, Istanbul, dan Ankara bekerjasama dengan Goethe Institute. (mn/as)
Di kalangan umat Katolik di Jerman, gambaran yang berbeda telah lama terlihat. Menurut data Konferensi Waligereja Jerman, terdapat sekitar 3,4 juta umat Katolik di Jerman yang memiliki setidaknya satu kewarganegaraan asing dari total 20 juta penganut agama Katolik di Jerman.
Banyak keuskupan yang mencatat perkiraan penganut agama Katolik dengan bahasa ibu yang bukan berbahasa Jerman. Keuskupan Agung Köln menyebutkan seperlima dari jemaatnya berbahasa ibu di luar bahasa Jerman, Keuskupan Fulda dan Mainz masing-masing 25 persen, sedangkan Limburg hampir 35 persen.
Mengingat jumlah pemuda yang ingin menjadi imam Katolik di Jerman telah menurun drastis, jumlah imam atau biarawan yang diundang oleh keuskupan-keuskupan Jerman atau datang ke Jerman atas inisiatif sendiri pun meningkat.
Ratusan di antaranya berasal dari India dengan jumlah yang serupa dari negara-negara Afrika. Baru beberapa minggu yang lalu, para biarawati India mendirikan susteran barudi Münster.
Pottackal menceritakan bahwa Provinsi Karmelit India dulunya didirikan oleh Provinsi Karmelit Jerman. Kini, situasinya berbalik. Ia dan anggota-anggota Ordo India lainnya yang bertugas di Jerman menyebut Jerman sebagai "negeri misi".
Kisah Bunda Teresa
Terlahir dengan nama Anjezë Gonxhe Bojaxhiu, Bunda Teresa merupakan seorang biarawati Katolik Roma asal India keturunan Albania yang dihormati sebagai Santa Teresa dari Kalkuta.
Foto: picture-alliance/united archives
Didikan Katolik Sejak Kecil
Agnes Gonxhe Bojaxhiu lahir di Skopje sebagai anak perempuan seorang pedagang Albania. Dididik dalam keluarga Katolik yang kuat, pada usia 17 tahun, Teresa meninggalkan tanah kelahirannya dan masuk biara Ordo Loreto di Dublin, Irlandia. Desember 1928, untuk pertama kalinya ia pergi ke India dan tinggal di Darjeeling untuk mempersiapkan diri menjadi biarawati.
Foto: picture alliance/CPA Media
Hidup Bagi Kaum Sakit dan Miskin
Di Kalkuta, India, Bunda Teresa yang kala itu masih muda, melihat puluhan orang miskin yang meninggal. Ia menemukan perempuan yang pingsan di pinggir jalan, yang separuh badannya digerogoti tikus dan semut. Setelah petugas rumah sakit menolak merawatnya, perempuan itu akhirnya meninggal akibat luka-lukanya. Sejak itu Bunda Teresa bertekad tidak akan membiarkan seorangpun meninggal sendirian.
Foto: picture-alliance/ZUMA Press
Misionaris Cinta Kasih
Dengan keyakinan bahwa Yesus juga hidup pada setiap orang yang miskin, tahun 1948 dengan ijin dari Paus Pius XII, Bunda Teresa mendirikan sebuah ordo baru, "Misionaris Cinta Kasih“. Ia mengenakan baju tradisional Sari bewarna putih dengan tanda tiga garis biru, pakaian kaum miskin di Bengali. Tahun 1950, ordo yang didirikan Bunda Teresa juga diakui Vatikan.
Foto: picture-alliance/AP Photo/E. Adams
Penghargaan dan Kritik
1979 ia memperoleh hadiah Nobel Perdamaian. Tapi Bunda Teresa dan misinya sering mendapat kritik. Antara lain karena untuk dana yang diperolehnya ia tidak membuat tata buku yang terinci. Dan karena ia bertemu langsung dengan diktator Haiti, Francois Duvalier. Ia juga menolak memberi obat penahan sakit bagi orang yang akan meninggal.
Foto: Getty Images/AFP
Warga India Beragama Katolik
Ia meninggal pada tanggal 5 September 1997. Bunda Teresa dibaringkan dalam ketenangan di Gereja St. Thomas di Kalkuta selama satu minggu sebelum pemakamannya. Ia dimakamkan dengan upacara kenegaraan oleh pemerintah India atas jasanya kepada kaum miskin dari semua agama di India.
Foto: Getty Images/AFP/A. Datta
5 foto1 | 5
Jerman, negeri para migran
Pottackal telah tinggal di Jerman selama lebih dari 20 tahun. Bagi banyak orang di keuskupan, ia dikenal sebagai Pastor Joshy. Ia telah lama memiliki paspor Jerman dan memahami keadaan sosial di negara ini.
"Dalam situasi saat ini, di mana masyarakat terpolarisasi dan cenderung ada penolakan terhadap orang-orang dengan latar belakang migrasi, ini merupakan pesan yang kuat," katanya setelah penahbisannya. Gereja menunjukkan bahwa keragaman itu penting baginya. Hal ini juga menunjukkan bahwa Jerman adalah negeri para imigran.
Uskup Mainz Peter Kohlgraf, yang mengusulkan jabatan uskup pembantu untuk Pottackal pada November 2025 lalu mengatakan hal ini sebagai "pesan yang kuat dan penting di zaman ini."
Gereja Katolik adalah Gereja Sedunia. "Tidak ada orang asing di Gereja ini.” Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Paus Leo XIV, yang juga merupakanseorang imam ordo asal AS dengan pengalaman pastoral bertahun-tahun di Peru, telah menunjuk beberapa uskup dengan latar belakang imigran sejak terpilih pada Mei 2025.
Apa yang dapat dipelajari paroki-paroki di Jerman dari seorang uskup yang memiliki pengalaman sebagai imigran? Joshy Pottackal, yang suka tertawa dan memancarkan keramahan, langsung menjawab. "Fleksibilitas," kata biarawan itu sembari memberi contoh persiapan pesta paroki di Jerman.
"Rencananya dibuat enam bulan sebelumnya, semuanya dicatat dan dilakukan dengan teliti.” Di India, perencanaan jangka panjang seperti itu tidak ada, di sana semuanya berjalan santai, "dengan ketenangan dan kepercayaan kepada Tuhan”.
Dalam hal ini, Pastor Joshi langsung teringat pada pesta paroki di paroki-paroki di tepi Sungai Neckar dekat Stuttgart, tempat ia bertugas sebagai romo selama beberapa tahun. "Di sana ada stan masakan Polandia, di stan lain ada masakan India."
Nuansa internasional gereja kini juga dirasakan di paroki-paroki pedesaan. Di sana integrasi dalam lingkup gereja tidak jadi masalah. Di lingkungan gereja di Jerman, ia tidak pernah mengalami diskriminasi. Namun, dalam beberapa pertemuan sehari-hari, misalnya di toko-toko, ia kadang-kadang merasa kurang nyaman.
Pottackal juga menceritakan pengalamannya saat melakukan misi di India. Di sana, orang sudah merasa bersyukur jika hanya memiliki tenda untuk beribadah. "Di sana tidak ada yang bertanya: Berapa banyak anak tangga yang harus dimiliki ruang altar? Apakah altar itu terbuat dari kayu atau batu? Apa yang benar, apa yang salah?"
Uskup Pottackal berasal dari negara bagian Kerala di India — ini adalah salah satu gereja tertua di Kerala, yaitu Gereja Bersejarah “Madre De Deus”Foto: Creative Touch Imaging Ltd/NurPhoto/picture alliance
Tapi pertanyaan-pertanyaan adalah hal yang umum di Jerman, kata Romo Joshy. Di India, masih banyak orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari jadi pertanyaan soal tampilan altar bukanlah hal yang penting. Iman bukanlah soal penampilan luar, melainkan soal "hidup bersama sebagai sebuah komunitas dan merayakan Tuhan." Cincin uskup dan tongkat uskup Pottackal bukan terbuat dari emas atau perak, melainkan dari kayu.
Iklan
Uskup baru yang tetap tinggal di biara
Di pintu kantornya, masih terbungkus plastik pelindung, tergantung jubah uskup berwarna hitam dengan aksen ungu. Ungu adalah warna resmi para uskup Katolik. "Saya tidak harus selalu mengenakan jubah itu,” kata pria berusia 48 tahun itu, "hanya pada acara-acara khusus”.
Bahkan sebagai uskup pembantu, Pottackal akan tetap menjadi biarawan Karmelit dan terus tinggal di biara Karmelit di pusat kota Mainz. Ia telah berakar dalam ordo tersebut sejak berusia 15 tahun, katanya.
Biara itu baginya adalah "keluarga". Saat ini ada delapan biarawan yang tinggal di sana. "Saya sama sekali tidak bisa membayangkan tinggal sendirian di rumah uskup." Ia sangat bersyukur bahwa uskup dan keuskupan langsung memahami keinginannya untuk tetap tinggal di biara. "Di sana saya merasa kerasan."
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman