1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rusia-Georgia Setujui Rencana Perdamaian Sarkozy

13 Agustus 2008

Setelah perang lima hari Rusia dan Georgia akhirnya setujui enam pokok rencana yang diusulkan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy.

Nicolas Sarkozy und Michail Saakaschwili in Tiflis, Georgien
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bersama Presiden Georgia Mikheil SaakashviliFoto: AP

Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, yang saat ini menjabat sebagai ketua Dewan Uni Eropa di akhir perundingan menuturkan, ia dan presiden Rusia, Dimitry Medvedev menyetujui enam pokok rencana yang sekiranya dapat membuka perundingan perdamaian. Enam pokok rencana tersebut menolak penggunaan kekerasan, menghentikan kegiatan militer, menjamin keamanan akses bebas untuk bantuan kemanusiaan, aparat keamanan Georgia kembali ke pangkalan semula, demikian juga tentara Rusia keluar dari kawasan konflik. Sedangkan pasukan perdamaian Rusia kembali ke posisi mereka sebelum konflik dan memperoleh hak istimewa. Sarkozy memaparkan bahwa Presiden Georgia Mikheil Saakashvili pun menyetujui rencana itu. Saakashvili mengatakan, dengan demikian perundingan internasional dapat dimulai.

Sebelum bertemu dengan Presiden Perancis pemimpin staf angkatan bersenjata Rusia, Sergei Makarov, bersama menteri pertahanan Anatoli Serdjukov sudah mengeluarkan pernyataan, penempatan militer Rusia di Georgia telah berakhir.Sergei Makarov:

„Target kami tercapai. Keamanan pasukan perdamaian dan warga sipil kami sudah terjamin kembali. Penyerang sudah dihukum dan mengalami kerugian berat. Tentaranya berhasil kami hancurkan. Jika ada perlawanan atau upaya agresif lainnya, mereka harus dimusnahkan."

Kemudian Medvedev kembali menyebutkan persyaratannya:

„Pertama: tentara Georgia harus kembali ke posisi mereka sebelumnya dan sebagian tidak dilengkapi dengan senjata. Kedua: tandatangan dokumen menolak penggunaan kekerasan bersifat wajib. Perancis sedang mengupayakan hal ini."

Di satu pihak Presiden Sarkozy membela kedaulatan Georgia, namun di pihak lain ia juga mengerti posisi Rusia. Menurutnya, pemerintah Rusia hendak membela kepentingannya yakni kepentingan warga Rusia baik yang bermukim di Rusia maupun di luar Rusia.

Berdasarkan berita Georgia, Rusia kembali mengebom Georgia dan menyebabkan kepanikan. Pagi tadi kota Gori diserang oleh pesawat pembom Rusia. Namun Moskow menyangkal, telah melanggar perintah Medvedev untuk menghentikan perang. Hal ini disebutnya hanya propaganda Georgia. Menurut pihak Georgia siang ini bahkan 50 panser Rusia telah masuk ke kota Gori.

Kemarin sore di Tblisi sedkitnya 70.000 orang berdemonstrasi menentang serangan Rusia ke Georgia yang terjadi beberapa hari lalu. Berdiri di depan lautan bendera merah-putih Georgia, saat Presiden Saakashvili mengumumkan Georgia keluar dari perhimpunan negara-negara persemakmuran baru, para demonstran bersorak-sorai. Saakashvili juga menyerukan agar Ukraina dan negara lainnya mengikuti jejak Georgia. Ia menyebut Abkhazia dan Ossetia Selatan sebagai kawasan pendudukan. Dalam pidatonya, Saakashvili menuding kembali Rusialah bertanggung-jawab atas semua kehancuran di Ossetia Selatan. Mikheil Saakashvili:

„Rusia menjadikan Tshinkvali sebagai Grosny kedua."

Namun Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dengan tegas menolak untuk berunding langsung dengan Presiden Georgia Mikheil Saakashvili. Sergei Lavrov:

„Saya kira, Rusia tidak akan berunding dengan Saakashvili. Saakashvili melakukan kejahatan terhadap warga kami tanpa memikirkan konsekuensinya. Lebih baik, ia pergi." (an)