Seperti apa rumah impian Anda? Harald Windler mewuijudkan mimpinya. Rumahnya dilengkapi sauna dan teras bermandi matahari - bahkan kolam renang. Yang menakjubkan, rumah di pinggiran kawasan hijau Berlin ini: Mengapung!
Foto: DW
Iklan
Kawasan hijau Havel - antara Berlin dan Potsdam. Tujuan wisata populer - tidak hanya bagi penduduk Berlin. Di atas air, rumah perahu modern milik Harald Windler tampak mencolok.
"Ini sangat istimewa. Inilah sensasi kehidupan yang dapat kita miliki. Di sini kita bisa bersantai, setiap hari rasanya seperti berlibur. Stres langsung hilang saat pulang ke rumah," ujar Windler.
Sejak 2015 ahli terapi fisik tersebut tinggal di rumah mengambang impiannya. Dekorasi yang simpel menyediakan ruang hidup yang selaras dengan panorama sekitar. Lewat jendela kaca setinggi 2,5 meter, penghuni bisa menikmati hampir seluruh pemandangan.
Kecil tapi lengkap
Di ruang tamunya ada sofa lipat yang bisa digunakan sebagai tempat tidur tamu. Di dapur ada microwave, mesin cuci piring dan kompor. Tangki menjamin tersedianya air minum. Listrik berasal dari generator.
Meskipun hanya 5 meter persegi, kamar mandinya terasa luas. Jendela kacanya tak tembus pandang. Ada juga sauna kecil. Jadi rumah ini bisa didiami sepanjang tahun - bahkan pada musim dingin sekalipun. Tempat favoritnya adalah kamar tidur di bagian belakang perahu. Bangun tidur bisa langsung menceburkan diri ke air.
Windler: "Penting bagi saya, untuk memiliki segala fasilitas seperti di apartemen atau rumah pada umumnya. Saya tak perlu menyingkirkannya. Semua ada di rumah kapal yang saya bangun ini. "
Selain sofa yang dapat dengan mudah beralihfungsi menjadi tempat tidur, jendelanya bisa ditutup kerai agar tak masuk cahaya. Setiap meter persegi dimanfaatkan dengan cerdas.
"Tentu saja tidak begitu banyak ruang dalam rumah kapal. Inilah kekurangannya. Dalam lemari, barang-barang saya hanya sebagian yang tertampung. Sisanya ada di bawah badan kapal atau di ruang dalam kapal yang tersisa. Kalau Anda melihat keluar dari sini, jendelanya disekat ganda. Jadi suhu di musim dingin tidak masalah," jelas Windler.
Kota Terapung Menjawab Perubahan Iklim
Kota di permukaan samudera bisa menyelamatkan jutaan penduduk di negara kepulauan yang terancam perubahan iklim. Tapi berbeda dengan yang lain, konsep milik Institut Seasteading ini bisa direalisasikan dalam waktu dekat.
Foto: Floating City Project/DeltaSync
Bertaruh Nasib
Maladewa, Kepulauan Marshall atau bahkan Indonesia pun ikut terancam oleh kenaikan permukaan air laut sebagai dampak perubahan iklim. Selama ini pemerintah di negara kepualauan terkecil cuma memiliki satu solusi, yakni menyewa atau membeli tanah di negeri orang untuk mengungsi. Namun kini konsep kota terapung milik Institut Seasteading bisa menjadi solusi paling berkelanjutan.
Foto: RICO - Fotolia.com
Solusi di Samudera
Belum lama ini pemerintah Polynesia Perancis sepakat menggandeng rumah desain Institut Seasteading buat membangun kota terapung di permukaan samudera Pasifik, di lepas pantai Tahiti. Kota tersebut rencananya akan mulai dibangun tahun 2019. Menurut studi teranyar, dua pertiga wilayah Polynesia Perancis akan tenggelam pada akhir abad dengan laju kenaikan permukaan laut seperti saat ini.
Foto: Floating City Project/The Seasteading Institute /DeltaSync/Architectural Design Contest/Roark 3D/G. Sheare, L. & L. Crowley und P. White
Delapan Perintah Moral
Institut Seasteading yang didirikan oleh pemilik Paypal Peter Thiel itu memerlukan waktu lima tahun untuk mendesain "komunitas permanen dan inovativ yang mengapung di permukaan laut." Tidak tanggung-tanggung, institut tersebut mengklaim desainnya dibuat dengan merujuk pada delapan perintah moral, antara lain menyembuhkan orang sakit, menyejahterakan kaum miskin dan membersihkan atmosfer Bumi.
Foto: Floating City Project/The Seasteading Institute /DeltaSync/Architectural Design Contest/TDArch/Yin Tao-chiang
Surga Mengambang
Proyek pertama akan dibangun di atas 11 panggung mengambang berbentuk persegi yang susunannya bisa diatur sesuai kebutuhan penduduk kota layaknya kepingan puzzle. Untuk tahap pertama pemerintah Polynesia Perancis berencana membangun kota untuk menampung antara 250 hingga 300 orang. Kota ini nantinya akan sepenuhnya menggunakan energi terbarukan dan dikelola dengan konsep ramah lingkungan.
Foto: Floating City Project/The Seasteading Institute /DeltaSync/Architectural Design Contest/Seoul National University/M. Seok Kim
Tembok Air
Panggung mengambang tersebut rencananya akan dibangun dari beton bertulang dan bisa menampung gedung bertingkat tiga seperti hotel, apartemen atau pusat perbelanjaan dan memiliki usia pakai hingga 100 tahun. Setiap panggung akan dibuat sepanjang 50 metern dengan tinggi lima meter. Kota ajaib ini juga akan dilindungi oleh tembok laut setinggi 50 meter.
Foto: Floating City Project/The Seasteading Institute /DeltaSync
Mandiri dan Berkelanjutan
Setiap panggung bisa dipindahkan ke lokasi lain dengan menggunakan kapal penyeret dan dikaitkan dengan panggung lain buat membentuk formasi yang diinginkan. Kebutuhan air akan ditutupi dengan menyaring air laut dan sayuran atau buah bisa ditanam di rumah kaca dengan sistem akuaponik. Sementara sampah diangkut ke lokasi pengolahan yang dibangun di daratan.
Foto: Floating City Project/The Seasteading Institute /DeltaSync/Architectural Design Contest/A. Gyorfi
Terjangkau dan Realistis
Bahwa kota terapung di Haiti terjangkau secara ekonomi terlihat dari ongkos pembangunan tahap pertama yang ditaksir senilai 167 juta Dollar AS atau sekitar 2,2 triliun Rupiah. Ongkos pembangunan sebuah panggung mencapai 10 juta Dollar AS, tidak berbeda dengan harga tanah di kota metropolitan seperti New York atau London.
Foto: Floating City Project/The Seasteading Institute /DeltaSync/Architectural Design Contest/Roark 3D/G. Sheare, L. & L. Crowley und P. White
Kebebasan Politik
Keunikan terbesar kota terapung adalah kebebasan politik yang dinikmati penduduknya. Lantaran sifatnya yang mandiri dan bisa berpindah tempat, kota ini bisa memilih kota untuk melabuh. "Jika penduduknya tidak suka kebijakan sebuah kota, maka mereka bisa pindah ke kota lain," tulis Institut Seasteading. Keunikan tersebut diyakini akan memaksa pemerintah kota bekerja sesuai keinginan penduduk.
Foto: Floating City Project/DeltaSync
Realita Menyapa
Ada banyak gagasan inovatif lain untuk menghadirkan konsep pemukiman mengambang. Namun sejauh ini ide yang dikembangkan Institut Seasteading adalah yang paling realistis dan terjangkau. Meski begitu konsep kota terapung masih harus mengalami lusinan uji kelayakan untuk menghadapi berbagai bahaya seperti kebakaran, wabah penyakit, Tsunami atau kerusuhan sosial.
Foto: Floating City Project/The Seasteading Institute /DeltaSync/Architectural Design Contest/Atkins/S. Nummy
9 foto1 | 9
Tidak mudah mewujudkannya
Pemanas yang dipasang dalam lantai, menghangatkan rumah seluas 50 meter persegi ini saat musim dingin. Lahan paling luas terletak di teras atas, sekitar 60 meter persegi. "Bagi saya sangat penting untuk memiliki lahan luas, seperti di teras atap ini. Di sini tidak hanya untuk makan, tetapi juga buat bersantai, ada juga kolam renang hangat."
"Rumah kapal impian" seharga 400.000 Euro ini dibangun di Dresden dan diangkut lewat kanal ke Berlin. Ini bukan satu-satunya rintangan yang harus diatasi. Windler: "Hal yang paling sulit bagi seseorang yang ingin punya atau membangun rumah kapal adalah tempat berlabuh. Di Berlin amat langka, sulit menemukannya sekarang ini."
Teman-temannya datang mengunjunginya dengan perahu. Di cuaca hangat, ia mengajak mereka ke teras untuk barbeque. Rumah kapal Berlin, tempat ideal untuk melarikan diri dari kesibukan kota besar.
Franziska Wartenberg (vlz/as)
Beragam Wajah Rumah Non-Tradisional
Mulai dari rumah kapal hingga kontainer industri, semakin banyak warga Jerman memilih rumah non-tradisional. DW menyeleksi beberapa alternatif yang paling menarik.
Foto: cc-by-nc-sa/Simon & Jasmine Dale
Rumah Sendiri
Setiap orang butuh tempat berteduh. Di Jerman, rumah-rumah dengan atap terpisah cukup banyak. Tapi di kota-kota besar seperti Hamburg, München atau Düsseldorf, harga rumah semacam ini kerap terlalu mahal.
Foto: Fotolia/Markus Langer
Hidup dalam Miniatur
Zaman sekarang, mereka yang tidak ingin meminjam uang untuk membeli rumah harus bisa kreatif. Bagaimana dengan hidup dalam miniatur karavan? Kalau Anda tidak suka permukimannya, tinggal pergi dan cari tempat lain.
Foto: cc-by-RowdyKittens
Menyatu dengan Alam
Salah satu tren dari Amerika Serikat adalah rumah yang ramah lingkungan. Ada rumah kecil yang terbuat dari sampah dan bahan alamiah seperti kayu. Struktur yang efisien energi ini menyatu dengan alam sekitarnya.
Foto: flickr/Marvins_Dad
Hidup Bagai Hobbit
Bukan.. foto ini bukan dari lokasi syuting ‘The Lord of the Rings.’ Rumah ramah lingkungan ini dapat ditemui di Wales. Rumah ini sengaja dikonsep untuk berbaur dengan kondisi alam sekitar.
Foto: cc-by-nc-sa/Simon & Jasmine Dale
Rumah Apung
Mereka yang memilih kehidupan urban ketimbang rumah Hobbit mungkin terhadang satu masalah: Lahan begitu langka di kota. Itulah mengapa semakin banyak orang yang tertarik pada perairan di kota besar seperti Amsterdam dan Hamburg – dengan bantuan rumah perahu. Dengan anggaran cukup besar, rumah apung dapat dibangun dengan segala kenyamanan.
Foto: picture-alliance/dpa/JOKER
Kehidupan Industri
Di pelabuhan, kontainer barang lazim dijumpai. Tapi yang mungkin Anda tidak ketahui adalah boks-boks metal ini dapat diubah menjadi rumah yang nyaman. Profesor arsitektur Han Slawik dari Hannover menjadi arsitek pertama yang menggabungkan kontainer dengan desain canggih.
Foto: DW/I. Wrede
Rumah dalam Boks
Konstruksi kontainer oleh Han Slawik dikenal sebagai ‘Homebox.‘ Gedung tiga lantai ini terletak di Hannover. Setiap kontainer dapat menampung sebuah keluarga beranggotakan empat orang. Di Jerman, rumah kontainer masih langka, tapi di Belanda kompleks perumahan mahasiswa yang terbuat dari kontainer sudah populer.
Foto: picture-alliance/dpa
Tidak Sendiri
Kompleks perumahan seperti ini di Bonn, dinamai ‘Amaryllis,‘ begitu disukai di Jerman. Di sini beberapa generasi tinggal bersama. Setiap keluarga punya apartemen sendiri, namun mereka berbagi taman dan sejumlah mobil. Proyek perumahan multi-generasi menjadi alternatif yang menarik bagi individu yang menikmati komunitas.