1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rumah jompo multikultural di Jerman

13 Mei 2004

Di rumah jompo Haus am Sandberg di Duisburg, khusus disediakan hidangan tanpa daging babi untuk para penghuni yang beragama Muslim. Haus am Sandberg di Duisburg merupakan satu-satunya rumah jompo yang multi-kultural di Jerman. Dewasa ini 11 warga Turki, seorang warga Rusia, dua warga Belanda dan seorang warga Tunisia , hidup bersama di rumah tsb , di bawah satu atap. Gagasan untuk membangun rumah jompo tsb datang 10 tahun yang lalu , dan semula dijadikan semacam pilot-projekt. Sekarang, semakin banyak pihak tertarik pada gagasan tsb. Sebab dengan 10 persen warga asing di Jerman, masyarakat multi-kultural di Jerman sudah merupakan kenyataan. Dan juga para warga asing membutuhkan bantuan di masa tua. Sebab keluarga besar Turki tidak ada lagi. Struktur keluarga telah berubah. Anak-anak lahir di Jerman, mereka sendiri punya anak, dan pekerjaan. Sebagian anak pada usia muda, telah meninggalkan rumah orangtuanya. Jadi banyak keluarga Turki tiba-tiba sendiri. Para orangtua telah mencapai usia pensiun, 60 tahun atau 65 tahun, dan anak-anaknya tinggal jauh dari mereka , di kota lain, sehingga tidak dapat mengurus orangtua. Oleh sebab itu semakin banyak warga imigran pindah ke rumah jompo, di mana mereka mendapat perawatan sepanjang hari. Namun yang penting di rumah jompo, adalah bahwa para petugasnya di situ bisa berbahasa asing. Sebab justru banyak pasien Alzheimer pada usia jompo lupa bahasa Jerman , dan hanya dapat berbicara dalam bahasa ibunya. Karena itu sepertiga dari personil di rumah jompo di Duisburg berasal dari lingkungan kultur lain. Sebagai satu-satunya rumah jompo di Jerman, di rumah jompo tsb terdapat gereja dan masjid. Meski gereja dan masjid bukan suatu keharusan di rumah jompo. Sebab kebanyakan penghuni sakit dan lemah, sehingga mereka sembahyang di kamar. Bagi rumah jompo multikultural yang penting adalah personil yang tertarik pada kultur lain , yang bersedia mendengarkan keluhan dan permintaan penghuninya , yang berasal dari manca negara, Misalnya, bila Perihan Arcak, nenek berusia 90 tahun , ingin makan keju domba, buah oliv atau roti Turki, maka seorang petugas rumah jompo, akan membelinya di supermarket Turki. Dan apa bila penghuni dari Rusia ingin diperiksa oleh dokter Rusia, maka itu pun mungkin. Hal-hal kecil seperti itu dalam kehidupan sehari-hari penting, juga sebagai terapi bagi orang-orang jompo.