1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
ReligiJerman

Romo Keturunan India Diangkat Jadi Uskup di Jerman

17 Maret 2026

Kehadirannya menampilkan keragaman di gereja Katolik yang didominasi uskup berlatar belakang Jerman. Joshy George Pottackal, adalah seorang biarawan asal India yang diangkat menjadi uskup pembantu di Mainz.

Mainz, Jerman  2025 | Uskup Joshy George Pottackal di depan Katedral Mainz
Joshy George Pottackal menjadi uskup pembantu pertama yang berasal dari luar EropaFoto: Andreas Arnold/dpa/picture alliance

Ia menyebut pengangkatan ini sebagai "pesan yang kuat”. Seorang romo dengan latar belakang non-Eropa ditahbiskan menjadi uskup gereja Katolik di Jerman pada Minggu (15/03 ). Joshy George Pottackal adalah seorang biarawan Ordo Karmelit asal India yang kini bertugas sebagai uskup pembantu di Keuskupan Mainz.

Sejak menjalankan tugas baru sebagai uskup, ia kerap mendengar seruan dari orang-orang berlatar belakang migran, "Akhirnya! Terlihat bahwa kami juga merupakan bagian dari Gereja Katolik di Jerman," kata pria berusia 48 tahun itu dalam wawancara kepada DW. Baginya, hal tersebut memberikan "motivasi yang luar biasa." Ada begitu banyak umat Kristen dengan latar belakang migran di Jerman.

Bagi Keuskupan Mainz yang terletak di barat daya Jerman, ini adalah penahbisan yang telah lama dinantikan, yaitu upacara keagamaan yang meriah untuk mengangkat seorang uskup pembantu yang ke depannya akan meringankan beban uskup utama.

Istilah dalam bahasa Inggris lebih mudah dipahami daripada istilah yang biasa digunakan dalam bahasa Jerman: "Auxiliary bishop" berarti uskup pembantu sedang "Diocesan bishop" adalah sebutan untuk uskup utama. Sebelumnya Pottackal telah bekerja sebagai penasihat personalia di keuskupan. Ke depannya ia juga akan mengunjungi paroki, memberikan sakramen krisma (penguatan iman), dan mewakili Gereja Katolik secara resmi.

Ini merupakan langkah bersejarah bagi Gereja Katolik di Jerman, hampir seperti sebuah sensasi. Yang menjadi uskup Katolik di Jerman hingga saat ini, biasanya berasal dari keluarga kelas menengah Jerman. Pottackal adalah uskup pembantu pertama yang lahir di luar Eropa.

Jutaan umat Katolik dengan latar belakang migran

Di kalangan umat Katolik di Jerman, gambaran yang berbeda telah lama terlihat. Menurut data Konferensi Waligereja Jerman, terdapat sekitar 3,4 juta umat Katolik di Jerman yang memiliki setidaknya satu kewarganegaraan asing dari total 20 juta penganut agama Katolik di Jerman.

Banyak keuskupan yang mencatat perkiraan penganut agama Katolik dengan bahasa ibu yang bukan berbahasa Jerman. Keuskupan Agung Köln menyebutkan seperlima dari jemaatnya berbahasa ibu di luar bahasa Jerman, Keuskupan Fulda dan Mainz masing-masing 25 persen, sedangkan Limburg hampir 35 persen.

Mengingat jumlah pemuda yang ingin menjadi imam Katolik di Jerman telah menurun drastis, jumlah imam atau biarawan yang diundang oleh keuskupan-keuskupan Jerman atau datang ke Jerman atas inisiatif sendiri pun meningkat.

Ratusan di antaranya berasal dari India dengan jumlah yang serupa dari negara-negara Afrika. Baru beberapa minggu yang lalu, para biarawati India mendirikan susteran barudi Münster.

Pottackal menceritakan bahwa Provinsi Karmelit India dulunya didirikan oleh Provinsi Karmelit Jerman. Kini, situasinya berbalik. Ia dan anggota-anggota Ordo India lainnya yang bertugas di Jerman menyebut Jerman sebagai  "negeri misi".

Jerman, negeri para migran

Pottackal telah tinggal di Jerman selama lebih dari 20 tahun. Bagi banyak orang di keuskupan, ia dikenal sebagai Pastor Joshy. Ia telah lama memiliki paspor Jerman dan memahami keadaan sosial di negara ini.

"Dalam situasi saat ini, di mana masyarakat terpolarisasi dan cenderung ada penolakan terhadap orang-orang dengan latar belakang migrasi, ini merupakan pesan yang kuat," katanya setelah penahbisannya. Gereja menunjukkan bahwa keragaman itu penting baginya. Hal ini juga menunjukkan bahwa Jerman adalah negeri para imigran.

Uskup Mainz Peter Kohlgraf, yang mengusulkan jabatan uskup pembantu untuk Pottackal pada November 2025 lalu mengatakan hal ini sebagai "pesan yang kuat dan penting di zaman ini."

Gereja Katolik adalah Gereja Sedunia. "Tidak ada orang asing di Gereja ini.” Hal ini sejalan dengan fakta bahwa Paus Leo XIV, yang juga merupakanseorang imam ordo asal AS dengan pengalaman pastoral bertahun-tahun di Peru, telah menunjuk beberapa uskup dengan latar belakang imigran sejak terpilih pada Mei 2025.

Apa yang dapat dipelajari paroki-paroki di Jerman dari seorang uskup yang memiliki pengalaman sebagai imigran? Joshy Pottackal, yang suka tertawa dan memancarkan keramahan, langsung menjawab. "Fleksibilitas," kata biarawan itu sembari memberi contoh persiapan pesta paroki di Jerman.

"Rencananya dibuat enam bulan sebelumnya, semuanya dicatat dan dilakukan dengan teliti.” Di India, perencanaan jangka panjang seperti itu tidak ada, di sana semuanya berjalan santai, "dengan ketenangan dan kepercayaan kepada Tuhan”.

Dalam hal ini, Pastor Joshi langsung teringat pada pesta paroki di paroki-paroki di tepi Sungai Neckar dekat Stuttgart, tempat ia bertugas sebagai romo selama beberapa tahun. "Di sana ada stan masakan Polandia, di stan lain ada masakan India."

Nuansa internasional gereja kini juga dirasakan di paroki-paroki pedesaan. Di sana integrasi dalam lingkup gereja tidak jadi masalah. Di lingkungan gereja di Jerman, ia tidak pernah mengalami diskriminasi. Namun, dalam beberapa pertemuan sehari-hari, misalnya di toko-toko, ia kadang-kadang merasa kurang nyaman.

Pottackal juga menceritakan pengalamannya saat melakukan misi di India. Di sana, orang sudah merasa bersyukur jika hanya memiliki tenda untuk beribadah. "Di sana tidak ada yang bertanya: Berapa banyak anak tangga yang harus dimiliki ruang altar? Apakah altar itu terbuat dari kayu atau batu? Apa yang benar, apa yang salah?"

Uskup Pottackal berasal dari negara bagian Kerala di India — ini adalah salah satu gereja tertua di Kerala, yaitu Gereja Bersejarah “Madre De Deus”Foto: Creative Touch Imaging Ltd/NurPhoto/picture alliance

Tapi pertanyaan-pertanyaan adalah hal yang umum di Jerman, kata Romo Joshy. Di India, masih banyak orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari jadi pertanyaan soal tampilan altar bukanlah hal yang penting. Iman bukanlah soal penampilan luar, melainkan soal "hidup bersama sebagai sebuah komunitas dan merayakan Tuhan." Cincin uskup dan tongkat uskup Pottackal bukan terbuat dari emas atau perak, melainkan dari kayu.

Uskup baru yang tetap tinggal di biara

Di pintu kantornya, masih terbungkus plastik pelindung, tergantung jubah uskup berwarna hitam dengan aksen ungu. Ungu adalah warna resmi para uskup Katolik. "Saya tidak harus selalu mengenakan jubah itu,” kata pria berusia 48 tahun itu, "hanya pada acara-acara khusus”.

Bahkan sebagai uskup pembantu, Pottackal akan tetap menjadi biarawan Karmelit dan terus tinggal di biara Karmelit di pusat kota Mainz. Ia telah berakar dalam ordo tersebut sejak berusia 15 tahun, katanya.

Biara itu baginya adalah "keluarga". Saat ini ada delapan biarawan yang tinggal di sana. "Saya sama sekali tidak bisa membayangkan tinggal sendirian di rumah uskup." Ia sangat bersyukur bahwa uskup dan keuskupan langsung memahami keinginannya untuk tetap tinggal di biara. "Di sana saya merasa kerasan."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya