1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

080509 Russland Armeereform Euranet

8 Mei 2009

Hari Sabtu (09/05) ini, Rusia merayakan kemenangannya terhadap Nazi-Jerman pada PD II. Pasukan itu kini menghadapi reformasi terbesar dalam lebih dari 100 tahun sejarah militer, yakni dengan pemangkasan 200 000 perwira.

Militer Rusia saat perang Kaukasus tahun 2008.Foto: AP

Agustus 2008. Hanya dalam hitungan hari, pasukan militer Rusia mengalahkan militer Georgia. Ini merupakan pertempuran luar kawasan pertama yang dilancarkan Moskow, setelah runtuhnya Uni Sovyet.

Rusia kembali menunjukan kekuatannya kepada dunia internasional. Paling tidak itulah kesan pertama. Namun perang itu justru menunjukan kelemahan militer Rusia. Begitu ungkap Letnan Jendral Alexej Fomin, "Ketika pasukan ke-58 turun ke lapangan, tehnik persenjataannya rusak di jalan, dan kami tidak memiliki peralatan untuk memperbaikinya. Tingkat kesiapan tempur kami sangat buruk. Intelijen sangat lemah. Itulah sebabnya, Georgia ketika itu berhasil mengambil alih Tskhinvali.“

Pensiunan Jendral Alexej Fomin adalah direktur Ikatan Perwira Internasional Sovyet. Organisasi itu menilai bahwa rencana reformasi akan melemahkan, bahkan menghancurkan militer Rusia. Di pihak lain, para panglima Rusia saat ini menilai penting untuk mereformasi militer. Hal ini sesuai dengan pengalaman sepanjang perang Kaukasus.

Sebagai kritik ke dalam, panglima militer Jendral Nikolai Makarow menyatakan, bahwa menghadapi konflik regional, militer Rusia terlalu lamban. Rantai komandonya terlalu panjang. Kremlin telah mengeluarkan banyak dana beberapa tahun terakhir untuk membeli senjata baru. Namun tak ada perbaikan yang nyata. Pakar militer Alexander Golz menyebutkan, usai perang Georgia jelas terlihat bahwa tanpa perubahan struktur, berinvestasi dalam senjata militer saja, bagaikan buang duit ke lubang hitam yang dalam.

Perubahan paling penting pada militer Rusia nanti adalah dirumahkannya lebih dari 200 ribu perwira mulai tahun depan. Rencananya sampai 2012, militer Rusia akan dipangkas separuh, hingga berkekuatan sekitar satu juta tentara. Menteri Pertahanan Anatoli Serdjukow terutama ingin menghapus divisi kader. Ini merupakan divisi yang di masa damai terdiri dari hampir seluruhnya perwira. Sedangkan pada masa perang, anggotanya hampir semua tentara cadangan.

Menurut pakar militer Golz, selain memiliki senjata atom, kekuatan militer Rusia nantinya hanya cukup untuk mengatasi konflik regional dan lokal. Ia mengatakan, hal ini juga penting bagi politik luarnegeri, karena dengan begitu NATO tidak lagi memiliki alasan untuk memperkuat pasukan keamanan. Alexander Golz mencatat, meski pertahanan Rusia de fakto akan lebih tergantung pada senjata nuklir, NATO tidak lagi dikategorikan sebagai ancaman utama. Ia tambahkan, era perang dingin betul-betul sudah lewat. Tuturnya, "Yang menarik adalah bahwa rencana militer Rusia ke depan sebenarnya bertolak belakang dengan retorika agresif yang kadang masih terdengar dari pimpinan Rusia.“

Meski dilarang membicarakannya, rencana reformasi ini memicu gosip panas di kalangan militer Rusia. Banyak perwira yang takut kehilangan jabatannya, karena dari situlah mereka menerima jaminan sosial untuk hari tuanya.

Erik Albrecht / Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk