1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rusia dan Taliban Bantah Berita NY Times

29 Juni 2020

Menurut pejabat badan intelijen AS, Rusia tawarkan uang kepada militan yang terkait Taliban untuk bunuh tentara AS di Afghanistan. Presiden Trump sangkal, pernah dapat informasi mengenai hal itu.

Dua tentara AS di Afghanistan
Foto ilustrasi tentara AS di AfghanistanFoto: picture-alliance/Getty Images/T. Watkins

Menurut hasil penyelidikan intelijen, Rusia menawarkan uang kepada sejumlah militan yang terkait Taliban, untuk membunuh tentara AS di Afghanistan. Upaya itu dilancarkan Rusia saat AS dan Taliban mengadakan pembicaraan untuk mengakhiri perang yang sudah berlangsung bertahun-tahun.

Kesimpulan intelijen itu pertama kali dilaporan media AS, The New York Times. Setelah itu beberapa pejabat intelijen AS, yang tidak bersedia mengungkap nama, menyatakan kebenaran laporan kepada kantor berita The Associated Press (AP).

Trump nyatakan tidak dapat informasi  

Sejauh ini belum jelas, apakah Presiden Donald Trump mengetahui aksi yang dilancarkan Rusia. Para pejabat intelijen AS mengatakan kepada AP, awal tahun ini Trump sudah diberitahukan. Hal itu juga diungkap kepada The New York Times. Dua pejabat intelijen menyatakan yakin, sedikitnya seorang tentara AS tewas akibat aksi Rusia tersebut.

Trump menyangkal mendapat informasi. Lewat cuitan di jejaring sosial Twitter, Trump menyatakan, baik dirinya maupun Wakil Presiden Mike Pence tidak mendapat informasi mengenainya. Dalam cuitan hari Minggu (28/06) Trump menyatakan, ia hanya diberitahu bahwa pejabat intelijen tidak memberikan informasi kepadanya, karena mereka menganggap itu informasi yang tidak bisa dipercaya.

Badan Keamanan Gedung Putih tidak menegaskan adanya informasi tersebut. Namun badan itu mengungkap bahwa AS setiap hari mendapat ribuan laporan intelijen, dan masih harus diteliti sebaik mungkin.

Sejumlah politisi sudah menuntut kejelasan mengenai laporan tersebut. Joe Biden dari Partai Demokrat menyatakan, sangat mengejutkan jika Trump terbukti mengetahui soal tawaran Rusia tersebut, dan tidak mengambil tindakan apapun selama berbulan-bulan sehingga membahayakan nyawa tentara AS.

Rusia: "Omong kosong”

Rusia menyebut laporan tersebut "omong kosong”. Sementara seorang juru bicara Taliban mengatakan, pihaknya "menolak tudingan itu sepenuhnya”. Mereka juga mengatakan, tidak "berutang budi kepada badan intelijen dari negara manapun.''

Keterlibatan Rusia di Afghanistan bukan hal baru lagi bagi pejabat intelijen dan komando militer di negara itu. Tetapi sejumlah pejabat mengungkap, Rusia semakin agresif dalam upaya mereka untuk mengontrak anggota Taliban serta Haqqani, sebuah kelompok militan yang terkait Taliban dan dinilai sebagai organisasi teroris. Rusia juga sudah pernah dikatakan mengadakan pertemuan dengan pimpinan Taliban di Doha, Qatar, dan di Afghanistan. Tetapi tidak jelas, apakah pertemuan itu untuk mendiskusikan pembayaran untuk melakukan pembunuhan.

ml/vlz (AP, The New York Times)

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait