Jika tidak ada perubahan yang dilakukan saat ini dan produksi plastik baru terus dilakukan, kesehatan manusia akan terdampak dua kali lipat lebih buruk di masa depan.
Plastik ada di mana-mana. Kini ada studi terbaru tentang dampak negatifnya terhadap kesehatan kita.Foto: Danish Showkat/ZUMA/IMAGO
Iklan
Plastik digunakan hampir di mana-mana, mulai dari kemasan, furnitur, pakaian, juga sebagai bahan bangunan, perangkat medis, dan ban mobil. Dampak dari konsumsi plastik kini kian terasa. Sampah plastik sering kali berakhir di alam, kemudian tertimbun masuk ke dalam tanah atau ke lautan. Plastik mengganggu ekosistem. Selain itu, plastik terurai menjadi partikel-partikel yang sangat kecil, yang disebut mikroplastik dan nanoplastik.
Saat ini, mikroplastik tidak hanya ditemukan di udara, di tanah, di laut dalam, atau di es Arktik, tetapi juga di dalam organisme hidup. Mikroplastik bahkan telah terdeteksi di dalam tubuh manusia - di dalam darah, paru-paru, otak, dan bahkan pada tinja pertama bayi yang baru lahir.
Konsumsi plastik global meningkat pesat
Kini para peneliti turut menelaah emisi yang dilepaskan sepanjang ‘siklus hidup' produk plastik mulai dari ekstraksi minyak bumi dan gas alam untuk bahan baku plastik, proses produksi, transportasi, daur ulang, hingga pembuangan plastik.
Dari semua siklus hidup tersebut dihasilkan gas rumah kaca, partikel halus, dan bahan kimia berbahaya yang dapat merugikan kesehatan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung dari dampak pemanasan global yang terus meningkat.
Menurut proyeksi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) konsumsi plastik global dapat meningkat hampir tiga kali lipat hingga tahun 2060, maka dari itu dampak negatifnya pun akan semakin besar.
Sebuah studi baru yang diterbitkan pada jurnal ilmiah The Lancet Planetary Health membandingkan dampak-dampak negatif tersebut dalam enam skenario berbeda, tergantung pada bagaimana manusia menangani plastik di masa depan. Pada tiap skenario, para penulis meninjau kondisi pada tahun 2040.
Sampah Plastik Mencemari Sungai dan Lautan
Sebagian besar sampah plastik yang mencemari sungai akhirnya bermuara di lautan. Inilah sungai besar di Asia dan Afrika yang paling banyak membawa sampah plastik.
Foto: Imago/Xinhua/Guo Chen
1. Sungai Yangtze
Yangtze adalah sungai terpanjang di Asia dan terpanjang ketiga di dunia. Sungai ini menduduki peringkat puncak sebagai pembawa limbah plastik ke lautan. Yangtze mengalir ke Laut Cina Timur dekat Shanghai dan sangat penting bagi ekonomi dan ekologi Cina. Tepian sungai merupakan rumah bagi 480 juta orang - sepertiga penduduk Cina.
Foto: Imago/VCG
2. Sungai Indus
Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz Centre for Environmental Research menemukan bahwa 90 persen plastik yang mengalir ke lautan dapat ditelusuri ke 10 sungai besar. Sungai Indus menempati urutan kedua dalam daftar itu. Sungai ini mengalir melalui sebagian India dan Pakistan ke Laut Arab. Karena kurangnya struktur pengolahan limbah, banyak plastik memasuki sungai ini.
Foto: Asif Hassan/AFP/Getty Images
3. Sungai Kuning
Plastik di sungai bisa masuk ke dalam rantai makanan karena ikan dan hewan laut dan air tawar menelannya. Sungai Kuning, yang disebut-sebut sebagai tempat lahirnya peradaban Cina, berada di urutan ketiga dalam daftar pembawa limbah plastik. Polusi telah membuat sebagian besar air sungai tidak bisa diminum. Sekitar 30 persen spesies ikannya diyakini telah punah juga.
Foto: Teh Eng Koon/AFP/Getty Images
4. Sungai Hai
Sungai lainya di Cina menduduki peringkat 4, yaitu sungai Hai. Sungai ini menghubungkan dua wilayah metropolitan terpadat: Tianjin dan Beijing, sebelum mengalir ke Laut Bohai, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. 10 sistem sungai memiliki ciri khas, kata penelitian tersebut.
Foto: Imago/Zumapress/Feng Jun
5. Sungai Nil
Dianggap sebagai sungai terpanjang di dunia, Sungai Nil mengalir melalui 11 negara sebelum memasuki Laut Tengah di Mesir. Sekitar 360 juta orang tinggal di daerah aliran sungai. Airnya mendukung pertanian - kegiatan ekonomi utama di kawasan ini. Sungai Nil berada di peringkat 5 daftar sungai yang terbanyak membawa sampah plastik. Setiap tahun, sekitar 8 juta ton limbah plastik dibuang ke sungai.
Foto: Imago/Zumapress
6. Sungai Gangga
Sungai Gangga merupakan pusat kehidupan spiritual India dan menyediakan air bagi lebih dari setengah miliar orang. Limbah pertanian dan industri telah menjadikannya salah satu sungai paling tercemar di dunia. Dalam hal sampah plastik, Gangga berada di peringkat 6. Para ahli mengatakan, kita harus menghasilkan lebih sedikit sampah dan menghentikan polusi pada sumbernya.
Foto: Getty Images/AFP/S. Kanojia
7. Sungai Mutiara (Pearl River )
Para pekerja membersihkan limbah yang terapung di Sungai Mutiara di Cina yang bermuara di Laut Cina Selatan antara Hong Kong dan Makau. Limbah buangan dan limbah industri di sungai ini makin banyak, seiring dengan laju ekspansi kota yang luar biasa. Sejak akhir 1970-an, kawasan delta sungai telah berubah dari daerah pertanian dan pedesaan menjadi salah satu daerah perkotaan terbesar dunia.
Foto: Getty Images/AFP/Goh Chai Hin
8. Sungai Amur (Heilong)
Air sungai makin kotor ketika menyentuh daerah perkotaan dan industri. Namun, menurut penelitian terbaru, limbah plastik bahkan ditemukan di lokasi terpencil. Sungai Amur mengalir dari daerah perbukitan di Cina timur laut dan membentuk sebagian besar perbatasan antara provinsi Heilongjiang (Cina) dan Siberia (Rusia) sebelum menuju ke Laut Okhotsk.
Foto: picture-alliance/Zumapress/Chu Fuchao
9. Sungai Niger
Niger adalah sungai utama Afrika Barat, yang menghidupi lebih dari 100 juta orang dan salah satu ekosistem paling rimbun di planet ini. Sungai ini mengalir melalui lima negara sebelum bermuara di Samudera Atlantik di Nigeria. Selain polusi plastik, konstruksi bendungan yang luas mempengaruhi ketersediaan air. Tumpahan minyak yang sering terjadi di Delta Niger juga menyebabkan air terkontaminasi.
Foto: Getty Images
10. Sungai Mekong
Pembangunan bendungan juga memiliki dampak ekologi dan sosial, terutama di sungai Mekong. Sekitar 20 juta orang tinggal di Delta Mekong. Banyak yang bergantung pada perikanan dan pertanian untuk bertahan hidup. Sungai ini mengalir melalui enam negara Asia Tenggara, termasuk Vietnam dan Laos. Sungai Mekong menduduki peringkat 10 dalam daftar sungai yang paling tercemar limbah plastik.
Foto: Imago/Xinhua
10 foto1 | 10
Berapa banyak tahun kehidupan yang hilang akibat plastik
Untuk perhitungannya, para peneliti menggunakan satuan "Disability-Adjusted Life Years" (DALYs). Satu DALY berarti satu tahun kehidupan sehat yang hilang, baik karena kematian ataupun hidup dengan penyakit.
Mereka menghitung, pertama, berapa banyak plastik yang diperkirakan akan ada setiap tahunnya. Kedua, mereka memperkirakan berapa banyak tahun kehidupan manusia yang kemungkinan akan hilang pada tahun 2040, bergantung pada jumlah plastik yang ada.
Proyeksi ini menunjukkan berapa banyak emisi yang merusak kesehatan yang dihasilkan plastik dalam jumlah tertentu. Emisi mencakup pencemaran udara oleh partikel plastik halus yang muncul saat transportasi produk-produk plastik. Termasuk juga emisi CO₂ yang dihasilkan dari ekstraksi minyak dan gas atau dari produksi plastik. Selain itu, pelepasan bahan kimia beracun dari plastik yang terjadi saat produksi plastik atau dari limbah plastik turut diperhitungkan.
Tim peneliti menjadikan tahun 2016 sebagai titik awal. Pada tahun tersebut, sekitar 2,1 juta tahun kehidupan manusia hilang akibat jumlah plastik yang ada di seluruh dunia. Dalam skenario pertama, para peneliti mengasumsikan hingga tahun 2040 jika situasi berjalan seperti sekarang dimana produksi plastik baru tetap sama setiap tahun, jumlah plastik yang didaur ulang tidak berubah dan jumlah sampah plastik yang masuk ke lingkungan juga tetap sama.
Dalam kasus ini, jumlah tahun kehidupan yang hilang akan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2016: pada tahun 2040 akan ada sekitar 4,5 juta tahun kehidupan yang hilang, atau DALYs.
Dalam skenario paling optimistis di mana lebih sedikit plastik digunakan, lebih banyak plastik yang didaur ulang, dan pengelolaan limbah lebih baik daripada saat ini, jumlah tahun kehidupan yang hilang pada tahun 2040 mencapai 2,6 juta - setengah juta lebih banyak dibandingkan tahun 2016.
Iklan
Plastik: salah satu penyebab utama pencemaran udara
"Perkiraan lebih dari empat juta tahun kehidupan sehat yang hilang pada tahun 2040 setara dengan sekitar lima jam kesehatan penuh yang hilang untuk setiap orang di Bumi," jelas Walter Leal dari Universitas Ilmu Terapan Hamburg (HAW Hamburg) untuk skenario "situasi berjalan seperti sekarang”. Sepanjang seluruh siklus hidupnya, plastik menyumbang sekitar 4,5 persen dari emisi gas rumah kaca buatan manusia, jelas Leal.
Jumlah ini memang lebih kecil dibandingkan emisi dari sektor energi atau pertanian. Beban kesehatan akibat plastik juga lebih rendah dibandingkan dampak pencemaran udara secara umum.
Namun demikian, plastik tetap merupakan "salah satu sumber utama partikel pencemar udara," kata Leal. Mengingat pertumbuhan jumlah plastik global, tindakan politik perlu segera diambil.
Manusia di tengah 'Gempuran' Sampah Plastik
Anak-anak bermain di tengah sampah plastik, sungai membawa sampah-sampah ke laut, hewan memakannya. Plastik ada di mana-mana. Produksinya kian berkembang pesat dan membahayakan manusia dan lingkungan.
Foto: Channi Anand/AP Photo/picture alliance
Pemandangan indah yang dipadati sampah
Plastik, bahan yang serbaguna, sangat diperlukan dalam konstruksi dan pengemasan. Tapi, plastik juga jadi bahaya global. Berton-ton sampah, termasuk botol plastik, ban bekas dan berbagai bahan non-organik, mengapung di Sungai Drina dan membentuk tempat pembuangan sampah terapung di Višegrad, Bosnia dan Herzegovina.
Foto: Armin Durgut/AP Photo/picture alliance
Dilarang bermain? Sayangnya tidak!
Di sebuah pantai di Filipina, anak-anak berjalan tanpa alas kaki di atas sampah plastik, sisa bencana topan lalu. Sampah-sampah yang dibuang sembarangan, melintasi sungai hingga ke berakhir di laut dan terdampar di pantai. Bukan hanya terbawa air, sampah-sampah ini pun turut tertelan hewan-hewan.
Foto: Aaron Favila/AP Photo/picture alliance
Berkurang satu kantong plastik
Nina Gomes mengambil satu kantong plastik yang dibuang di laut dekat pantai Copacabana, pantai yang terkenal di Rio de Janeiro, Brasil. Setiap tahun, Brazil menghasilkan sekitar 11,3 juta ton sampah plastik. Hanya 1,2 persen yang didaur ulang. Sampah plastik yang berakhir di lautan dan membahayakan ekosistem laut.
Foto: Bruna Prado/AP Photo/picture alliance
Jaring penghalang yang rusak
Di kota Alexandra, Afrika Selatan, sebuah jaring dibuat untuk menahan sampah plastik di Sungai Jukskei. Tiga orang sukarelawan dengan hati-hati menyingkirkan sampah yang menumpuk di jaring. Langkah-langkah ini menghambat sampah terbawa arus hingga ke laut, tapi tidak menghentikan sumbernya. Sampah masih menjadi tantangan - tidak hanya di Afsel, tapi juga di Indonesia, India dan di seluruh dunia.
Foto: Jerome Delay/AP Photo/picture alliance
Sebelumnya adalah pantai berpasir
Orang-orang berjalan melewati sampah plastik yang menutupi pasir pantai Badhwar Park di pesisir Laut Arab Kota Mumbai, India. India, dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa, adalah salah satu konsumen plastik terbesar di dunia. India diperkirakan menghasilkan sekitar 3,5 juta ton sampah plastik setiap tahunnya dan hanya sebagian kecil yang didaur ulang.
Foto: Rajanish Kakade/AP Photo/picture alliance
Daerah pemukiman miskin di New Delhi yang dibangun di atas sampah
Di sebuah pemukiman miskin di ibu kota India, New Delhi, nampak setiap jengkal lanskapnya dipenuhi sampah plastik. Kantong-kantong sampah mengantre untuk disortir para pengepul sebelum dijual.
Foto: Manish Swarup/AP Photo/picture alliance
Protes terus berlanjut
“Hentikan polusi plastik!”, demikian bunyi poster-poster para aktivis lingkungan di Seoul. Mereka memprotes gagalnya negosiasi perjanjian global PBB melawan sampah plastik di Korea Selatan, awal Desember lalu. Beberapa negara penghasil minyak telah menolak pembatasan produksi plastik. Perundingan kembali dilangsungkan 5-14 Agustus 2025 di Jenewa.
Foto: Jung Yeon-je/AFP
Kaos di Jakarta
Di Jakarta, tumpukan sampah plastik menumpuk di pinggir jalan dan menghalangi lalu lintas. Pada tahun 2023, Indonesia menghasilkan setidaknya 10,8 juta ton sampah plastik. Sebagian besar sampah tersebut tidak dibuang pada tempatnya. Di tahun yang sama, tercatat sekitar 359.000 ton sampah berakhir di lautan.
Foto: Dita Alangkara/AP Photo/picture alliance
Berharap dan segera beraksi
Seorang pendeta duduk di antara sampah yang ditinggalkan oleh para jemaat yang menghadiri festival “Kuse Aunsi” di kuil Gokarneshwor di Kathmandu, Nepal. Satu hal yang jelas: krisis plastik membutuhkan keputusan politik yang tegas dan pemikiran global. Tanpa adanya tindakan, plastik akan terus mencemari sungai dan lautan, mengancam kehidupan, dan mencegah masa depan yang berkelanjutan.
Foto: Niranjan Shrestha/AP Photo/picture alliance
9 foto1 | 9
Emisi plastik hanya "puncak gunung es" dari ancaman kesehatan
Para penulis menekankan bahwa mereka tidak memasukkan potensi dampak negatif mikroplastik dan nanoplastik terhadap kesehatan manusia dalam studi ini, karena belum memadainya data yang tersedia. Minimnya data juga membuat dampak bahan kimia beracun yang dilepaskan saat penggunaan produk plastik juga tidak diperhitungkan dalam studi ini.
Oleh karena itu, dampak negatif terhadap kesehatan manusia yang diperkirakan dalam studi ini tidak diragukan hanyalah puncak gunung es, menurut salah satu penulis studi, Megan Deeney, kepada DW. "Kami sudah memiliki cukup bukti, kita harus segera bertindak. Produksi plastik terus meningkat dengan cepat meskipun bukti kerusakannya sudah ada, dan pencemaran plastik meningkat pesat di seluruh dunia."
Hal ini terus terjadi meskipun telah diketahui bahwa pencemaran plastik berkaitan erat dengan masalah kesehatan planet dan manusia yang lebih luas. Studi-studi lain telah menunjukkan sejauh mana plastik memperparah risiko dan tantangan di semua batas ekologis bumi menjaga stabilitas lingkungan, tambah Deeney.
Indonesia: Bagaimana Menangani Limbah Plastik Impor?
03:26
Mengapa produksi plastik perlu dikurangi? Namun, mengapa hal itu tidak terjadi?
Menurut tim peneliti bahaya kesehatan akibat plastik yang dijelaskan dalam studi ini dapat dikurangi secara efektif dengan mengurangi produksi plastik baru. Namun, plastik tidak dapat begitu saja digantikan dengan bahan lain.
Sebaliknya, konsumsi plastik secara keseluruhan harus dikurangi, kata Deeney misalnya dengan menghentikan produksi produk plastik yang tidak perlu dan melakukan daur ulang. Sebaiknya hanya produk plastik yang "tidak memiliki alternatif" yang digunakan, sembari secara bersamaan melarang bahan kimia berbahaya dari semua material.
Dalam skenario ideal, menurut Deeney, langkah-langkah ini dan pertukaran informasi akan "diselaraskan di ranah internasional melalui perjanjian plastik global yang kuat dan mengikat secara hukum, yang turut mengatur seluruh siklus hidup plastik serta bahan kimia berbahaya di dalamnya.
Namun, perjanjian plastik internasional semacam itu gagal tercapai tahun lalu. Meskipun semua negara peserta pada KTT Plastik PBB di Jenewa 2025 sepakat bahwa sesuatu harus dilakukan terhadap jumlah sampah plastik yang sangat besar, negara-negara penghasil minyak besar memblokir kesepakatan yang juga akan mengurangi produksi plastik baru.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman